Latest News

Featured
Featured

Gallery

Technology

Video

Games

Recent Posts

Friday, May 20, 2022

Komunitas Kasih

*Umat Kristiani:*  *Komunitas Kasih*
Ada anggapan bahwa cinta kasih adalah _perasaan_ kita terhadap seseorang. Jika kita tidak suka pada seseorang, perasaan ini akan terus menguasai kita. Sekali kita tidak menyukai seseorang, sulit sekali kita dapat mengasihi dia. Banyak orang mengikuti anggapan seperti itu. Namun, pandangan ini berbeda dengan _“kasih”_ yang diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Kasih orang Kristiani bukan didorong oleh perasaan suka atau tidak suka, melainkan oleh _*dinamika hidup*_ yang kita terima dari Kristus Tuhan.
    Orang Kristiani _telah menerima kasih dan hidup Allah:_ Bapa mengasihi Yesus dan mengutus Dia untuk mengasihi kita, selanjutnya Yesus mengasihi kita dan mengutus kita untuk mengasihi sesama. _Ketika kita mengasihi_ seseorang dengan kasih yang tulus _(kasih sejati),_ itu terjadi karena kita _*digerakkan oleh kasih Allah* yang tinggal dalam diri kita dan yang bekerja melalui kita._ Kita tetap tinggal dalam kasih Kristus bila kita _*menaati perintah-Nya*_, sebagaimana Kristus menaati perintah Bapa dan tinggal dalam kasih-Nya. _Apa perintah Kristus itu?_
    Dalam perikop _Injil hari ini_ dua kali Tuhan Yesus memberi perintah yang sama: _“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi.… Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain." (Yoh.15: 12,17)._ 
    Sabda ini bukan hanya pesan, tetapi _*perintah*_. Itu berarti, di antara para murid Kristus, saling mengasihi bukanlah “sesuka hati”: bila suka, kita melakukannya; bila tidak suka, tidak melakukannya. Sebaliknya, apabila kita tahu bahwa seseorang dari keluarga Allah, kita _*harus menanggapi orang itu sebagai saudara, tidak peduli apa perasaan kita terhadapnya*_. 
    Itu tidak berarti bahwa kasih itu tanpa perasaan. Ketika mengasihi seseorang, kita _berempati,_ yaitu _ikut merasakan apa yang dialami orang itu,_ seperti nasihat Rasul Paulus: _“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Rom.12: 15)._ Menyatakan kasih dengan perbuatan lebih terasa daripada dengan kata-kata.
    Perintah Yesus selanjutnya: _“Supaya kamu saling mengasihi, *seperti Aku telah mengasihi kamu*_.” _Kasih Kristus harus menjadi *model* (teladan) untuk kasih kita._ Seperti apa kasih Yesus itu? Ia menjelaskan: _“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh.15: 12,13)._ Kasih Yesus tuntas sempurna: Ia _memberikan nyawa-Nya_ untuk kita.
    Jadi, apakah kita juga harus _*“mati* bagi sesama”?_ Dalam kasus tertentu, bisa saja begitu. Tetapi, _“memberikan nyawa”_ juga berarti _*“membaktikan hidup”* dan *berkorban* bagi sesama.”_ 
    *Idealisme* kasih Yesus itu bukanlah sesuatu yang mustahil. _Kasih itu sudah dicurahkan pada diri kita dan menjadi kekuatan hidup kita._ Perintah-Nya adalah _panggilan_ agar kita sampai pada _kepenuhan hidup_ dan _kepenuhan kasih;_ agar kita menjalani _hidup yang sebenarnya_ dan _kasih yang sejati._ Perintah itu bukan dari seorang Tuan kepada para hamba, melainkan _sharing_ antar-sahabat. _“Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” (ay. 14,15)._ 
    Yesus hendak *menanamkan kasih antar-sahabat* itu di antara para murid-Nya. _“Dengan demikian, semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh.13: 35)._ Kasih antar-umat Kristiani merupakan _*kesaksian hidup*_ bahwa kita adalah _*orang yang dikasihi dan diselamatkan oleh Allah*_. – _Sudahkah komunitasku memberi kesaksian seperti itu?_ 
    Tetapi, kasih di antara umat bukan untuk membuat kita menjadi kelompok eksklusif yang tertutup. Sebaliknya, Yesus _*mengutus kita*_ agar hidup kita _terus-menerus memberikan manfaat_ bagi semua orang. _“Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.” (Yoh. 13:16)._ *Bertolak dari komunitas Kristiani* sebagai _basis,_ kita _diutus untuk *peduli pada semua orang*, terlebih mereka yang menderita, dengan *memperjuangkan kebaikan umum dan kesejahteraan bersama*_. – _Bagaimana selama ini aku melaksanakan amanat Tuhan ini, secara pribadi dan sebagai komunitas?_ 

_*Komunitas kasih*_ itu terus tumbuh dalam Gereja Perdana, dengan segala permasalahannya, terlebih setelah Injil diwartakan kepada bangsa non-Yahudi. Dikisahkan dalam _Bacaan Pertama,_ suatu ketika warga Kristiani dari bangsa lain di Antiokhia menyampaikan keberatan mereka untuk menjalankan sunat dan mengikuti Hukum Musa. 
    Dalam _sidang di Yerusalem,_ sesudah _bertukar pikiran_ dan _mendengarkan semua pihak,_ dicapai keputusan: warga Kristiani dari bangsa Yahudi dapat menerima bahwa warga Kristiani non-Yahudi tidak diwajibkan untuk sunat. Sebaliknya, warga Kristiani dari bangsa lain di Antiokhia, Siria dan Kilikia bisa menerima empat hukum Musa: _menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah (Kis.15: 20)._ Keputusan itu disampaikan lewat dua utusan dengan membawa surat resmi. Semua gembira atas keputusan itu dan percaya bahwa itu merupakan karya Roh Kudus. _Itulah komunitas kasih, yang warganya dapat saling menerima._
    _Proses mengambil keputusan dengan mendengarkan masukan dari semua pihak ini menjadi teladan bagi setiap komunitas Kristiani, mulai dari tingkat Lingkungan, Paroki, Keuskupan, hingga *Sinode* Gereja Semesta._
_Ya Yesus Tuhan, curahkan rahmat-Mu supaya aku dapat mengasihi sesama dengan mengikuti teladan kasih-Mu. Semoga kasih-Mu yang berasal dari Bapa terpancar lewat berbagai komunitas Kristiani kepada semua orang. Amin._
Referensi:
*HARI BIASA PEKAN V PASKAH*
• Kis. 15:22-31; 
• Mzm. 57:8-9.10-12; 
• Yoh. 15:12-17.
_RS/PK/hr._
Asiiik.com

Wednesday, April 6, 2022

AKU-LAH TERANG DUNIA

*"AKU-LAH TERANG DUNIA."*

Tak terbayangkan bila penerangan PLN malam ini mati di seluruh kota! Di mana pun Anda berada pasti dalam waktu sebentar saja sudah merasa pengap dan tidak enak karena gelap. Kita mau melangkah takut menerjang meja atau barang lain. Ketakutan juga muncul. Bayangkan kalau ada seorang saja yang menyalakan satu batang korek api... wah rasanya sudah lega karena ada secercah cahaya yang mengusir kegelapan. Maka optimisme muncul untuk meneruskan kehidupan kembali.

TUHAN YESUS dalam _Perikop Injil_ hari ini telah menegaskan: _"AKU-lah Terang dunia!" (Yoh. 8: 12)._ DIA-lah Terang dunia sepanjang zaman, dari dahulu, sekarang dan masa datang.
Sebagaimana ALLAH dulu menuntun umat Israel di padang gurun dengan suatu awan yang bercahaya, demikian pula kita pada masa kini dibimbing oleh *Sang Terang dunia*, yaitu TUHAN YESUS KRISTUS, PUTERA ALLAH. DIA sendiri menegaskan: _"Barangsiapa mengikut AKU, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai Terang hidup." (ayat 12b)._ Sebab, para pengikut KRISTUS itu menerima dan mengimani DIA sebagai TUHAN dan Juruselamatnya.

Oleh Terang KRISTUS, seseorang akan menghalau kegelapan dalam hatinya. Kegelapan itu akibat dosa yang telah membelenggu jiwa kita untuk dapat melihat dan mencari kebenaran serta mengakui kesalahan kita sendiri. Memang kita sering sulit untuk mengakui kesalahan kita, bahkan kita cenderung merasa benar sendiri, walaupun sebetulnya dosalah yang jadi kabut yang menyelubungi kebenaran itu. Dengan kondisi itu kita tidak mampu membedakan antara _"yang benar"_ dan _"yang salah"!_ Untuk itu TUHAN YESUS Sang Terang Sejati dengan ROH KUDUS-NYA datang menyinari hati kita yang hitam pekat karena dosa, agar kita kembali ke jalan yang benar, dan tergerak hati kita untuk kembali kepada TUHAN, *bertobat dan percaya kepada Injil.* Sebelum memasuki Pekan Suci, sudahkah kita menyempatkan waktu pergi untuk menerima Sakramen Tobat? Inilah saat yang tepat untuk kembali mendekatkan diri pada YESUS KRISTUS, Sang Terang dunia!

_Bacaan Pertama_ dari Kitab Tambahan Daniel, berceritera tentang Susana, gadis yang sangat cantik wajahnya dan luhur budi pekertinya karena selalu diajarkan untuk takut pada ALLAH. Dia dipersunting oleh Yoyakim, seorang milyader yang kaya raya. Rumahnya yang begitu luas membuat Susana bebas berjalan-jalan di dalam taman. Tanpa disadari rupanya terdapat dua orang senior yang menjabat sebagai hakim di kota itu jatuh hati pada Susana. Mereka berhasil menyelinap di taman. Begitu besar nafsu birahinya terhadap Susana kedua hakim _"terhormat”_ itu menjadi lupa diri. Mereka mau memperkosa Susana ketika sedang berjalan di taman, tetapi ia berontak dan berteriak minta tolong. Untuk menutupi gengsinya supaya jangan dipermalukan, kedua hakim itu merekayasa perkara seolah-olah kedua hakim inilah yang memergoki Susana, ketika sedang berbuat serong dengan seorang pemuda, tetapi pemuda itu kemudian melarikan diri. Demikianlah kebenaran dan keadilan diputar-balikkan demi gengsi dan kepuasan kedua hakim tua bangka yang lupa diri itu. Tetapi untunglah TUHAN mendengarkan doa Susana dan mengutus Daniel, anak muda bijaksana, yang dipakai oleh TUHAN untuk membuat terang semua perkara yang sengaja dimanipulasi oleh pejabat yang tidak tahu diri itu. Daniel secara cerdas menegakkan kebenaran dan keadilan serta membuka watak busuk kedua hakim itu. Dan Susana luput dari hukum rajam sementara kedua hakim itu dihukum mati.

Pertanyaan reflektif: Bagaimana sikap kita bila kita mengetahui adanya rekayasa hukum yang menguntungkan _“yang kuat”_ dan menginjak _“yang kecil dan lemah”?_ Beranikah kita memohon kepada Sang Terang dunia untuk dipakai sebagai alat-NYA untuk mengusir kegelapan perkara yang sengaja direkayasa itu?

_Ya TUHAN YESUS, ENGKAU-lah Terang dunia, sinarilah hatiku yang hitam pekat karena dosa dan kelemahanku, agar aku jadi anak-anak Terang yang senantiasa memancarkan Kasih dan Damai-MU. Pakailah aku sebagai alat-MU untuk menerangi kegelapan dalam hidup ini. Amin._

Bacaan:
*Hari Biasa Pekan V Prapaskah :*
• T. Dan. 13: 1-9, 15-17, 19-30, 33-62 _(panjang)_ atau TDan. 13: 41c-62 _(singkat);_
• Mzm. 23: 1-3a, 3b-4, 5, 6;
• Yoh. 8: 1-11 atau Yoh. 8: 13-20 _(Krn.Yoh. 8: 1-11 
_PK/hr._

ULAR TEMBAGA LAMBANG SALIB KRISTUS

*ULAR TEMBAGA LAMBANG SALIB KRISTUS.*

Walaupun bangsa Israel telah diangkat menjadi bangsa terpilih dan dibimbing langsung oleh ALLAH sendiri lepas dari penjajahan Mesir, namun mereka masih tetap saja keras kepala, tegar tengkuk, semaunya sendiri dan suka mengeluh bila menemui kesulitan  dan berbagai rintangan. Mereka gampang melupakan berbagai anugerah dan Rakhmat ALLAH yang telah melimpah dalam diri bangsa itu. Bahkan mereka berani protes kepada ALLAH dan Musa, utusan-NYA: _"Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini, kami telah muak.” (Bil. 21: 5)._ Karena ulah mereka yang memberontak dan sudah keterlaluan melawan ALLAH, maka ALLAH mendatangkan ular tedung untuk memagut mereka. Dan bisa ular itu cepat mematikan para pemberontak ALLAH itu.
Melihat gelagat yang memburuk itu, berpaling dan bertobatlah mereka. Mereka mohon kepada Musa agar ALLAH menghentikan amarah-NYA. ALLAH itu Maha Pengasih dan Pengampun, maka diperintahkanlah Musa untuk membuat _"ular tedung dari tembaga”_  dan menggantungkannya di tempat terbuka; _“maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.” (ayat 8, 9)._

Mengapa justru ular tembaga yang tergantung di sebuah tiang? Padahal ular pada saat itu menurut kepercayaan _“kafir”_ dipercaya sebagai korban yang dipersembahkan kepada _“dewa penyembuh.”_ Dan pesan apa yang mau disampaikan oleh Kitab Suci ini atas _“tanda profetis”_ dari TUHAN sendiri itu? *_“Ular tembaga yang tergantung di tiang”_ adalah simbol dari Salib TUHAN kita YESUS  KRISTUS.* Sebagaimana orang-orang Yahudi yang dipagut ular dan memandang _“patung ular”_ itu, maka ia tetap hidup. Para pendosa tidak perlu mengikuti suatu peraturan yang ketat. Mereka cukup memandang kepada tanda yang ALLAH berikan untuk penyembuhan disertai dengan iman. YESUS pernah bersabda: _"Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga ANAK MANUSIA harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-NYA beroleh hidup yang kekal.” (Yoh.3: 14,15)._ Maka pada saat ini orang-orang yang  percaya kepada KRISTUS, meyakini bahwa *KRISTUS YESUS adalah satu-satunya Penyelamat dunia.* Jadi keselamatan hanya berasal dari ALLAH bukan dari yang lain.

Jujur saja, kita pun sering bersikap seperti bangsa Israel yang selalu tidak puas akan Rakhmat TUHAN. Sedikit-sedikit mengeluh, kecewa dan cari kambing hitam serta _memprovokasi_ orang lain untuk protes, demo dan berontak kepada pembuat aturan atau para pejabat publik. Mengeluh karena udara sangat panas, karena kemacetan yang parah, karena fasilitas kurang, karena gagal dalam ujian, karena doanya tidak/belum terkabul, karena porsinya sedikit dan berbagai keluhan lain. Orang yang gampang mengeluh dan marah-marah serta selalu protes kalau tidak terpenuhi maksudnya, biasanya orang itu sulit untuk mawas diri atau mengadakan introspeksi dan bahkan jarang atau tidak pernah bersyukur atas kondisi yang dinikmatinya itu. Dia enggan melihat bahwa masih banyak lagi orang lain yang kondisinya jauh lebih buruk lagi dari pada dirinya. Kalaupun memang ada kekurangan, kiranya hal itu dapat diupayakan dan disarankan dengan lebih santun dan bijak, bukan dengan menebarkan ujaran kekecewaan dan kebencian.

Orang yang selalu tidak puas dan suka mengeluh terus berarti kurang mengalihkan pandangannya kepada Salib KRISTUS, Sang Penyelamat, yang sudah merendahkan Diri serendah-rendahnya bahkan seperti sudah kehilangan _“harga Diri-NYA”_ sebagai manusia biasa. Pernahkah kita merenungkan dengan tenang, bahwa YESUS yang kita puji dan sembah itu adalah Orang yang dirampas hak-hak-NYA, dipermalukan di depan umum dengan dilucuti pakaian-NYA dan digantung serta dihukum mati secara keji dan hina seperti seorang penjahat ulung? *DIA itu PUTERA ALLAH, Penguasa Alam Semesta!* Lalu siapakah diri kita? Lebih hebat dan lebih tinggi dari pada YESUS KRISTUS?

Mendekati Pekan Suci pada masa Prapaskah ini, marilah kita berpaling dan memandang KRISTUS, Sang Penyelamat, yang tersalib itu! Kita tinggalkan kebiasaan buruk kita dan berpaling kepada-NYA. Kita sesali dosa dan kesalahan kita, agar kita tidak _"mati dalam dosa”._ Maka untuk itu kita bertobat dan memperbaharui iman kita kepada KRISTUS Yang Tersalib itu, karena seperti Sabda TUHAN: _“sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa AKU lah DIA, kamu akan mati dalam dosamu.” (Yoh. 8: 24)._
Kita imani dan yakini bahwa YESUS turun ke dunia ini karena diutus oleh BAPA-NYA sendiri. _“DIA, yang mengutus AKU, adalah benar, dan apa yang KU-dengar dari pada-NYA itu yang KU-katakan kepada dunia... Apabila kamu telah meninggikan ANAK MANUSIA, barulah kamu tahu, bahwa AKU-lah DIA, dan bahwa AKU tidak berbuat apa-apa dari Diri-KU sendiri, tetapi AKU berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan BAPA kepada-KU.” (ayat 26, 28)._ Agar kita tidak _"mati dalam dosa”,_ marilah kita teguhkan iman dan kepercayaan kita kepada KRISTUS, Utusan ALLAH, yang telah menyelamatkan umat manusia!

_Ya BAPA, ampunilah dan kasihanilah aku yang sering mengeluh dan melawan ENGKAU serta bersikap keras kepala kepada-MU. Teguhkanlah imanku. Sertailah setiap langkahku agar senantiasa berkenan dan sesuai dengan Kehendak-MU. Amin._
Bacaan:
  *Hari Biasa Pekan V Prapaskah :*
• Bil. 21: 4-9; 
• Mzm. 102: 2-3, 16-18, 19-20;  
• Yoh. 8: 21-30.
_PK/hr._

KEBENARAN DAN KEBEBASAN

*KEBENARAN DAN KEBEBASAN.*

_Perikop Injil_ hari ini, menampilkan pembicaraan yang seru antara TUHAN YESUS dan orang-orang Yahudi. Topik hangat yang mereka diskusikan adalah mengenai *kebenaran yang memerdekakan, atau tentang kebenaran dan kebebasan.* TUHAN YESUS menegaskan: _"Jikalau kamu tetap dalam Firman-KU, kamu benar-benar adalah murid-KU, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh. 8: 32,33)._ Orang-orang Yahudi merasa heran karena mereka merasa bahwa mereka adalah anak-anak keturunan Abraham, orang merdeka bukan keturunan budak.
Benar mereka bukan budak yang diperjual belikan, tetapi perhatikan satu pernyataan penting di bawah ini:

Satu penegasan yang penting dari YESUS: _“Sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.” (ayat 34)._ Berarti kalau kita masih diliputi banyak dosa, maka kita masih terbelenggu dan jadi _*“budak dosa”,*_ sekalipun kita ini termasuk _"orang bebas"_ dan bukan _"budak belian"._ Dengan kata lain, dengan berbuat jahat orang menjadi teman iblis, dan bahkan tanpa menginginkannya, masuk dalam perangkapnya. Dengan demikian, ia tidak sanggup lagi membebaskan diri dari ilusi dan pengaruh yang merugikan, yang digunakan oleh _"bapak kebohongan”_ alias iblis untuk menaklukkan dunia di bawah kekuasaannya. Dan *selama kita diam atau tidak berbuat apa pun, maka kita tetap jadi budak kejahatan itu.*

Sebaliknya, *orang yang setia akan Firman-NYA adalah orang merdeka, orang bebas, tidak dalam status _“budak/hamba”_ dosa! Maka orang merdeka adalah mereka yang dengan kebebasan hati melakukan sesuatu seturut hati nuraninya - _tanpa ada paksaan_ - karena yakin bahwa hal itu baik, benar dan dikehendaki TUHAN.* YESUS menginginkan agar para murid-NYA menjadi orang-orang merdeka, bebas dari belenggu dosa dan sungguh berserah diri kepada-NYA.

Masa Prapaskah adalah momentum yang tepat untuk menanggalkan segala belenggu dosa yang masih mengikat kita, agar kita menjadi orang merdeka seratus prosen! Masa ini adalah saat yang terindah bagi kita untuk memperbaharui kesetiaan kita kepada TUHAN. Bersediakah kita? Kalau demikian, pergilah bertobat melalui Sakramen Tobat!

_Bacaan Pertama_ menceritakan kisah heroik ketiga pemuda saleh yaitu Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Mereka dihadapkan pada pilihan yang sulit: Mereka harus memilih menuruti perintah Raja Nebukadnezar untuk menyembah patung dewa berhala yang dibuat oleh Raja, dan itu berarti hidup mereka _“bebas”, “merdeka”_ dan _“selamat”,_ atau menolaknya tetapi tungku perapian yang menyala-nyala sudah siap membakar mereka. Tanpa ada keraguan lagi mereka menolak perintah itu. *Mereka bertahan dalam iman mereka akan ALLAH yang mereka yakini akan menolong mereka.* Mereka memilih tindakan yang baik, benar dan dikehendaki TUHAN, meskipun harus ditebus dengan hukuman bakar hidup-hidup. Berkat kesetiaan mereka itu, maka TUHAN akhirnya menyelamatkan hidup mereka. Selain itu, raja Nebukadnezar yang masih _"kafir"_ itu akhirnya mengakui ALLAH Israel karena DIA telah berhasil menyelamatkan tiga pemuda yang dihukum bakar itu.
Kata Raja itu: _"Terpujilah ALLAH-nya Sadrakh, Messakh dan Abednego! IA telah mengutus Malaikat NYA dan melepaskan hamba-hamba-NYA yang telah menaruh percaya kepada-NYA dan melanggar titah Raja..." (Dan. 3: 28)._
Bahkan Raja memerintahkan setiap orang agar tidak menghina ALLAH nya ketiga pemuda itu. Kalau ada yang melanggar, akan dipenggal kepalanya!

*Sikap setia akan iman dan tetap memilih menjadi orang merdeka yang sejati dalam TUHAN, ini pantas menjadi teladan bagi seluruh pengikut KRISTUS.* Sanggupkah kita untuk tetap setia secara konsisten?

_Ya TUHAN, syukur dan terima kasih atas Kasih-MU yang membebaskan aku. Semoga aku senantiasa KAU kuatkan, mana kala aku tergoda berbagai iming-iming duniawi yang akan menggoyahkan iman dan kesetiaanku kepada-MU. Amin._
Bacaan:
*Hari Biasa Pekan V Prapaskah :* 
• Dan. 3: 14-20, 24-25, 28; 
• Mzm. Tnggpn TDan.3: 52 - 56; 
• Yoh. 8: 31-42.
 
_PK/hr._

Friday, February 4, 2022

POLA PIKIR SUBYEKTIF YANG A PRIORI

 *POLA PIKIR SUBYEKTIF YANG A PRIORI.*

_“AKU berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” (Luk. 4: 24),_ demikian kata TUHAN YESUS di sinagoga di Nazaret pada suatu hari Sabat. Justru di kampung-NYA sendiri itu, YESUS yang disanjung dan dipuja-puji di Kapernaum dan tempat-tempat lain, telah mengalami penolakan. Hal ini bisa terjadi, karena orang-orang sekampung-NYA itu - _dan hampir sebagian besar di antara kita juga pada zaman sekarang_ - kecenderungannya suka menilai orang lain hanya atas dasar luarnya saja, entah itu penampilan pisik, cara bicara dan kalau zaman kini kendaraan yang digunakan atau assesoris yang melekat dalam tubuhnya atau berbagai gelar yang terpampang dalam kartu namanya. Semula orang-orang sekampung-NYA itu mengangguk-anggukkan kepalanya, _“semua orang itu membenarkan  DIA dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-NYA.” (ayat 22a)._ Tetapi, begitu menyelinap dalam otak mereka suatu memori yang membekas dalam diri mereka bahwa latar belakang DIA itu _“hanya”_ anak tukang kayu, maka mulai tertutuplah hati mereka! _“Bukankah IA ini anak Yusuf?”_ begitu kata mereka dengan nada sinis. _(lihat ayat 22b)._

*_Dengan pola pikir subyektif a priori yang serba penuh buruk sangka ini, maka hati mereka tertutup akan realitas yang tersembunyi dalam Diri YESUS dan juga akan tanda-tanda ajaib yang telah dibuat-NYA di tempat lain._* Memang segala bentuk pikiran yang dijejali oleh buruk sangka, baik menyangkut pendidikan, latar belakang orangtua atau daerah asal maupun bidang pekerjaan seseorang, sering kali menyesatkan. Tetapi ironinya itulah yang dianggap sebagai  _“kebenaran”_ pada zaman sekarang. Dan _“kebenaran yang sesat”_ inilah yang sering berseliweran dalam dunia medsos!
*_Kepicikan pola pikir membentuk seseorang menjadi “fanatik, arogan, merasa benar sendiri, tidak mau mengakui dan tidak mau melihat prestasi orang lain dan cenderung suka menyalahkan orang lain serta selalu cari kambing hitam”._*  Pola pikir sejenis ini tidak hanya menjangkiti   _“orang-orang kampung dari Nazaret yang sok tahu”,_ melainkan juga _“kaum elite dan terpelajar kaum Farisi, Imam-imam dan para ahli Taurat”! *Situasi yang mirip dengan 2000 tahun lebih itu pun itu masih terjadi pada zaman millenial saat ini!* Berbagai kebohongan dan berita fitnah serta "hoax"_ dianggap sebagai _"kebenaran" karena mempunyai 'follower" yang banyak!_

Itulah yang menyebabkan pula para nabi, TUHAN YESUS dan para Rasul mengalami tantangan berat itu. Nabi Yeremia yang dipanggil dan diutus TUHAN _“sejak dalam rahim ibunya telah ditetapkan menjadi nabi bagi bangsa-bangsa” (lihat Yer. 1: 5)_ juga mendapat tentangan dan penolakan dari para penguasa dan rakyatnya. *_Tetapi ALLAH tidak membiarkan orang pilihan-NYA itu berjuang sendirian. TUHAN akan terus menyertai setiap orang yang dipanggil-NYA dan berusaha keras menjalankan misi perutusan-NYA serta menjanjikan ganjaran bagi siapa pun yang tetap setia sampai akhir._*

Kita pribadi masing-masing juga mendapatkan panggilan serta misi perutusan sesuai dengan talenta atau bidang tugas yang menjadi kesibukan dan perhatian kita sehari-hari. *_Kiranya semua itu dapat kita jalankan secara benar, adil, jujur, konsisten dan konsekuen._* Memang pasti akan selalu muncul banyak tentangan, penolakan, ancaman atau berbagai godaan. *_Jangan takut! Jangan khawatir dan jangan gentar!_*, demikian pesan TUHAN kepada Nabi Yeremia dan setiap nabi yang telah dipilih-NYA, juga kepada para Rasul dan kepada kita masing-masing pesan itu tetap berlaku!

Untuk itu kita harus menjalani panggilan serta misi perutusan kita *_berlandaskan pada kasih: kasih kepada TUHAN dan kepada sesama kita._* _*Inilah sumber kekuatan dan sumber energi batin kita!*_ _Hidup, karya dan segala pengorbanan kita akan sia-sia tak berguna, bila tidak berdasar pada kasih! (lihat 1Kor. 13: 1-3)._ _“Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku” (1Kor: 13: 3)._ Rasul Paulus menegaskan kasih itu secara rinci: _“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. ....Kasih tidak berkesudahan.." (ayat 4-10)._ Bahkan _*di antara iman, pengharapan dan kasih, ... ”yang paling besar di antaranya ialah kasih”* (ayat 13)._ Apa sebenarnya makna kasih itu dalam pengalaman hidupku?

_Ya YESUS, Sumber Kasih, ajarilah aku untuk mengasihi-MU dan sesamaku. Ampunilah aku karena sering menilai sesamaku secara sempit menurut pikiranku yang picik. Berilah aku Terang ROH KUDUS-MU, agar aku dapat memilih dan memilah: mana yang benar, baik dan berkenan pada-MU. Amin._

Catatan Bacaan:
• Yer. 1: 4-5, 17-19;
• Mzm. 71: 1-2.3-4a.5-6ab.15ab.17; 
• 1Kor. 12: 31 - 13: 13
  (1Kor. 13: 4-13); 
• Luk. 4: 21-30.
_PK/hr._
_*Renungan Canggih Untuk Kehidupan*_

MENGAPA KAMU BEGITU TAKUT?

*"MENGAPA KAMU BEGITU TAKUT?"*

Kecerobohan dalam bertindak dapat berakibat fatal dalam hidup ini. Seorang yang membuang puntung rokok sembarangan, dapat menimbulkan kebakaran yang menelan kerugian bagi banyak orang. Raja Daud yang sangat disayang ALLAH hidupnya dipenuhi oleh anugerah yang berlimpah. ALLAH telah mengurapinya menjadi Raja Israel dan meluputkan nyawanya dari ancaman Raja Saul. Dan ketika ia mulai memerintah, ALLAH melimpahkan kekayaan termasuk isteri-isteri Saul ke dalam pangkuannya. Tetapi ia masih saja selingkuh dengan Batsyeba, isteri bawahannya sendiri. Bahkan dengan licik, raja memerintahkan Uria, suami Batsyeba ke medan perang untuk mengalahkan bani Amon. Tetapi akhirnya Uria mati terbunuh dan banyak perajurit Israel yang menjadi korban di medan peperangan yang mirip neraka itu. _“Hal yang dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN.” (2 Sam. 11: 27c)._

Namun, ALLAH itu Mahabaik, Maharahim dan Maha Pengampun! Meskipun IA telah dihina oleh perbuatan jahat Daud, IA masih mengirim Nabi Natan untuk memperingatkan Daud. Dan dengan halus Nabi menyindir raja dengan suatu cerita tentang seorang kaya raya yang mengambil domba seorang miskin untuk disembelih dan disuguhkan kepada tamunya. Raja sangat keras reaksinya setelah mendengar cerita itu dan hendak membunuh orang kaya itu. Ternyata itu hanya cerita sindiran saja dan orang kaya itu adalah dirinya sendiri yang telah tega membunuh Uria melalui perang dan terus memperisteri Batsyeba. Daud segera sadar dan sangat menyesali dosanya serta langsung bertobat. Sebagai silih akan dosanya, ia melakukan puasa dan tidur di lantai. ALLAH memang mengampuninya, tetapi ia tetap harus menanggung akibat dosanya itu. Anak hasil hubungan gelap dengan Batsyeba akhirnya mati. Dan karena ia membiarkan Uria mati oleh pedang, maka keturunan Daud juga tidak akan luput dari pedang untuk selamanya. *_Pertobatannya ini yang membentuk dia menjadi pribadi yang rendah hati dan tetap disayang oleh TUHAN_* hingga ia menjadi Raja Israel yang terkenal selama 40 tahun. Pengakuan dosanya itu terdapat dalam _Mazmur 51._
Apakah kita juga segera menyadari kesalahan dan dosa kita serta bertobat pada TUHAN, setiap kali kita jatuh ke dalam dosa?

Perikop _Injil hari ini_ berkisah bahwa para Rasul bingung dan ketakutan ketika tiba-tiba terjadi angin ribut yang dahsyat menimpa perahu yang mereka tumpangi, hingga air masuk memenuhi perahu mereka. Saat itu mereka akan pergi menyeberangi danau Galilea. Dan di buritan kapal YESUS masih tertidur pulas. _“Guru, ENGKAU tidak peduli kalau kita binasa?”_ demikian mereka membangunkan YESUS. _(Mrk. 4: 38)._ YESUS segera bangun dan memerintahkan angin ribut itu: _"Diam! Tenanglah!"_ Maka tenang dan redalah kembali air di danau itu _(ayat 39)._ Lalu IA menegur keras para murid-NYA: _“Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (Ayat 40)._ Padahal mereka itu nelayan profesional yang seharusnya sudah hafal dan biasa mengalami angin ribut! Maka _"mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: 'Siapa gerangan Orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada- NYA?'" (ayat 41)_

Teguran-NYA kepada para murid itu pada saat sekarang ini juga ditujukan kepada kita, bila kita cepat panik, bingung dan ketakutan setiap kali menghadapi badai kehidupan yang menimpa. Jika para murid menjadi ketakutan hal itu bisa dimaklumi karena mereka belum terlalu mengenal YESUS itu siapa sebenarnya. Tetapi bagaimanakah dengan diri kita? Bukankah kita sudah lama menjadi pengikut-NYA? Bukankah kita seharusnya lebih mengenal-NYA? Masihkah kita tidak yakin, bahwa TUHAN YESUS itu selalu ada di dekat dan di samping kita? Mengapa kita selalu panik dan bingung, hai orang-orang yang kurang beriman?

Hari ini Tarekat imam SVD _(Serikat Sabda ALLAH)_ dan beberapa kongregasi suster seperti SSpS _(Suster Misi Abdi ROH KUDUS),_ SSpSAP _(Kongregasi Abdi ROH KUDUS Adorasi Abadi),_ CIJ _(Kongregasi Suster Pengikut YESUS)_ dan PRR (Puteri Reinha Rosari) merayakan pesta Pelindung Tarekat, *Santo Yosef Freinademetz* (1852-1908), seorang misonaris SVD yang mengabdikan seluruh hidupnya di negeri Cina. Ia sangat rajin menebarkan benih-benih Firman- NYA sampai ke pelosok-pelosok. Ia menyatu dengan penduduk Cina dengan penguasaan bahasa dan budaya Cina. Karena gigih membela umatnya dari rongrongan kaum revolusioner, ia ditangkap dan disiksa dengan kejam. Penderitaannya tidak mengendorkan semangatnya untuk mewartakan Injil. Ia terus saja mengajar dan berkotbah serta mempertobatkan banyak orang pribumi. Karena keberhasilan dalam karya kerasulannya, ia mau diangkat menjadi Uskup, tetapi ia menolaknya dengan halus. Ia akhirnya meninggal karena sakit typus.

_Ya YESUS, ampunilah aku yang sering melukai Hati-MU dengan dosa-dosaku. Tegurlah aku agar aku benar-benar sadar dan menyesali dosaku serta bertobat._ _Tambahkanlah imanku agar aku jangan cepat panik dan  takut bila menghadapi badai permasalahan hidupku ini. St. Yosef Freinademetz, doakanlah kami. Amin._

Catatan Bacaan: 
• 2 Sam. 12: 1-7a. 10-17; 
• Mzm. 51: 12-13, 14-15, 16-17; 
• Mrk. 4: 35-41.
_PK/hr._
_*Renungan Canggih Untuk Kehidupan*_
*Asiiik.com*

BERSYUKUR DAN BERTANGGUNG JAWAB

*BERSYUKUR DAN BERTANGGUNG JAWAB.*

Dalam _Bacaan Pertama,_ kita dapat merenungkan ucapan dan rasa syukur yang disampaikan Raja Daud yang tersohor itu. Ia pun dengan rendah hati mengakui di hadapan ALLAH: _"Siapakah aku ini, ya TUHAN ALLAH, dan siapakah keluargaku, sehingga ENGKAU membawa aku sampai  sedemikian ini?" (2Sam. 7: 18)._ Jika dikaji secara manusiawi, wajarlah kita katakan bahwa sudah sepantasnya Daud bersyukur, karena TUHAN memang sangat baik kepadanya dan keluarganya. Daud dijadikan raja bangsa terpilih. Diberikan-NYA anak-anak, isteri - bahkan sempat _"merampas"_ isteri Uria, panglima perangnya - keluarga, ketenaran, kehormatan, dan pasti tiada terhitung berbagai harta dan kenikmatan duniawi. Jika Daud tidak bersyukur, itu berarti keterlaluan!

Rasa syukur adalah _"obat dan pengendali kerakusan!" *Melatih diri untuk selalu bersyukur berarti melatih diri untuk bersikap rendah hati dan menetapkan batas-batas tindakan kita.*_ Coba lihat saja para koruptor serakah yang tidak lagi mengenal batasnya, karena menuruti nafsu ingin _"jor-joran"_ sehingga mereka menularkan korupsi itu kepada keluarganya, dengan mentransfer uang negara itu ke isteri, anak, adik, keponakan dan orang-orang kepercayaannya. Maka tidak mengherankan bila korupsi saat ini _"berjamaah"_ bersama anak-isteri dan kolega kerjanya!

Daud selalu bersyukur dan lebih dari itu ia mohon berkat atas keluarganya. Bagaimana kita sendiri? Apakah kita senantiasa tetap mau bersyukur, juga apabila belum tercapai kondisi yang kita inginkan atau bahkan mengalami kegagalan?

Ingatlah, bahwa rasa syukur bagai minyak yang menyalakan sumbu pelita hati, sehingga wajah kita memancarkan cahaya berseri-seri, menularkan kegembiraan dan terang bagi dunia!

Kitab Suci sering menggunakan cahaya dan pelita sebagai suatu simbol yang dapat memiliki beberapa tafsiran. Dalam masyarakat kuno, pelita mempunyai fungsi vital! Walaupun kecil, pelita dapat menerangi tempat yang lebih luas, dapat membuat orang melihat, melakukan aktivitas tertentu. Maka TUHAN YESUS berpesan dalam Bacaan _Injil hari ini,_ supaya pelita itu tidak disembunyikan di bawah tempat tidur, melainkan diletakkan di atas meja supaya bisa menerangi sekelilingnya. _(lihat Mrk. 4: 21)._
Bagi orang Yahudi _*cahaya mengekspresikan keindahan, kebenaran dan kebaikan ALLAH.* "Firman-MU itu pelita bagi kakiku, dan terang bagi jalanku." (Mzm. 119: 105)._

_*Iman Kristiani kita adalah cahaya bagi dunia,*_ bagaikan suatu pelita yang tidak disembunyikan di bawah gantang atau tempat tidur, melainkan harus ditaruh di atas kaki dian, hingga cahayanya bisa menerangi lingkungannya dan semua orang menikmatinya. Demikian juga Firman ALLAH jangan diisimpan dalam diri sendiri saja, melainkan harus disiarkan, disebarluaskan, diwartakan. Iman yang kita terima, pengetahuan dan penghayatan kita tentang YESUS tidak disimpan rapat menjadi harta diri sendiri, melainkan harus kita _share (bagikan)_ kepada orang-orang sekitar dan masyarakat kita bukan hanya berupa kata-kata saja tetapi _*terutama terwujud dalam peri laku dan tindakan yang jujur, murni, terpuji, mau berkorban, berani bertanggung jawab dan patut diteladan.*_ Kita harus dapat memengaruhi dan menggarami masyarakat kita bukan terutama untuk _"dikristenkan",_ atau _"dibaptis"_ melainkan untuk membawa mereka kepada _*kebaikan, kebenaran, keadilan, kejujuran, kedamaian dan kesejahteraan.*_ Singkat kata, masyarakat kita juga harus dapat menikmati cinta kasih ALLAH seperti yang telah kita peroleh. _*Menjadi pengikut KRISTUS tidak cukup hanya jadi orang baik atau suci untuk diri sendiri, melainkan harus bisa menjadi pelita dan terang bagi masyarakat melalui tutur kata dan tindakan-tindakan atau perbuatan dan aksinya.*_ Cobalah buktikan bukan untuk pamer, melainkan _*sebagai tanda syukur kepada-NYA!*_

Ciri kedewasaan seseorang antara lain ditandai oleh sikap yang _*bertanggung jawab.*_ Tanggung jawab adalah salah satu keutamaan yang penting dimiliki oleh seorang dewasa.

Dalam perikop _Injil hari ini,_ TUHAN YESUS  antara lain bersabda: _“Karena, siapa yang mempunyai kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” (ayat 25)._ Dalam ayat ini terkandung _*arti pentingnya bertanggung jawab terhadap kepercayaan dan pemberian TUHAN kepada kita, berupa talenta serta anugerah lainnya.*_ Kita telah menerima banyak anugerah-NYA dalam kehidupan ini secara cuma-cuma. Karena itu, sudah selayaknya kita perlu kembangkan semua anugerah, rakhmat, berkat dan bakat yang kita miliki semaksimal dan sebaik mungkin. Hal ini bukan untuk kepentingan pribadi semata, tetapi terutama untuk kepentingan orang lain atau kepentingan sosial.

Beriman juga  menuntut suatu pertanggung-jawaban: _*tanggung jawab untuk setia tetap mempertahankan, mengembangkan, menghayati dan membuktikan iman itu secara nyata dalam setiap perilaku kita.*_ Sebab, _“jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yak. 2: 17)._

Sekalipun manusia diberikan kebebasan penuh untuk memilih dan menentukan sesuatu, namun dalam hal beriman, kita tidak dapat mengatakan bahwa _“iman adalah urusan pribadiku”_ saja! _*Iman kita juga beraspek sosial, dan memang demikianlah hakikatnya kita adalah makhluk sosial.*_ Karena itu, tidak ada gunanya sama sekali jika kita hanya terkungkung terus dalam _“egoisme”_ kita saja! Hidup kita harus dapat _“berbuah”_ dan bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri semata tetapi untuk orang lain, terutama bagi mereka yang memerlukan perhatian dan bantuan kita.

_Ya TUHAN, seperti Raja Daud, aku juga mau menghaturkan syukur dan terima kasih atas limpahan Rakhmat-MU kepadaku, keluargaku, komunitasku dan sanak keluargaku. Aku mohon kiranya ROH KUDUS-MU tetap menyertaiku hingga hidupku dapat menjadi terang, cahaya dan teladan bagi sekelilingku dan masyarakatku. Amin._

Catatan Bacaan:
• 2Sam. 7: 18-19. 24-29;
• Mzm. 132: 1-2. 3-5. 11. 12. 13-14;
• Mrk. 4: 21-25.
_PK/hr._
_*Renungan Canggih Untuk Kehidupan*_
Videos