Usaha Narasi Yang Sangat Mengsyikkan, Yaaa Asiiik Sekali Virus Corona Tidak Bisa Diabaikan

Gbr Ilustrasi Saja
*Narasi Yang Sangat Mengsyikkan,* *Yaaa Asiiik Sekali Virus Corona* 
Tidak Bisa Diabaikan
*"Betapa mengenaskah melihat orang yang kita kenal satu-persatu berguguran. Bahkan, tidak jarang kejadian mengenaskan ini terjadi secara berjamaah, yakni menjadi korban virus yang kita tidak tahu wujudnya seperti apa tapi begitu ganas dan mematikan."*

Virus Corona, pada kenyataannya tidak bisa diabaikan atau dianggap main-main, Virus yang muncul kapan saja, di mana saja, antara ada dan tiada, tiba-tiba menerjang setiap saat dengan tanpa mengenal siapa, di mana, dan mengapa.

Termasuk yang menjadi korban serangan adalah orang-orang yang begitu tulus menolong korban Covid. Virus ini juga menyerang para relawan dan komunitas jamaah Mesjid yang sedang giat-giatnya menekuni nilai-nilai agama. 

Bahkan, menyerang juga petugas medis seperti dokter dan perawat. Padahal, merekalah yang berada di garis depan melawan teroris berupa virus yang tidak jelas wujudnya, serta tidak jelas dari arah mana datangnya. Merekalah yang menjadi panglima yang  gugur terkena bom corona. 

Alur cerita menjadi menarik, karena penulis merangkai bagian demi bagian lainnya yang dibungkusnya menjadi kesatuan makna yang  disampaikan dengan bahasa yang menarik dan komunikatif.
 
Sudah setahun lebih pandemi virus corona yang dikenal dengan sebutan Covid-19 menyerang secara meluas di Indonesia. Virus yang konon berasal dari Wuhan China, menyebar ke seluruh penjuru dunia. 

Banyak sektor yang terkena imbas dari pandemi virus ini. Berbagai dampak bermunculan dan sekaligus berakibat fatal, terutama bagi kelas menengah yang rapuh dan rentan dimiskinkan oleh pandemi ini. 

Terjadi pula korban PHK, di mana-mana, berlanjut dengan himbauan Sosial distancing dan Work from Home, serta pembatasan social berskala besar, yang mengakibatlan warga kesulitan mengakses fasilitas kesehatan, terancam krisis pangan, dan kehilangan mata pencaharian.
 
Dengan dihentikannya aktivitas dan mobilitas para pekerja atau buruh kecil, ditutupnya sekolah dan Perguruan tinggi untuk digantikan dengan sistem belajar-mengajar secara virtual, serta ditutupnya berbagai perusahaan maupun tempat-tempat hiburan dan pariwisata, ekonomi Indonesia nyaris terpuruk. 

Merebaklah berbagai modus penipuan, seperti menggunakan hand phone mengatasnamakan nama-nama personal, menipu dengan dalih pinjam uang, maupun minta bantuan karena terdesak musibah kecelakaan atau sakit keras. Selain melaui media selular Hand phone, para penipu tersebut kadang langsung menelpon ke rumah, dengan modus anaknya kecelakaan atau ditanggkap polisi karena kasus kenakalan remaja agar segera menstrafer sejumlah uang.

Sektor yang paling tertekan akibat wabah virus Covid-19, adalah rumah tangga, pedagang kecil yang biasa menjajakan makanan—di depan sekolah-sekolah, kampus, atau kantor-kantor, para pekerja jasa angkutan seperti ojek dan angkutan kota dan bis umum. 

Pandemi juga berdampak pada bisnis catering karena tidak adanya helatan pesta perkawinan atau berbagai event di gedung, hotel, kantor, atau lembaga-lembaga. Ini semua masih ditambah dengan derita dan keluh kesah  para  ibu kost yang nyaris semua kamarnya kosong hingga tidak ada pemasukan uang, karena para penyewa kamar (terutama mahasisa), pulang kampong akibat kuliahnya dilaksanakan secara daring.

Nyaris pertumbuhan ekonomi pun mengalami kontraksi cukup besar. Sektor rumah tangga mengalami tekanan dari sisi konsumsi, karena masyarakat lebih banyak beraktivitas di dalam rumah, sehingga daya beli menurun dikarenakan banyak masyarakat yang kehilangan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, terutama masyarakat miskin. 

Dengan adanya anjuran pemerintah untuk di rumah saja, banyak orang enggan beraktivitas di luar rumah sehingga beberapa sektor jasa dan pedagangan mengalami kebangkrutan.

Di awal kemunculannya, virus Corona  mendapat beragam respons dari masyarakat Indonesia. Sebagian mulai berhati-hati dan menerapkan pola hidup sehat, tetapi banyak yang tidak peduli dan terkesan meremehkan. Bahkan, ada juga yang menjadikan virus tersebut  sebagai bahan candaan. 

Bukan hanya masyarakat biasa, para pejabat pun banyak yang meremehkan keberadaan virus Corona sehingga sama sekali tidak melakukan persiapan maupun antisipasi terhadap wabah ini. 

Bahkan ketika COVID-19 mulai menyebar dengan cepat ke berbagai daerah—beberapa negara telah menutup akses keluar masuk—pemerintah dan warga Indonesia masih terkesan santai dan kurang melakukan tidakan pencegahan terhadap virus ini.

Sebenarnya, orang-orang yang bersikap masa bodoh dengan kemunculan virus Corona jumlahnya lebih sedikit daripada orang yang peduli dengan pencegahan virus ini. Akan tetapi, ketidakpedulian mereka itulah yang kemudian mempercepat penyebaran virus. 

Orang-orang dalam kelompok ini biasanya adalah orang-orang yang merasa dirinya kebal dan orang yang menganggap bahwa sains tidak sepenuhnya benar. Ketidakpastian, kebingungan, dan keadaan darurat yang diakibatkan oleh virus Corona dapat menjadi stressor bagi banyak orang. 

Ketidakpastian dalam mengetahui kapan wabah akan berakhir membuat banyak golongan masyarakat terutama golongan menengah ke bawah bingung memikirkan nasib mereka. Kehidupan yang berjalan seperti biasa tanpa adanya mata pencaharian membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

Ketakutan akan kematian merupakan konflik psikologis dasar pada manusia. Sesuai dengan Teori Manajemen Teror, ketakutan akan kematian yang tidak pasti datangnya membuat manusia melakukan berbagai hal untuk mempertahankan kehidupannya (Greenberg, Pyszczynski, Solomon, 1986). 

Adanya COVID-19 tentu membuat teror yang dirasakan semakin intens. Tentunya, ada beberapa hal positif dan negatif yang dilakukan orang-orang untuk bertahan hidup.

COVID-19 juga mendorong sebagian orang untuk bertindak secara salah dalam rangka bertahan hidup. Fenomena panic buying merupakan salah satu contohnya. Tindakan panic buying atau menimbun barang-barang kebutuhan sehari-hari merupakan bentuk ketidakmampuan sebagian dari kita untuk mentoleransi stress yang timbul karena ketidakpastian yang muncul akibat adanya virus Corona. 

Isolasi diri yang dilakukan sebagai tindakan preventif terhadap infeksi COVID-19 juga merupakan faktor pendorong psikologis sebagian dari kita akhirnya melakukan penimbunan (Norberg & Rucker, 2020).
*Narasi asiiik.com lainnya.....*
Paman, saya juga senang untuk sampai di puncak gunung. Tapi saya tak ingin berjuang seperti tentara yang kadang harus membunuh orang. 

Saya ingin menjadi pejuang perdamaian yang menyembuhkan orang. Dokter akan menjadi profesi saya. Dedikasi saya nanti dalam melayani pasien sama tingginya seperti Mozart ketika main piano. Sama intesnnya seperti Van Gogh ketika Melukis.
 
Cahya, mengibaratkan dirinya harus punya panggilan hidup sebagaimana Mastro Komposer Musik dan Mastro Pelukis serta Philosof kelas dunia. Hal tersebut, karena kebiasan di keluarganya membaca buku-buku pengetahuan dari berbagai mutidisiplin ilmu.  

Cahya juga mulai menyukai profesi dokter sejak setiap hari kamis malam selalu mengikuti serial film medical drama, karya James yang ditayangkan  di TV RI, yakni Kisah serial dr. Kildare yang diperankan oleh Richard Chamberlain, seorang dokter muda, pintar, dan berwajah tampan, idola para perempuan pada masa itu.

Cahya punya prinsip, mengenai profesi dokter yang menjadi pilihan karirnya:
            Dokter itu tentara di masa damai. Perangnya melawan penyakit. Dokterpun bisa mati dalam tugas, Itu sama mulianya dengan tentara yang mati dalam tugas. Mereka sama-sama mencapai puncak Gunung.
 
Nilai yang bisa dipetik pada Peran Cahya dalam Cerpen esai ini adalah dedikasinya yang luar biasa terhadap profesinya. 

Kendatipun  pada tahun 2020 Cahya sudah pensiun, bahkan  memiliki rumah sakit sendiri yang sudah memberikan kenyamanan penghasilan. Walaupun dia tidak turun langsung bekerja, namun ketika bulan Februari tanhun 2020, terdapat issue Virus Corana melanda Indonesia, ia meninggalkan kenyamanan yang telah diraihnya dengan proses yang panjang. 

Cahya memilih membaktikan dirinya berperang melawan serangan virus pandemik, untuk menyelematkan nyawa manusia.

Cahya tidak memilkirkan, keselamatan dirinya menghadapi bom teroris Corona yang tidak terdengar dentuman suaranya, tidak terlihat munculnya di mana dan dari mana, tetapi  ganasnya luar biasa. 

Jaka dalam kisah Sang dokter Cahya, berperan sebagai adik Cahya, menyesalkan akan kejadian yang menimpa sang kakak yang hidup tidak sendiri: punya istri, anak, serta adik yang sangat menyanginya. 

Bahkan, juga cucu kesayangan, yaitu Rani, anak berusia 8 tahun dan sebatang kara yang dititipkan pada Cahya, karena kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan

Sudah dua minggu Jaka  berkerja di rumah, semenjak pamdemi Covid-19. Hal ini tidak menyulitkan baginya. Akan tetapi, kehilangan Cahya--kakak kandungnya, dokter yang penuh pengabdian—yang meninggal karena serangan Covid, sungguh membuatnya tidak bisa tidur nyenyak selama dua malam. 

Masih teringat, ketika Cahya wafat, kakaknya ini dari rumah sakit langsung dibawa ke pemakaman. Jaka hanya bisa melihat dari kejauhan bersama istrinya.

Jaka teringat juga akan pesan Cahya, ketika masuk ruang isolasi pertama kali, Cahya mengirimkan pesan WhatsApp di japri. ”Jaka, aku titip Rani.” 

Teks tersebut Jaka terima lima hari sebelum kematiannya. Cahya seperti punya firasat. Masih terngiang pula ucapan Rani kepada Jaka, “Aku ingin seperti kakek Cahya, menjadi dokter”. 

Jakapun sedih dan terharu, mendengar ucapan Rani,dan menjawab dengan kasih sayang: “ Pilih saja, apapun yang berdetak di hatimu mu. Tapi apapun yang dirimu pilih, upayakan dirimu sampai ke puncak gunung.” 

Jaka mengulang berkali-kali kalimat favorit kakaknya sambil memeluk Rani, dan merasakan seolah ia sedang  memeluk jiwa Cahya, kakaknya.

Cerpen mengenai kisah dr Cahya, digambarkan oleh Denny seolah kisah nyata yang terjadi di Indonesia. 

Denny mengembangkan spirit seorang dokter senior di Prancis, yang beusia 68 tahun, yang seharusnya sudah pensiun, tapi ia ingin kembali mengabdikan diri untuk kepentingan orang banyak hingga akhirnya Ia sendiri terpapar dan wafat. 

Ceritera yang terispirasi dari Kisah dokter Perancis, bukan tidak mungkin banyak dialami juga oleh para tenaga medis di Indonesia.
 
Hikmah cerpen ini adalah, orang-orang seperti dr Cahya dalam Agama Islam merupakan manusia Syuhada, artinya seorang Muslim yang meninggal ketika berperang atau berjuang di jalan Allah membela kebenaran atau mempertahankan hak dengan penuh kesabaran dan keikhlasan untuk menegakkan agama Allah. 

Manusia seperti dr Cahya mempunyai prinsip sesuai dengan nilai-nilai dalam agama Islam, yaitu “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
 
Banyak Tenaga medis, dokter dan perawat yang berjuang melawan Covid-19, dalam Berbagai berita disebutkan dari bulan Febuari 2020 hingga Bulan Maret 2021, hampir setahun pandemi, tercatat sejumlah 325 Orang Dokter Meninggal akibat Covid-19.

Bagian 3 “Aku Pun Pergi ke Wuhan” 

Cerpen Esai pada bagian Tiga, menceriterakan Peneliti yang dipanggil abang oleh asistennya bernama Dadi. Ia pergi  ke Wuhan, ingin melihat secara langsung kota di Cina yang telah membuat heboh seluruh dunia. 

Semula Dadi sangat kaget dan  takut, ketika diajak. Sepuluh tahun bekerja dengan Abang, Dadi tahu betul sifat Si Abang yang keras kepala dan selalu nekat apabila ada kemauan yang membuat penasaran. 

Sebagaimana pertanyaan Dadi “Lantas bagaimana, Bang?” Kemudian dijawab oleh Abang:
“kita harus pergi ke Wuhan. Kita rasakan sendiri aura kota itu. Kita selami getarannya, nafasnya. Kita saksikan kehidupan kota itu dengan mata kepala sendiri.
 
Akhirnya Dadi menyerah setelah Abangnya  meyakinkan, bahwa Wuhan telah normal, tidak lagi Lockdown. Secara emosional, Dadi masih agak ragu, karena ia baru saja kehilangan pamannya yang terkena Covid. Untungnya dia tidak tertular. 

Akhirnya Dadi mau ikut ke Wuhan untuk terlibat penelitian Si Abang. Ia hilangkan pikiran secara emotional,  dan berpikir secara rasional dan professional.

Wuhan, merupakan tempat bersejarah bagi seluruh dunia. Tempat Kasus pertama kali virus Corona ditemukan di rumah sakit tersebut, dan menjadi bom yang merambah melesat dengat pesat ke seantero jagat. 

Li Wenliang, sebagai nara sumber, adalah  dokter pertama yang menemukan virus Corona. Abang dan Dadi, akan berkunjung ke rumah Sakit  tempat Li Wenliang bekerja.

Selain mengunjungi Hospital, mereka juga mengunjungi Kampus Central China Normal University, tempat berkumpulnya para akademisi yang membela Li Wenliang, ketika Li Wenliang direpresi oleh Pemerintah. 

Bahkan mereka ke pasar tenpat jual beli hewan liar ‘Huanan Sefood Wholesale Market, tempat yang diduga menjadi asal virus Corona, entah dari kelelawar atau trenggiling, yang memudian bisa melompat menererobos masuk ke tubuh manusia.

Abang telah keliling dunia. Semua tempat megah dan bersejarah hampir semua sudah dikunjungi. Akan tetapi baru pertama kali ia merasakan masuk sebuah  Hospital, bulu kuduknya berdiri. 

Ia meyakinkan dirinya bahwa ia sedang mengunjungi tempat yang sangat bersejarah. Rumah sakit yang menemukan virus Covid, awal dari segala bencana pandemik yang kini menimpa 210 negara. 

Di tempat itu pulalah, dimulai hentakan geger pertama munculnya Virus Coorona, dan pada peradaban ke depan, dimungkinkan  tidak  akan lagi sama setelah pandemik Covid-19 selesai.

Inti dari kisah ini, Abang Doktor, Ph.D di bidang Public Policy, akan membuat tulisan dengan pesan moral, yang dijadikan headline, adalah Lin Wenliang dokter pertama yang menemukan virus ini. Tetapi pada kenyataanya Lin Wenliang bukannya diberi penghargaan, malah pemerintah lokal setempat membungkamnya. 

Bahkan pemerintah Cina menuduhnya telah menyebar kebohongan. Respons pemerintah untuk menghalau virus sangat terlambat. Virus keburu menyebar. Bahkan, banyak orang dari Wuhan sudah lebih dahulu pergi ke luar daerah dan ke luar negeri dengan membawa virus yang sudah bersarang di tubuhnya. 

Akibatnya, kebijakan yang buruk dari pemerintahan otoriter ini, membuat dua juta populasi dunia terkena virus. “Ini jenis policy yang ‘too little, too late’. Menjadikan dunia merana. Peradaban menangis”.

Inti kisah tragedi dari dokter Li Wenliang adalah: Dia dokter pertama yang menemukan virus Corona. Dia dokter pertama pula yang tertular virus corona, dan akhirnya wafat dalam situasi yang tertekan. 

Ia adalah pahlawan, karena walau dikontrol pemerintah, ia tidak henti meneliti  virus  tersebut. Bahkan juga tidak henti mengobati pasien-pasien yang terkena Covid. 


Dokter pertama yang tertular virus Corona. Dr Li Weliang pembela keselamatan jiwa. Ia dengan rela dan tulus. Kendatipun di bawah tekanan pemerintah, ia tidak henti melawan virus yang menyerang para pasien. 

Namun akhirnya justru dia yang menjadi korban, mati dalam tugas terkena serangan virus.

Tidak diduga Efek kunjungan ke Wuhan itu menyebabkan guncangan batin si Abang yang besar. Derai air mata, ketakutan, kemarahan, harapan penduduk Wuhan menjadi kenangan tersendiri bagi Abang. 

Masih terbayang sahabat Li Wenliang menangis, dan bercerita, ribuan orang dipaksa hidup di rumah. Bahkan ada yang pintunya diblok/ gembok  dari luar agar mereka tidak bisa keluar.  Akhirnya ramai-ramai mereka mati di dalam rumah.
*Asiiik.com* 
(Cuplikan dari Buku "Suara Duka Era Virus Corona" by Prof.Dr.Endang Caturwati.)


No comments

Powered by Blogger.