Latest News

Wednesday, August 25, 2021

Farisi Yang Baik Versus Farisi Yang Busuk

FARISI YANG BAIK VERSUS FARISI YANG BUSUK. 

Membaca kata Farisi sudah terbayang dalam pikiran kita sekelompok manusia yang pola dan cara hidupnya banyak dikecam dan dikritik oleh TUHAN YESUS seperti kita baca dalam perikop Injil hari ini. 
Namun demikian, janganlah kita cepat menghakimi orang! Ternyata ada juga orang-orang Farisi yang baik dan saleh hidupnya. Lihatlah saja Nikodemus seorang Farisi saleh yang ingin sekali lebih mengenal TUHAN YESUS sehingga ia secara diam-diam pada malam hari sengaja datang kepada YESUS untuk lebih mengetahui ajaran dan pandangan pandangan-NYA. (Lihat Yoh.3:1-21).
Paulus yang dulu sebelumnya bernama  Saulus adalah seorang Farisi tulen. Setelah dipertobatkan oleh musuhnya sendiri yaitu TUHAN YESUS ketika di tengah perjalanan ke kota Damsyik, ia kemudian berbalik 180 derajat menjadi seorang pewarta Injil yang unggul bahkan oleh Gereja diangkat menjadi "dua pilar utama Gereja" bersama Santo Petrus!

Dalam Bacaan Pertama dapat kita renungkan betapa besar pengorbanan dirinya ketika ia pergi menjelajah ke kota-kota dan daerah di Asia Kecil sampai ke kota pusat dunia waktu itu yaitu Roma. 
Kepada jemaat di Tesalonika, Paulus telah  "meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan Kehendak ALLAH, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-NYA." (1Tes. 2:12). Anjuran Paulus ini tidak hanya ditujukan kepada jemaat di Tesalonika saja, melainkan juga di tempat-tempat lain ia juga serukan hal yang sama. 

Coba kita dengar nasihatnya kepada jemaat di Kolose: "Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui Kehendak TUHAN dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-NYA serta berkenan kepada-NYA dalam segala hal..." (Kol. 1:9-10). 
Lalu kepada jemaat di Filipi hal yang sama ia serukan juga di kota ini: "Hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil KRISTUS..." (Flp.1:27).

Hidup yang sesuai dengan Kehendak ALLAH adalah yang penuh pengorbanan dan pengabdian baik kepada ALLAH maupun kepada sesama, yang merupakan semangat Salib, semangat KRISTUS sendiri. 

Paulus sendiri sudah memberikan teladan yang nyata dalam menjalankan tugas perutusannya ke beberapa tempat di seluruh Asia Kecil. Ia tidak pernah mencari fasilitas kemudahan bagi dirinya sendiri. Segala halangan cuaca alam ia hadapi, juga semua cercaan,  penghinaan dan siksaan terhadap dirinya telah dihadapi dan dialaminya dengan gagah berani dan penuh kesabaran. Paulus tidak mengenal sifat "suam-suam kuku" atau setengah-setengah ataupun menyerah sebelum menyelesaikan pertandingan dalam hidup ini. Semangat yang dikobarkan adalah semangat juara merebut piala kemenangan!  
Mari kita berani mawas diri  masing-masing, apakah segala kata dan perbuatan serta perilaku kita ini sudah sesuai dengan semangat KRISTUS? Dan apakah semangat-NYA itu juga kita praktikkan selama masa pandemi ini?

Perikop Injil hari ini bukan merupakan "Delapan Sabda Bahagia"  melainkan berisi  "delapan kecaman keras" yang diawali dengan kata-kata yang sangat tajam: "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi!" 
Di hadapan orang banyak, para ahli Taurat dan kaum Farisi berpura-pura menunjukkan bahwa mereka sungguh menghargai dan menjunjung tinggi para nabi yang dibunuh oleh nenek moyang mereka dengan cara "membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh." (Mat. 23:29). Dengan lantang mereka mengatakan bahwa mereka tentu tidak mengambil bagian dalam membunuh para nabi seandainya mereka hidup di zaman nenek moyang mereka. 

Tetapi TUHAN YESUS sangat mengetahui persis isi hati orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu. Justru merekalah yang kelak mengantar YESUS ke Sanhendrin dan akhirnya memprovokasi masyarakat Yahudi untuk menyalibkan DIA! Justru merekalah yang pertama-tama melemparkan batu ke para nabi, seandainya mereka hidup di zaman nenek moyang mereka. Menurut YESUS, mereka itu "sama seperti kuburan yang di luar putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran." (ayat 27). Sungguh sesuatu yang sangat busuk! YESUS juga mengecam mereka sebagai keturunan para pembunuh. Yang membuat mereka sama dengan nenek moyang mereka adalah kedegilan hati, keras kepala dan kesombongan yang luar biasa serta kemunafikan yang begitu kentara!

Kadang-kadang kitapun juga suka mengelabui mata sesama kita dengan kesalehan dan kelemahlembutan kita dengan menunjukkan sikap sosial, bela rasa dan amal bakti kita. Namun, siapakah yang bisa mengetahui isi hati kita? Kita bisa saja mengelabui mata sesama kita atau orang yang paling dekat dengan kita (suami/isteri, anak, orangtua, atasan kerja, teman kolega/sahabat), tetapi kita sama sekali tidak bisa dan tidak mungkin mengelabui Mata TUHAN, karena DIA-lah yang menilik semua hati dan memahami relung-relung isi hati seseorang secara tepat! 
Masihkah kita mau berbohong pada TUHAN? Ataukah kita memang sekelas dengan orang "Farisi yang busuk"?

Ya BAPA Yang Maha Mengetahui, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, janganlah biarkan aku hidup dalam kedegilan hati dan kemunafikan aksi. Selidikilah aku dan ampunilah aku, berkat belas Kasih-MU dan kerahiman-MU. Amin.

Bdk
• 1Tes. 2: 9-13;
• Mzm. 139: 7-10. 11-12ab;
• Mat. 23: 27-32
PK/hr.

Makanan Dan Minuman Jasmani Dan Rohani Yang Sangat Kita Butuhkan

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Minggu, 8 Agustus 2021.
HARI MINGGU BIASA XIX :
• 1Raj. 19: 4-8; 
• Mzm. 34: 2-3. 4-5. 6-7. 8-9;
• Ef. 4:30 - 5:2; 
• Yoh. 6: 41-51.

MAKANAN DAN MINUMAN JASMANI DAN ROHANI YANG SANGAT KITA BUTUHKAN. 

Dalam Bacaan Pertama dilukiskan bahwa ALLAH mengasihi Nabi Elia dengan memberikan makan dan minum pada saat ia membutuhkannya dan ia hampir putus asa. Elia melarikan diri setelah di Gunung Karmel ia berhasil mempermalukan 450 nabi-nabi Baal dan lebih daripada itu semua nabi Baal itu akhirnya dibunuhnya. Hidup Elia terancam terutama oleh ratu Izebel, isteri Raja Ahab, maka pergilah ia ke Gunung Horeb (Gunung Sinai). Dalam perjalanan ke Gunung Horeb itulah Elia istirahat tertidur di bawah pohon ara karena badannya lemas dan capek. Ia ingin mati saja karena terlalu berat baginya mengemban tugas dari ALLAH. Tiba-tiba seorang Malaikat menyentuhnya, memberikan makanan dan minuman. Berkat makanan dan minuman itu badannya menjadi kuat kembali untuk meneruskan perjalanan selama empat puluh hari empat puluh malam untuk mencapai Gunung Horeb.

ALLAH tidak akan membiarkan umat-NYA dalam kesusahan dan kesulitan. ALLAH pasti datang tepat pada waktunya. Seperti yang dilakukan ALLAH kepada Elia, demikian pula IA akan memperlakukan secara penuh belas kasih kepada umat-NYA, terutama saat ini di mana seluruh umat-NYA bahkan semua bangsa merasakan beban yang sangat berat akibat Covid-19 yang berkepanjangan. Bagi orang yang kurang tebal imannya pasti situasi ini menimbulkan frustrasi dan putus asa. Tetapi bagi orang yang beriman seharusnya tidak perlu putus harapan. Kita sendiri masing-masing tentunya sudah pernah atau bahkan sering mengalami banyak belas kasih ALLAH dalam banyak hal dan peristiwa. Karena itu, sudah selayaknya kita harus bersyukur atas segala perhatian dan pemeliharaan-NYA kepada kita masing-masing. 

Seperti halnya Elia yang mendapatkan kekuatan kembali untuk meneruskan perjalanannya ke Gunung Horeb setelah diberi makanan dan minuman, kita pun dalam mengarungi hidup ini memerlukan makan dan minum bukan hanya yang bersifat jasmani melainkan terutama yang rohani. Dan dalam perikop Injil hari ini, TUHAN YESUS sudah menegaskan bahwa DIA-lah Roti yang turun dari Sorga, sekalipun banyak orang Yahudi bersungut-sungut mendengarkan ajaran-NYA itu. Karena mereka tahu bahwa YESUS hanyalah anak Yusup si tukang kayu dan Maria ibu-NYA, serta saudara-saudara-NYA yang lain dari Nasaret. Bagaimana mungkin IA mengatakan bahwa Diri-NYA berasal dari Sorga padahal saudara-saudaranya berasal dari kota itu? Itulah semua karena kedegilan hati orang-orang Yahudi, hingga mereka tidak dapat atau tidak mau menerima ajaran-NYA itu. 

Sebaliknya, TUHAN YESUS tetap menegaskan berkali-kali bahwa DIA-lah Roti Hidup! Kata-NYA: "AKU-lah Roti Hidup, yang turun dari Surga. Jikalau seorang makan dari Roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan Roti yang KU-berikan itu ialah Daging-KU yang akan KU-berikan untuk hidup dunia." (Yoh.6:51).

Orang yang menerima Roti Hidup ini akan memperoleh keselamatan dan kehidupan kekal. Roti Hidup itu dapat kita sambut secara langsung maupun secara batin dalam Perayaan Ekaristi. Setelah konsekrasi yang ada bukanlah roti dan anggur, melainkan TUBUH dan DARAH YESUS sendiri. Komuni yang kita sambut itu bukanlah sekedar Roti, melainkan TUBUH KRISTUS sedangkan anggur dalam piala itu adalah DARAH YESUS: Inilah Makanan dan Minuman Sorgawi  yang menguatkan hidup kita (badan dan jiwa) dan membawa pada keselamatan kekal.

Karena Roti Hidup yang adalah juga Ekaristi, yang tidak lain adalah TUBUH dan DARAH KRISTUS sendiri, maka yang pantas menerima-NYA adalah tergolong "manusia baru", seperti diajarkan oleh Rasul Paulus dalam Suratnya kepada jemaat di Efesus, bahwa manusia baru adalah yang telah meninggalkan "segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah serta segala kejahatan." (lihat Ef.4:31). Tegasnya, manusia baru adalah yang ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, kesetiaan dan saling mengampuni. 

Sayang sekali, dalam perayaan Ekaristi Kudus, baik secara offline maupun online, kadang masih terdapat beberapa sikap umat yang menunjukkan sikap yang kurang hormat kepada Sakramen Mahakudus sebagai tanda Kehadiran TUHAN YESUS sendiri. 
Ingatlah, bahwa kita sungguh mengimani bahwa YESUS adalah Roti Hidup. Artinya YESUS adalah Pokok Kehidupan. Dengan makan TUBUH KRISTUS, konsekuensinya adalah bahwa kita harus mengisi diri kita, pikiran, angan-angan, hati, perasaan dan apa saja yang ada dalam diri kita,  dengan pikiran tentang kemanusiaan YESUS, sehingga kemanusiaan kita sendiri dikuatkan, disucikan dan diterangi oleh-NYA!
Dengan minum DARAH KRISTUS, konsekuensinya ialah kita harus memasukkan Hidup KRISTUS ke dalam hidup kita. Kita harus memasukkan Hidup YESUS  itu ke dalam pusat hati kita! Yakinkah kita akan hal ini semua?
Bilamana "Ya" maka kita harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya dalam menyambut Kedatangan YESUS!
Bila sikap diri kita sendiri kurang hormat serta mental kita tidak kita siapkan dengan bersikap hening dan berdoa, maka Komuni Kudus itu tidak bermakna bagi diri kita! Cobalah hari Minggu ini kita mempersiapkan diri secara khusus dan khusyuk sebelum menyambut Komuni baik secara langsung maupun secara batin.

Ya TUHAN, ajarilah aku untuk menjadi murid-MU yang setia dan konsekuen serta konsisten. Semoga Komuni Kudus yang aku terima hari ini sungguh menguatkan dan memberikan aku semangat, kesetiaan, keramahan, saling mengampuni dan rendah hati. Amin.

Selamat pagi. Selamat Merayakan Ekaristi Kudus baik secara offline maupun online. Selamat berhari Minggu. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

Jangan Jadi Batu Sandungan

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Senin 9 Agustus 2021
Hari Biasa Pekan Biasa XIX :
* Ul. 10: 12-22;
* Mzm. 147: 12-13, 
   14-15, 19-20;
* Mat. 17: 22-27.

JANGAN JADI BATU SANDUNGAN!

Dalam perikop Injil hari ini, Penginjil Matius menulis tentang dua episode:

Pertama ketika di Galilea TUHAN YESUS  memberitahukan untuk kedua kalinya tentang penderitaan yang bakal menimpa ANAK MANUSIA sampai IA dibunuh dan pada hari ketiga IA akan dibangkitkan. Informasi ini tentu sangat membuat para murid sedih dan terpukul. Sebab, mereka masih mengharapkan Guru mereka itu akan menjadi Raja Israel yang akan membebaskan seluruh Tanah Israel dari penjajahan Romawi. Ternyata persepsi para Rasul yang begitu dekat dengan YESUS saja masih sama seperti kebanyakan orang Yahudi. Tidak heran, ketika YESUS  benar- benar ditangkap dan dihukum, mereka kebanyakan pada "ngabur" ketakutan.
Andaikata kita berada di tengah-tengah para Rasul, apakah kita juga mengambil sikap yang sama?

Kedua, ketika tiba di Kapernaum, Matius sebagai mantan pemungut cukai mempunyai keprihatinan tentang membayar pajak. Pajak itu sangat penting karena kerajaan-kerajaan kuno dibangun atas pajak yang dikumpulkan dari rakyatnya. Hanya orang-orang "bebas"(bukan budak) yang tidak membayar pajak. Tetapi bagi YESUS, tidak membayar pajak bagi Bait Suci bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain, hingga IA  memerintahkan Petrus untuk membayar pajak.  IA menyuruh Petrus dengan cara yang unik, Petrus supaya memancing ikan dan dari mulut ikan itu ia akan mendapatkan empat dirham untuk membayar pajak bagi YESUS dan Petrus.

Kisah ini bisa dibaca secara harfiah sebagai kisah mukjizat, namun bisa juga dibaca sebagai "simbol". Cara pertama, sudah jelas, bagaimana mungkin dalam mulut ikan ada 4 dirham. Namun, cara kedua membuat kita bertanya apa yang hendak disampaikan di balik simbol ikan yang di dalam mulutnya terdapat uang?

Kita tahu bahwa profesi Petrus sebelum mengikuti YESUS  adalah nelayan. Bahkan ketika sudah menjadi murid-NYA pun ia tetap sebagai nelayan. TUHAN YESUS mengajak Petrus untuk bekerja sebagaimana ia dulu mencari nafkah untuk membayar pajak. 
Di samping itu TUHAN YESUS mau menghargai nilai usaha, proses manusiawi dan jerih payah untuk mendapatkan hasil, sehingga IA menyuruh Petrus untuk memancing ikan; IA  tidak memberi 4 dirham secara langsung kepadanya dengan Kuasa Ilahi- NYA. Di sini TUHAN akan menyempurnakannya dengan berkat yang tak terduga : 4 dirham ada di mulut ikan!  
Apakah kita juga mau menghargai proses, usaha keras dan pekerjaan harian kita dalam mendapatkan apa yang kita inginkan? Atau pakai jalan pintas meski melawan aturan atau hukum yang berlaku?

Pajak Bait Suci dipersembahkan kepada ALLAH. Sebenarnya YESUS tidak perlu membayar pajak itu, karena IA orang "bebas" apalagi IA adalah ANAK ALLAH. Tetapi YESUS  mengajak para murid dan kita semua untuk mau menghormati aturan, supaya DIA  tidak jadi batu sandungan bagi orang lain. TUHAN YESUS melepas hak, harkat dan martabat- NYA demi manusia. IA mau mengajarkan kepada kita untuk tidak jadi batu sandungan. Artinya, kita jangan jadi penghalang bagi orang lain untuk mengenal dan mempraktikkan kebenaran, keadilan, kejujuran, kedamaian hati dan persaudaraan sejati. 

Dalam suasana menyongsong HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke 76, sebagai pengikut KRISTUS marilah kita mawas diri : Apakah kita sudah menjadi warga negara yang baik, mentaati hukum yang berlaku termasuk membayar pajak secara teratur? Apakah ketaatan kita itu dapat juga memotivasi dan menggerakkan orang lain untuk juga patuh pada hukum?

Dalam Bacaan Pertama Musa sebagai utusan ALLAH juga berpesan kepada bangsa Israel agar taat dan takut akan ALLAH; hidup sejalan dengan Perintah-NYA; mengasihi ALLAH dengan tulus dan segenap hati, serta beribadah kepada TUHAN dengan segenap jiwa. Secara tegas, Musa mengingatkan: "Sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk!"(Ul. 10: 16).

Pesan Musa itu juga ditujukan kepada kita agar kita saat ini tetap hidup sejalan dengan perintah TUHAN, mengasihi-NYA dengan cara menjalani Kehendak-NYA yang juga diwujudkan dalam hukum atau aturan yang mengatur  kebaikan bersama. Karena itu pada masa pandemi ini sebaiknya kita dapat menjadi contoh sebagai warga yang bertanggung jawab dan tidak jadi penghalang atau batu sandungan bagi orang lain untuk berbuat kebaikan. 

Ya TUHAN, ajarilah aku untuk menjadi pengikut-MU yang setia, taat, bertanggung jawab, konsisten dalam pola hidupku sesuai dengan Kehendak-MU dan tidak jadi batu sandungan bagi orang lain. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai Prokes dan aturan lain. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr

KSATRIA KRISTUS.

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Selasa, 10 Agustus 2021.
Pesta St. Laurensius, Diakon - Martir : 
• 2Kor. 9: 6-10; 
• Mzm. 112: 1-2. 5-6. 7-8. 9;
• Yoh. 12:24-26.

KSATRIA KRISTUS.

Hari ini Gereja merayakan Pesta St Laurensius (+258), diakon dan pelayan setia Paus Sixtus II (257-258). Ketika Paus Sixtus II sedang merayakan Ekaristi di katakomben, tiba-tiba serdadu dari Kaisar menangkap semua orang di sana termasuk Paus, dan Paus dijatuhi hukuman mati. Laurensius yang dipercaya merawat harta milik Gereja, dipaksa oleh penguasa kota Roma untuk menyerahkan harta Gereja. Ia sanggupi tiga hari lagi, karena ia mau mengumpulkan semua  harta itu. Ternyata dalam tiga hari itu ia mengumpulkan semua pengemis, pemulung dan gembel-gembel kota Roma, dan mereka pergi beramai-ramai ke Perfectus Roma untuk menyerahkan diri sebagai "semua harta Gereja" itu. Dipicu oleh kemarahan yang membara maka Laurensius ditangkap dan dijatuhi hukum mati dengan cara dipanggang hidup-hidup. Dalam menjalani hukuman itu ia tetap tersenyum dan sempat bercanda kepada algojonya: "Balikkan badanku, supaya matang semua". Sebelum meninggal ia sempat berdoa untuk pertobatan kota Roma. Dan benar saja, ketika itu banyak orang yang minta dibaptis. Kesaksian iman Laurensius membanggakan semua saudara-saudaranya seiman dan memotivasi mereka untuk tetap percaya dan berpegang kepada KRISTUS. 

Laurensius dan para martir serta para Kudus adalah ibarat "biji gandum" yang harus mati untuk dapat berbuah. TUHAN YESUS dalam perikop Injil hari ini memberitakan kepada para murid mengenai kematian-NYA. Kata-NYA: "Telah tiba saatnya ANAK MANUSIA dimuliakan." (Yoh. 20:23). Namun, kata "dimuliakan" itu tidak dimaksudkan bahwa DIA di Yerusalem itu akan secara terus menerus disambut sebagai "Seorang Raja dengan segala kebesaran-NYA!" Benar bahwa akan dimuliakan, tetapi hal itu terjadi setelah IA mengalami kesengsaraan dan penderitaan hebat di luar batas kemanusiaan dan akhirnya IA rela mati secara hina disalibkan. Maka hari itu TUHAN sengaja menegaskan: "Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan banyak menghasilkan buah". (ayat 24).
YESUS adalah "Sang Biji Gandum itu!" DIA telah memberi teladan nyata: IA sendiri rela menderita, mengalami penyiksaan di luar batas kemanusiaan dan akhirnya mati secara lemas lunglai tergantung pada paku-paku salib. Semua itu DIA jalani demi keselamatan dan penebusan dosa semua orang dan seluruh umat manusia tanpa kecuali. 

Buah iman yang berlimpah tumbuh subur di daerah dan kawasan tempat tetesan-tetesan darah dan pengorbanan para martir dipenggal kepalanya, dibakar hidup-hidup, dicabik-cabik oleh singa buas dan dianiaya secara sadis. Darah dan seluruh hidup mereka itu dikorbankan demi kebenaran iman akan KRISTUS. Mereka itu adalah para Ksatria KRISTUS!

Dengan Pembaptisan itu berarti bahwa kita telah meninggalkan "manusia lama" dan lahir "manusia baru" dalam KRISTUS. Hal ini perlu kita sadari bahwa dengan jadi "manusia baru" kita dituntut untuk rela mati terhadap diri sendiri dan ego kita agar membuahkan kehidupan yang berlimpah bagi banyak orang. Sanggupkah dan bersediakah kita untuk "kehilangan nyawanya demi KRISTUS"? seperti Sabda-NYA: "Barang siapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal." (ayat 25).

Menjadi "martir modern" mungkin tidak perlu mengucurkan darah, dibunuh, dipenggal kepalanya atau dibakar hidup-hidup seperti St Laurensius. Menjadi "martir modern" harus dibuktikan secara nyata bahwa dirinya tidak mencari keuntungan pribadi, melainkan untuk kesejahteraan seluruh masyarakat; bahwa kepribadiannya adalah secara utuh membuktikan dirinya itu "orang bersih" dan "berintegritas": kata dan tindakannya benar-benar bisa dipercaya, perilakunya jujur, tidak doyan disuap/menyuap, tidak korupsi, berani bertanggungjawab dan berani mengambil resiko atas segala tindakannya, tidak merugikan banyak orang tetapi sebaliknya selalu mengusahakan kebahagiaan, kesejahteraan dan kedamaian bagi semua orang tanpa memandang suku, asal-usul, agama, pendidikan atau status sosial seseorang. Dengan kata lain "martir modern" adalah pribadi yang rela menekan "ego-nya" semaksimal dan seoptimal mungkin!
Apakah diri kita termasuk di barisan para "martir modern" ini? Dan tidakkah kita mau mencoba masuk di kalangan itu?

Rasul Paulus dalam Bacaan Pertama memberikan peneguhan agar pemberian diri, pengabdian dan pelayanan kita didasarkan atas kasih, dilakukan dengan sukacita, bukan karena terpaksa. Paulus mengingatkan: "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga. Dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan sebab ALLAH mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2Kor. 9:6,7).
Melayani dan mengasihi orang lain terutama mereka yang miskin dan berkekurangan merupakan panggilan dari TUHAN dan sekaligus kesempatan yang indah untuk membalas Kebaikan TUHAN, yang lebih dahulu melayani dan mengasihi kita. Melayani dan mengasihi orang yang membutuhkan berarti melayani dan mengasihi TUHAN sendiri. 
Cobalah kita buktikan pada masa pandemi ini untuk memperlihatkan kepedulian dan belarasa kita kepada mereka yang tengah sakit atau menderita akibat kerugian fatal dalam berusaha atau mengalami PHK serta banyak kepincangan sosial selama masa pandemi ini. Cobalah buktikan bahwa di mana ada seorang pengikut  KRISTUS, di situ ada kasih dan pelayanan sejati!

Ya YESUS, ENGKAU ingin agar aku menjadi "biji gandum" yang mati dan menghasilkan banyak buah di tengah masyarakatku. Bantulah aku dalam melaksanakan Sabda-MU yang tidak ringan itu. St Laurensius, tolonglah dan doakanlah aku. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai dengan Prokes dan aturan lain. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

Tuesday, August 24, 2021

Allah Itu Maharahim Dan Mahakasih

ALLAH ITU MAHA RAHIM DAN MAHA KASIH.

Bacaan Pertama adalah merupakan bagian akhir dari Kitab Taurat, tepatnya dari Bab 31-34 Kitab Ulangan merupakan penutup dari rangkaian Kitab Taurat. Musa dan Kitab Taurat tidak dapat dipisahkan bahkan Musa identik dengan Hukum Taurat. Hidupnya merupakan tanda sekaligus simbol Hukum Taurat. Hukum inilah yang kelak akan disempurnakan oleh TUHAN YESUS. Inilah pula yang juga jadi sumber konflik antara para ahli Taurat dan orang Farisi dengan YESUS. DIA dituduh seolah-olah akan mengganti dan merombak Hukum Musa.
Dalam Bacaan Pertama dilukiskan bahwa Musa yang telah berhasil memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, ternyata dirinya sendiri tidak bisa menikmati Tanah Terjanji itu. Hal ini disebabkan oleh "dosanya" bersama Harun di Meriba yang agak meragukan Kekuasaan ALLAH untuk memberikan sumber air kepada umat Israel yang hampir mati kehausan. Meski Musa pernah berdosa terhadap ALLAH (lihat Bil. 20:1-12), namun karena kerahiman-NYA, ia masih diperkenankan melihat Tanah Terjanji dari puncak gunung Nebo. Setelah menikmati pemandangan Tanah Terjanji dari kejauhan, maka ia wafat dalam usia 120 tahun. Meski demikian matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang. Musa sungguh seorang Nabi Besar pilihan ALLAH yang telah banyak jasanya dalam menuntun jemaat Israel sejak dari Mesir. Meski umat Israel sangat rewel, tegar tengkuk, keras kepala bahkan pernah menyembah berhala. Namun demikian, ALLAH tetap Maharahim dan Mahakasih kepada mereka. TUHAN mengampuni dosa dan kesalahan mereka itu.

Kebesaran Musa terbukti ketika ia wafat, seluruh umat Israel selama 30 hari berkabung. Mereka sadar akan kehebatan Musa yang bisa berhadapan dan berdialog langsung dengan ALLAH. Dan mukjizat ALLAH melalui tangannya banyak dibuatnya.

Pemimpin sejati kadang hanya bertugas mempersiapkan rakyatnya untuk menuju keadaan yang lebih baik dan sejahtera, meskipun dirinya sendiri tidak akan menikmatinya.
Menjelang perayaan Proklamasi Kemerdekaan ke 76, sebaiknya hal ini jadi bahan permenungan dan keprihatinan kita bersama untuk mempersiapkan pemimpin bangsa kita ke depan yang mau berkorban demi rakyat agar dapat menikmati hasil kemerdekaan secara lebih merata. Terutama pada masa pandemi saat ini, kita sangat memerlukan pemimpin yang mampu mempersatukan dan menggerakkan rakyat untuk melawan wabah ini, tanpa berniat untuk mengambil keuntungan diri sendiri.

Musa yang pernah jatuh ke dalam "dosa" tetap mendapat pengampunan dari ALLAH. Pengalaman Musa adalah pengalaman kita semua yang bisa jatuh ke dalam dosa.
Namun, TUHAN YESUS - yang adalah "Musa Baru"-  telah menghadirkan sifat ALLAH BAPA yang Maharahim dan Mahakasih, telah mengajarkan bahwa orang yang berdosa itu mestinya ditegur dan diarahkan ke jalan yang benar. Itulah yang ditulis Matius dalam perikop Injil hari ini.

YESUS mewariskan pesan yang sangat jelas untuk kita. Setiap keburukan yang dilakukan oleh sesama, jangan sampai menjadi bahan pergunjingan atau perbincangan di antara kita. Sebaliknya, yang perlu dilakukan adalah "menegor secara empat mata" dengan baik-baik dan penuh kasih . Kalaupun ia belum bisa menerimanya, dapat diajak satu atau dua orang lagi untuk menjadi saksinya. Jika hal itu juga belum berhasil, perkara itu  bisa dibawa ke jemaat sebagai suatu persekutuan. 
Prinsipnya adalah bahwa kita harus juga dapat memperlihatkan sifat Kerahiman ALLAH yang Mahakasih dan Maha Pengampun. Jadi, kesalahan atau keburukan sesama tidak kita hakimi atau bahkan jadi bahan "gossip" yang dijadikan "trending topics".  Semoga Bacaan Injil ini menyadarkan kita untuk senantiasa menguburkan hal-hal yang buruk dan hanya memberitakan hal-hal yang baik. Keburukan dan kejahatan tidak untuk diwartakan, sebab hanya sukacita Injil yang perlu diwartakan oleh pengikut KRISTUS!

Hari ini Gereja memperingati Santa Klara dari Asisi (1195 -1253), gadis bangsawan yang lari meninggalkan gemerlapan kehidupannya untuk mengikuti jejak Fransiskus dari Asisi. Ia dikenal sebagai seorang suster yang mempunyai pengalaman mistik dan kerohanian yang sangat mendalam. Hidupnya total diabdikan pada doa dan matiraga yang menjadi kekuatannya dalam melawan semua rintangan dan penderitaan batin maupun fisik. Dari Sri Paus, pendiri Suster Klaris ini, mendapatkan privelese kemiskinan yaitu izin bagi suster Klaris untuk hidup dari derma belaka. Ketika terjadi perang, biaranya dikepung musuh. Suster Klara menghadapi dengan penuh iman hanya dengan menunjukkan "monstrans" di mana YESUS bertahta, dan ajaibnya para tentara musuh mundur secara teratur.

Ya TUHAN, ajarilah aku untuk mampu menunjukkan sifat Kerahiman-MU dalam hidup bersama sesamaku. Bantulah aku agar mampu mempersiapkan diri maupun orang lain untuk menjadi pemimpin yang lebih memikirkan kesejahteraan bersama dan bukan mencari keuntungan pribadi. Amin.

Bdk
11 Agustus - Peringatan Wajib Sta Klara, Perawan :
• Ul. 34: 1-12;
• Mzm. 66: 1-3a. 5. 8. 16-17;
• Mat. 18: 15-20.
PK/hr.

Forgive And Forget

πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Kamis, 12 Agstus 2021. 
Hari Biasa Pekan Biasa XIX : 
• Yos. 3: 7-10a. 11. 13-17;
• Mzm. 114: 1-2. 3-4. 5-6;
• Mat. 18: 21 - 19:1.

"FORGIVE AND FORGET!"

Dunia ini memang kejam: kadang tidak ada pengampunan, tiada maaf dalam kehidupan bersama. Orang saling caci-maki, menghakimi dan membenci satu sama lain. Apalagi kalau kebencian itu dipicu oleh warna politis atau peninggalan sejarah masa lalu yang menyisakan luka-luka lama. Orang bisa jadi bertindak brutal atau bersikap seperti "tuhan-tuhan" kecil, yang menghakimi dan mencap "hitam pekat" bagi lawan-lawan politiknya. Prinsip kebenaran didasari oleh "pokoke" atau "pokoknya" sehingga menggusur nilai-nilai kebenaran yang hakiki. Nah, apakah kita para pengikut KRISTUS juga akan ikut-ikutan hanyut dalam arus "dunia tanpa pengampunan"?
Dalam perikop Injil pagi ini Petrus mendapatkan jawaban dari TUHAN YESUS atas pertanyaan: "TUHAN, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku, jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" YESUS berkata kepadanya: "Bukan! AKU berkata kepadamu: "Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali". (Mat.18:21,22).

Bagi Petrus, menghitung secara spontan tujuh puluh kali tujuh kali, mungkin membuat dia bingung. Maka jawaban YESUS itu mengandung makna bahwa mengampuni atau memaafkan saudara atau orang lain tidak dibatasi dengan jumlah dan hitungan secara kuantitatif, melainkan harus terus-menerus  dilakukan. Prinsipnya adalah sebagaimana ALLAH murah hati dan selalu mau mengampuni atas kesalahan dan dosa kita, begitu juga hendaknya kita bermurah hati untuk selalu rela memaafkan atau mengampuni sesama. 
Tuntutan YESUS untuk memberikan pengampunan tanpa batas sebetulnya mengalir dari suatu realita bahwa pengampunan itu pertama-tama memang merupakan suatu anugerah yang kita terima secara cuma-cuma. Lewat pengampunan, TUHAN YESUS mengingatkan kita bahwa utang dosa yang kita miliki tidak sebanding dengan utang dosa sesama kepada kita. Karena itu, seyogyanya kita juga rela mengampuni sesama kita dan melupakan semua kesalahan yang pernah mereka lakukan terhadap kita. 

Kalau kita pernah merasakan begitu dalam cinta dan belas kasih ALLAH yang menebus utang dosa kita dengan Darah PUTERA-NYA, maka kita pun hendaknya meneruskan kasih dan daya pengampunan itu kepada orang yang bersalah kepada kita. Kalau kita tidak mengampuni sesama, maka kita jangan mengharapkan pengampunan dari TUHAN! St. Yakobus dalam suratnya pernah mengatakan: "Penghakiman yang tak berbelaskasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelaskasihan." (Yak. 2:13). 

Pengampunan itu sungguh akan membebaskan orang yang kita ampuni dari beban batinnya yang memberatkan hatinya. Demikian pula orang yang mengampuni akan merasa "plong hatinya" dan bebas dari rasa jengkel, benci dan dendam. Maka timbullah rasa sukacita sejati dalam dirinya.

Ingat, TUHAN YESUS tidak hanya mengajar dan menganjurkan, tetapi IA sendiri memberi teladan nyata: Ketika tergantung di atas Salib menjelang wafat-NYA, IA mohon pengampunan bagi para algojo yang menyalibkan DIA dan orang-orang yang mengolok-olok dan menghujat-NYA: "Ya BAPA, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Luk. 23:34). Demikian pula seorang penyamun di sebelah kanan-NYA yang bertobat, DIA ampuni dan dijanjikan masuk ke dalam Firdaus bersama-NYA. 

Dalam Bacaan Pertama dikisahkan bahwa setelah Musa meninggal, maka pemimpin umat Israel menuju Tanah Terjanji telah ditunjuk ALLAH  sendiri, yaitu Yosua. ALLAH memerintahkan lewat Yosua agar orang-orang Yahudi setelah tiba di sungai Yordan supaya tetap berdiri di tepi sungai Yordan. Penyeberangan sungai Yordan adalah pintu masuk ke Palestina sama seperti penyeberangan Laut Merah yang merupakan rute keluar bangsa Israel dari Mesir. Kejadian-kejadian pada kedua tempat tersebut menakjubkan dan mempunyai arti yang sama. Bangsa Israel menyeberangi air laut dan sungai Yordan untuk dilahirkan kembali sebagai bangsa. Saat ini kita melihat penyeberangan Laut Merah dan sungai Yordan adalah sebuah simbol permandian kita.

Maka Yosua sebagai pemimpin yang baru menyampaikan perintah ALLAH: "Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu". Dan kepada para imam Yosua berkata: "Angkatlah Tabut Perjanjian dan menyeberanglah di depan bangsa itu." (Yos.3:5,6). ALLAH yang hadir dalam Tabut Perjanjian senantiasa akan tetap memimpin bangsa Israel, sekalipun sekarang pemimpinnya adalah Yosua.

Kuasa ALLAH mengatasi alam semesta. ALLAH bisa mengerjakan segala sesuatu di luar nalar dan kemampuan natural biasa. Kekuasaan yang demikian agung inilah yang dialami oleh bangsa Israel sepanjang perjalanan penyelamatan mereka. Itulah juga salah satu yang menandai Kemahakuasaan ALLAH.    
Dalam kehidupan pribadi, keluarga dan komunitas kita masing-masing, bahkan dalam kehidupan masyarakat dan bangsa kita, pastilah kita pernah atau bahkan sering mengalami Kemahakuasaan ALLAH itu. Apakah kita menyadarinya? Juga pada masa pandemi ini, percayakah kita akan Kemahakuasaan-NYA itu? Dan apa sikap kita terhadap sifat ALLAH serta Penyelenggaraan Ilahi-NYA itu? 

Ya BAPA, ENGKAU sungguh baik dan berbelas kasih terhadapku pribadi, keluargaku, komunitasku, masyarakatku dan bangsaku. Semoga aku juga bisa berbelas kasih kepada sesamaku seperti ENGKAU Sendiri telah memberikan teladan-MU. Bebaskanlah aku dari rasa dendam dan benci sehingga dari hati yang ikhlas, aku mampu memaafkan mereka yang pernah menyakiti hatiku. Bebaskanlah bangsa kami dari rasa saling benci dan dendam akan kesalahan sejarah masa lalu hingga timbullah suatu sikap  rekonsiliasi. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai Prokes dan aturan lain. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

Mewujudkan Kesetiaan Dan Komitmen Perkawinan

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Jumat, 13 Agustus 2021.
Hari Biasa Pekan Biasa XIX
• Yos.24:1-13; 
• Mzm.136:1-3.16-18. 21-22.24; 
• Mat.19:3-12

Mewujudkan Kesetiaan dan Komitmen Perkawinan 

Dalam Kitab Kejadian diceritakan: Ketika itu Allah menciptakan manusia “seorang diri saja,” dan Allah memandang itu “tidak baik”. Kemudian Allah menciptakan “penolong yang sepadan dengan dia.” Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; “ketika ia tidur, Allah mengambil salah satu sisi sebelah dari padanya (terjemahan “rusuk” kurang tepat dan tidak sesuai dengan ayat 23), lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari sisi sebelah yang diambil dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan.” (lihat Kej 2:7.21-22). Ketika perempuan itu dibawa kepada manusia, berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku." (ay. 23). Daya tarik antara keduanya begitu kuat sehingga laki-laki rela meninggalkan kenyamanan keluarga ayah-ibunya untuk bersatu dengan belahan dirinya. (lihat ay. 24).
    Begitulah Kitab Suci menjelaskan hakikat perkawinan. Laki-laki dan perempuan, masing-masing sebagai “belahan jiwa”, menjalin komitmen satu terhadap yang lain secara tak terpisahkan. 
    Para nabi sering menggunakan komitmen antara suami-istri itu untuk menggambarkan hubungan Allah dengan Israel, yang telah lama terjalin dan diikat dengan Perjanjian, seperti yang diadakan oleh Yosua pada Bacaan pertama. Yosua mengingatkan bangsanya, bagaimana sepanjang sejarah keselamatan, Allah selalu memegang komitmen-Nya pada Perjanjian; berulang kali Ia mengambil tindakan penting untuk menyelamatkan umat pilihan-Nya. Maka kini, setelah Israel menjadi bangsa besar dan menduduki Tanah Terjanji, Yosua mengajak mereka membarui komitmen untuk setia pada Yahwe sebagai Allah satu-satunya yang harus disembah. (Lihat Yos 24:1-13.

Dalam Bacaan Injil hari ini Tuhan Yesus dicobai oleh kaum Farisi dengan pertanyaan: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?" (Mat 19:3). Yesus memberikan jawaban langsung ke dasarnya. Ia menunjuk kisah penciptaan manusia pada awal mula sebagai ketetapan Allah mengenai hakikat perkawinan. Kehendak Allah tidak bisa ditawar-tawar. “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia," (ay. 6). 
   Tetapi orang Farisi terus mengejar: “Jika demikian, mengapa Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?" Yesus menjawab, “Itu karena ketegaran hatimu. … Tetapi sejak semula tidaklah demikian.” (lihat ay. 7-8). Memang Musa menambahkan berbagai macam peraturan tentang berbagai hal, karena orang Israel itu tegar hati, mengikuti keinginannya sendiri, tidak mau dididik, dan tidak mau memahami makna mendasar dari sesuatu yang dari semula dikehendaki oleh Allah.
    Yesus menegaskan: “Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan istrinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah." Dalam Injil Markus, yang ditulis untuk bangsa non-Yahudi, ketentuan ini juga berlaku untuk perempuan yang menceraikan suaminya, (Mrk 10:12). 
    Oleh para murid, ajaran Yesus itu dirasa sangat berat. Jika hubungan antara suami dan istri itu tak terceraikan, “lebih baik jangan kawin," begitu kata mereka. Memang, Yesus mau menegaskan bahwa: hidup sebagai suami-istri itu merupakan suatu panggilan yang serius, menuntut komitmen penuh untuk terus dipersatukan sebagai pasangan “dua sisi” yang “tolong-menolong secara sepadan” sebagaimana dikehendaki oleh Allah.

Menurut berita, angka gugatan perceraian selama pandemi ini di Indonesia meningkat tajam. Angka itu didominasi oleh pasangan muda. Alasan yang paling banyak diajukan adalah “karena ketidak-cocokan”. Menurut para ahli, penyebabnya adalah komunikasi yang kurang efektif dan kurang produktif antara pasutri. Komunikasi yang buruk itu makin sering terjadi ketika pasutri lebih banyak tinggal di rumah.
    Maka kita semakin yakin bahwa cinta kasih yang disertai komitmen penuh sangatlah penting bagi para pasutri. Komitmen ini perlu dibangun sejak masa perkenalan selama pranikah; selanjutnya, setelah hidup berkeluarga, tiap pasutri dengan kesadaran penuh mesti terus berusaha mewujudkan komitmen itu dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya dengan menjaga kesetiaan suami-istri serta keutuhan perkawinan saja, tetapi secara positif mengekspresikan kasih sayang untuk terus memperkuat komitmen itu. 
    Perkawinan Kristiani adalah sakramen cinta kasih. Artinya, kasih yang kita terima dari Allah kita realisasikan dalam keluarga. Seperti apa kasih Allah itu? Sebagaimana tampak dalam Diri Putra-Nya, Allah itu mudah mengampuni, suka menolong; Allah berbagi isi pikiran dan kehendak hati; Allah menyembuhkan dan membangkitkan semangat; Allah mengorbankan Diri sampai wafat di salib. Melakukan tindakan nyata seperti yang dilakukan Allah itulah sumber kebahagiaan sejati dalam keluarga.

Ya Allah Sang Pencipta, syukur atas kasih orangtua sehingga aku dapat tumbuh dengan baik. Hadirlah dalam tiap keluarga agar tetap utuh dan melahirkan pribadi yang setia mengabdi Engkau dan rela membaktikan diri pada sesama. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas dengan mengikuti protokol kesehatan. AMDG. Berkat TUHAN.
RS/PK/hr.

Kesetian,Kepatuhan,Iman Dan Kejujuran

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Sabtu, 14 Agustus 2021.
Peringatan Wajib St. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam & Martir:
• Yos. 24: 14- 29; 
• Mzm. 16: 1-2a. 5. 7-8. 11; 
• Mat. 19: 13-15. 

KESETIAAN, KEPATUHAN IMAN DAN KEJUJURAN.

Pada setiap Kamis Putih para imam memperbaharui janji kesetiaan imamatnya. Setiap malam Paskah kita pun memperbaharui janji baptis kita. Demikian pula dalam kesempatan perayaan ulang tahun perkawinan, sering diadakan pembaharuan janji perkawinan. Momentum pembaharuan janji seperti itu adalah kesempatan untuk menyatakan kembali komitmen dan kepatuhan serta kesetiaan iman kita tehadap janji-janji yang pernah kita ucapkan.

Kesetiaan ALLAH itu bersifat kekal abadi. Tetapi kesetiaan manusia bagaikan air laut yang bisa pasang dan surut. Sejarah keselamatan umat manusia yang tercermin dalam sejarah bangsa Israel telah membuktikan jatuh bangunnya kesetiaan, kepatuhan dan kejujuran umat manusia. 
Itulah sebabnya Yosua sebelum meninggal, menantang dan mengajak umat Israel untuk memperbaharui pilihan dan komitmennya dalam kesetiaan, kepatuhan dan sikap jujurnya kepada ALLAH.

Dalam Bacaan Pertama dikisahkan bahwa Yosua mengumpulkan para tua tua Israel dan dua belas suku Israel di Sikhem untuk mendengarkan petuah dan pesan-pesannya yang terakhir. Setelah mereka mendengarkan latar belakang sejarah panjang panggilan nenek moyang mereka sejak Bapa Abraham, Ishak dan Yakub, maka Yosua menantang orang-orang Israel itu, apakah mereka akan meninggalkan TUHAN? Lalu mereka dengan mantap menjawab: "Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!" (Yos.24:16 ). Itulah tekad dan sekaligus pembaharuan janji iman orang-orang Israel untuk tetap setia dan taat dalam beriman dan beribadah kepada ALLAH yang selama ini telah melindungi seluruh perjalanan panjang sejarah keselamatan bangsa Israel. 

Meskipun kita catat sesudah Yosua meninggal, ternyata bangsa Israel dalam perjalanan selanjutnya mereka mengingkari janji-janji dan tekad yang disampaikan di depan Yosua itu. Nyala api iman mereka seperti kembang api yang indah sesaat tetapi lalu mati tiada bekas.
Sebagai pengikut KRISTUS, kita selayaknya setiap saat tertentu mawas diri dan mengadakan pembaharuan serta tekad kesetiaan akan iman kita. Hal itu sebaiknya dilaksanakan bersama dalam suatu doa atau kesempatan khusus di  keluarga atau komunitas. Jika pada masa pandemi ini tidak dapat melakukan pertemuan tatap muka, maka dapat dilakukan dengan cara streaming/online. Dengan cara ini sekaligus kita akan menguji iman keluarga atau komunitas kita, apakah kita masih setia, patuh dan konsekuen menjalani semua ajaran YESUS KRISTUS terutama dalam masa sulit seperti pandemi saat ini atau dalam masa "pancaroba iman"? 

Dalam perikop Injil hari ini nampak jelas bahwa TUHAN YESUS tidak pernah pilih-pilih siapa yang boleh datang dan ingin menemui-NYA. Justru sebaliknya, semua orang termasuk anak-anak kecil boleh datang. Tapi ternyata mereka diusir oleh para murid, namun sikap para murid itu dikoreksi oleh-NYA: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-KU, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga". (Mat.19:14)

Sikap dan perhatian YESUS yang ANAK ALLAH kepada anak-anak sebaiknya menjadi sumber inspirasi khususnya bagi semua orangtua dan para pendidik baik dalam keluarga maupun sekolah: Sering kita dengar kisah anak-anak yang miskin perhatian orangtuanya, sekalipun dari segi materi mereka berkecukupan bahkan ada beberapa yang berkelebihan. 
Memang masalah klasik yang dikeluhkan para orangtua adalah kekurangan waktu untuk keluarga khususnya untuk anak-anak. Kesibukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga memang telah menyita waktu bukan hanya si ayah saja, melainkan juga si ibu, dengan demikian kedua orangtua sudah di luar rumah terus.

Syukurlah pada masa pandemi ini dengan adanya pembatasan gerak dan kerumunan orang, maka kesempatan orangtua bertemu dan berkumpul dengan anggota keluarga khususnya anak-anak sangat terbuka lebar.
Yang penting adalah bahwa betapa pun sibuknya orangtua, waktu untuk menyapa, membelai, memperhatikan dan mengungkapkan kasih sayang orangtua kepada anak-anak harus diadakan dan diatur sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing. Jangan sampai anak-anak kita terutama pada zaman digital saat ini mencari hiburan sendiri di medsos tanpa diketahui orangtua mereka. Selain ungkapan kasih dan sayang sehari-hari, jangan lupa membiasakan anak-anak untuk berdoa (bersama), pergi ke Misa secara langsung atau online. Inilah sebagian kecil saja usaha orangtua untuk menjaga keutuhan kesetiaan, kepatuhan iman serta sikap kejujuran. Dan satu faktor lagi yang perlu diperhatikan adalah masalah pergaulan anak. Orangtua harus tahu siapa saja teman anak-anak mereka itu. 
Cobalah kita teliti diri kita, apakah kita secara teratur sudah memberikan perhatian, sapaan dan dorongan kepada anak-anak kita?

Hari ini Gereja memperingati seorang Kudus yang berani, setia dan patuh pada ajaran- NYA, khususnya dalam hal berkorban dan amalan cinta kasih kepada TUHAN maupun kepada sesamanya. Dialah Santo Maksimilianus Maria Kolbe (1894-1941). Ia seorang imam Fransiskan yang sangat besar devosinya kepada Santa Perawan Maria yang dikandung tanpa noda dosa. Ia dikenal sebagai seorang rasul pers di Polandia dan Jepang. Ketika Nazi menyerbu Polandia, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman kerja paksa di kamp konsentrasi yang terkenal sangat dekat dengan maut yaitu Auschwitz. Di kamp maut inilah ia rela menggantikan seorang sersan yang ditawan dan dijatuhi hukuman mati. Bersama tahanan lain ia dijebloskan ke penjara yang lebih sadis, tanpa diberi makan dan minum. Ia menjadi korban terakhir dalam penjara, hingga dapat menguatkan kesetiaan dan kepatuhan iman kawan-kawan sependeritaan. Imam yang berani berkorban dan besar cinta kasihnya kepada sesama kawan sependeritaan itu akhirnya disuntik racun sampai mati.
Tahun 1982 Paus (St.) Yohanes Paulus II mengkanonisasi dan menyebutnya sebagai orang Kudus dan martir cinta kasih. Di tengah penderitaan, ia tetap setia dan rela menghibur dan menolong penderita lain dengan penuh kasih, seperti TUHAN YESUS sendiri.

Ya YESUS, ajarilah aku untuk dapat memiliki kesetiaan iman dan kepatuhan akan DIKAU, serta lebih memperhatikan dan menyayangi anak-anakku dan orang-orang yang perlu aku bantu semampuku. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas pada akhir pekan sesuai Prokes dan aturan lain. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

Magnificat Anima Mea Dominum

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Minggu, 15 Agustus 2021.
HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA :
• Why. 11: 19a. 12: 1. 3-6a. 10ab;
• Mzm. 45: 10bc. 11. 12ab;
• 1Kor. 15: 20-26; 
• Luk. 1: 39-56.

"MAGNIFICAT ANIMA MEA DOMINUM"

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga dengan mulia merupakan salah satu bentuk pengakuan Iman Gereja akan Bunda Maria, yang karena perannya begitu besar dalam karya Penyelamatan ALLAH, maka ia mendapatkan anugerah kemuliaan: diangkat ke Surga dengan mulia. ALLAH yang sejak semula berkenan memilih Maria dan memberinya peran luhur untuk mengandung dan melahirkan ANAK ALLAH, pastilah akan memperhatikan Maria pada akhir hidupnya. Kemuliaan dan hidup bersama PUTERA-NYA di Surga sangatlah pantas diberikan oleh ALLAH kepada Bunda Maria.

Bacaan-bacaan Suci hari ini semua mengungkapkan betapa agung peranan Maria, dan betapa nyata kehidupannya di dunia ini yang dijalaninya dengan penuh dedikasi, rendah hati, setia, pasrah dan bertanggung jawab. Bacaan Pertama mengungkapkan misteri ALLAH sendiri dalam diri "Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya, dan sebuah mahkota dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan. Maka tampaklah........ seekor naga merah-padam yang besar berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh dan di atas kepadanya  ada tujuh mahkota....... Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu  untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-NYA. Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada ALLAH dan ke Takhta-NYA". (Why.12: 1,2,3,4). 

Dari Bacaan ini dapat terlihat nyata bahwa panggilan luhur Maria untuk menjadi bunda YESUS, PENEBUS, tidak didapat dengan mudah dan begitu saja dijalaninya. Lihat, betapa si setan tetap mau memangsa ANAK MANUSIA itu. Jadi Maria sejak panggilan pertamanya sudah  mengalami  cobaan-cobaan hebat hingga terjadi pergumulan batin yang cukup dahsyat.

Dalam Bacaan Kedua, ditegaskan oleh Rasul Paulus bahwa KRISTUS yang menjadi "Adam Baru" telah membawa kemenangan keselamatan dan kebangkitan. Dan semua musuh-NYA telah diletakkan di bawah kaki-NYA. Dan musuh terakhir yang dibinasakan-NYA adalah maut.

Rahasia kasih dan perhatian ALLAH yang secara khusus diberikan kepada mereka yang lemah dan rendah hati telah diwartakan dalam Kidung Maria, seperti dinyatakan dalam Bacaan Injil. ALLAH konsisten dengan siapa yang dipilih-NYA untuk menjadi umat-NYA. Bangsa Israel yang menjadi budak di Mesir ditunjuk menjadi bangsa terpilih; gadis desa - Maria - dipilih menjadi Bunda ALLAH, Dalam nyanyian pujian Maria, Magnificat, "Jiwaku memuliakan TUHAN," kita menyimak bahwa ALLAH memilih yang hina dina agar di dalam dan melalui mereka, ALLAH menyatakan kebesaran-NYA. Nyanyian Magnificat menjadi nyanyian pujian umat manusia sepanjang masa akan kebesaran TUHAN, yang mengangkat orang kecil dan hina dina. Maria menjadi model dan bunda orang beriman, karena dia yakin dan percaya bahwa Rencana ALLAH akan terjadi dalam dirinya dan melalui dia terlepas dari siapa dia di mata masyarakat pada waktu itu.

Bunda Maria adalah tokoh sentral dalam Kedatangan ALLAH di dunia ini. Bunda Maria-pun telah mendapatkan tempat yang istimewa dalam hati  umat Katolik, salah satunya karena perannya sebagai perantara doa. Kita mengakui bahwa Maria adalah Bunda yang baik, bijaksana, rendah hati serta setia. Bunda juga selalu memberi teladan dalam kehidupan beriman dan menjaga kesucian, dalam sikap pasrah dan sabar kepada Rencana dan Kehendak TUHAN. Semoga kian hari kita semakin dapat meneladan Bunda Maria, dan semoga kita juga semakin dekat dan akrab dengan Bunda Maria. 

Ya ALLAH, ENGKAU telah memilih Bunda Maria sebagai Bunda PUTERA-MU dan Bundaku. Terima kasih atas terkabulnya doa-doa yang kupanjatkan dengan perantaraannya. Semoga aku mampu meneladannya dalam mengikuti jejak PUTERA-MU. Bunda Maria, doakanlah aku selalu. Amin.

Selamat pagi. Selamat Merayakan Santa Perawan Maria diangkat ke Surga. Selamat merayakan Ekaristi secara offline dan online. Selamat berhari Minggu. Berkat TUHAN.
PK/hr.

Kemiskinan Rohani Dan Kelengketan Materi

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Senin, 16 Agustus 2021.
Hari Biasa Pekan Biasa XX :
• Hak. 2: 11-19;
• Mzm. 106: 34-37. 39-40. 43ab. 44;
• Mat. 19: 16-22.

KEMISKINAN ROHANI & KELENGKETAN MATERI.

KPK sudah dibentuk, tapi korupsi jalan terus malah ibarat virus Covid makin mengganas. Sejumlah  pelaku kejahatan narkoba sudah ditembak mati, tapi bisnis narkoba tetap marak. Meski sudah ada UU anti kekerasan seksual, namun korban kejahatan seksual terus berjatuhan. Mengapa semua ini bisa terjadi?

Analisa bisa kita peroleh dari para ahli di bidangnya, entah lewat tulisan maupun seminar (online). Tetapi dengan menyimak Bacaan-bacaan Suci hari ini, kita bisa mendapatkan salah satu jawabannya yaitu masih adanya kemiskinan rohani dan keterikatan atau bahkan kelengketan erat pada materi.

Bacaan Pertama berkisah tentang dinamika kehidupan bangsa Israel sesudah Nabi besar Musa dan penggantinya, Yosua meninggal. Mereka dengan mudahnya kembali kepada penyakit lama yang pernah menjangkiti bangsa itu, yaitu penyembahan berhala. Dengan mudahnya mereka tergoda untuk menyembah dewa-dewa yang diperkenalkan oleh orang-orang "kafir" di sekitarnya. Kesetiaan dan takwa kepada ALLAH yang telah membawa keluar dari Mesir dan membantu mereka selama di padang gurun, begitu mudahnya digerogoti oleh iming-iming lain yang lebih menarik dan menyenangkan hati mereka. ALLAH mencoba membangkitkan para Hakim yang memimpin mereka, namun kesetiaan mereka hanya sementara sebatas Hakim itu masih hidup. Sungguh tragis, bangsa pilihan ALLAH sendiri telah mengalami krisis iman dan kepercayaan, sebab mereka telah jatuh pada kemiskinan rohani dan terlanda "musim kering iman serta kepercayaan." Mereka memiliki kerohanian yang dangkal. 

Bagaimana dengan kehidupan iman dan kepercayaan kita sendiri? Masihkah kita ada kemantapan akan keyakinan kita pada KRISTUS dan segala ajaran Gereja selama ini? Atau kita mulai goyah dan selalu mempersoalkan terus karena terpengaruh oleh "cekokan" yang selalu sinis dan nyinyir pada YESUS dan ajaran Gereja-NYA?

Kisah orang muda yang saleh dan kaya dalam perikop Injil hari ini sungguh berakhir secara "antiklimaks." Mengapa? Sebab, begitu bertemu dengan Guru dari Nasaret yang sudah kondang itu, semula hatinya berkobar-kobar untuk menanyakan tentang pencapaian kehidupan yang kekal. Ia merasa selama ini bekalnya sudah lebih dari cukup! Sebab, ia tergolong anak muda yang saleh, tekun dalam kewajiban agamanya. Di depan TUHAN YESUS, ia mengaku sudah menjalani semua Sepuluh Perintah ALLAH. Demikian pula sebagai orang Yahudi ia juga taat menjalankan Hukum Taurat yang tertulis dengan harapan dapat memperoleh hidup yang kekal. Lalu apa lagi yang masih kurang dalam dirinya? 

Dengan pandangan yang penuh kasih, Guru dari Nasaret itu menjawab: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di Sorga, kemudian datanglah ke mari dan  ikutlah AKU!" (Mat.19:21) Seperti disambar petir di siang bolong, "ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya." (ayat 22). Bagi anak muda itu pertemuan dengan TUHAN YESUS dianggap "gagal" dan  "antiklimaks." Itulah yang membuatnya sedih dan kecewa juga.

Ternyata bagi YESUS, menjalankan hukum tertulis secara formal itu tidak cukup. Mengikuti jalan ALLAH bukan hanya menaati secara lahir dan harfiah atas segala hukum formal yang tertulis. Bagi-NYA, mengikuti jalan ALLAH adalah menyerahkan secara total dan menggantungkan diri sepenuhnya hanya kepada ALLAH.

Dengan kata lain, totalitas, kebulatan hati, keseriusan dan tekad yang teguh merupakan tuntutan yang mutlak untuk mengikuti YESUS. Kita sebagai pengikut-NYA jangan puas hanya karena telah menjalankan aturan tertulis yang ada secara lengkap. DIA menghendaki diri kita secara utuh (jiwa dan raga) diserahkan kepada-NYA. Semua yang masih kita miliki yang masih lengket dan melekat erat pada diri kita serta dapat menghambat atau menghalangi persatuan kita dengan TUHAN YESUS, harus rela kita tinggalkan!

Tuntutan YESUS itu sebenarnya merupakan konsekuensi dari nilai hidup yang kita pilih. Bukankah YESUS merupakan "mutiara terindah" yang kita temukan? Mengapa kita ragu untuk menjual seluruh harta kita untuk memperoleh "mutiara" itu? Milik kita mungkin berupa harta, uang tabungan, emas dan logam mulia, tanah, jabatan, pangkat, kebiasaan dan kenikmatan yang tidak benar dan berbagai bentuk tingkah laku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Injili. Beranikah kita melepaskan diri dari semua kelengketan dan keterikatan akan materi,  semua itu demi YESUS KRISTUS? Atau kita malah pergi dengan sedih meninggalkan YESUS, seperti anak muda yang kaya dan saleh itu?
Dalam masa pandemi saat ini, YESUS juga menuntut kita untuk dapat hidup dalam ketidaknyamanan dan ketidakpastian, namun kita tetap mengutamakan YESUS KRISTUS, dan bukan nama baik, popularitas diri atau citra diri ataupun keuntungan pribadi dan keluarga! Sanggupkah kita?

Ya YESUS, bimbinglah aku dalam mengikuti jalan-MU. Bantulah aku untuk mengenal Kehendak-MU yang sejati dalam hidupku. Sembuhkanlah aku dari kekeringan rohani dan kebutaan akan kelengketan diri terhadap materi dan hal-hal yang tidak berkenan kepada-MU. Paculah semangatku untuk semakin sempurna dalam iman, pengharapan dan kasih. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai Prokes dan aturan lain. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Selasa, 17 Agustus 2021.
HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA: 
• Sir. 10: 1-8; 
• Mzm. 101: 1a. 2ac. 3a. 6-7;
• 1Ptr. 2: 13-17; 
• Mat. 22: 15-21. 

"HIDUPLAH SEBAGAI WARGA YANG MERDEKA!"

TUHAN YESUS dalam perikop Injil hari ini secara licik ingin dijebak oleh orang-orang Farisi yang bekerjasama dengan kaum Herodian. Sebenarnya antara dua kelompok itu tidak pernah akur. Tetapi sekarang mereka "bersatu" karena mempunyai "musuh bersama" yaitu YESUS. Dengan sanjungan yang tendensius terhadap Diri YESUS, mereka ajukan pertanyaan jebakan sbb: "Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" (Mat. 22:17). Sebelum menjawab, YESUS tanpa takut berkata: "Mengapa engkau mencobai AKU, hai orang munafik?" Dengan merujuk pada gambar yang tertera pada mata uang itu, IA bertanya: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" (lihat ayat 18,20).
Gambar tersebut menunjukkan kepemilikan dari benda tersebut. Dan selayaknya diserahkan kembali kepada pemiliknya. Logika yang sederhana tetapi sarat dengan makna yang amat mendalam. Lewat alur pikir itu YESUS ingin mengajak pendengar-NYA menyadari bahwa mereka diciptakan menurut gambar dan rupa ALLAH. Kalau seandainya mereka diciptakan menurut gambar dan rupa ALLAH, maka mereka harus menunjukkan dalam hidupnya bahwa mereka sungguh-sungguh adalah kepunyaan ALLAH dan hanya kepada ALLAH mereka layak membaktikan hidupnya; bukan untuk menuruti nafsu serakah mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dari kekayaan negara atau memeras rakyat dengan mencari keuntungan dari barang yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat banyak. (seperti obat-obatan, oksigen dan alat kesehatan pada masa pandemi ini).

Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah. Sebagai bangsa, kita peringati Kemerdekaan  bangsa Indonesia setelah dijajah ratusan tahun oleh para penjajah. Kini negara dan bangsa kita yang merdeka sudah berusia 76 tahun. Dengan merayakan Kemerdekaan ini, sebagai anak bangsa dan warga negara yang bebas, kita semua diajak untuk merenungkan dan menyadari bahwa kita semua adalah bagian dari bangsa merdeka ini yang mempunyai hak, peran dan kewajiban yang sama dengan sesama warga yang lain. Kita akui kenyataan bahwa bangsa dan masyarakat Indonesia itu bersifat "bhinneka," artinya berbeda-beda, beragam bahasa daerah, suku, ras, keturunan, agama, pendidikan dan status sosial. Bhinneka Tunggal Ika. Itulah sifat khas bangsa kita! Jangan sampai sifat ke-bhinneka-an ini diubah dan diseragamkan jadi satu suku, satu adat, satu budaya, satu agama atau pun satu saluran partai politik saja. Marilah kita jaga dan pertahankan terus sifat kehinnekaan dalam satu persatuan yaitu satu ideologi nasional Pancasila, satu Negara Kesatuan Republik Indonesia, satu Tanah Air, satu Bangsa dan satu bahasa Nasional Indonesia

Sebagai negara yang sudah merdeka, maka anak-anak yang lahir di Tanah Air ini adalah anak-anak Bangsa yang merdeka, yang mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama, tanpa membedakan asal usul daerah, keturunan, ras, agama ataupun paham politiknya.

Sebagai anak bangsa yang bebas menganut  paham keagamaan, kita adalah anak Indonesia yang beragama Katolik yang mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama dengan anak-anak bangsa yang menganut agama atau kepercayaan yang lain. Sebagai pengikut KRISTUS, kita percaya bahwa manusia diciptakan menurut gambar atau citra ALLAH. Sebagai orang yang diciptakan menurut gambar ALLAH, kita semua adalah manusia yang bebas, merdeka dan bermartabat. Seorang yang bermartabat adalah seorang warga negara yang dewasa dan bertanggungjawab. Meskipun saat ini kita masih dalam suasana pandemi Covid-19 yang memprihatinkan, namun harapan kita semoga dengan memperingati perayaan Hari Kemerdekaan yang ke 76 ini, kita semakin disadarkan: siapa sebenarnya kita ini dan milik siapa, sehingga sebagai anak bangsa yang beragama Katolik kita dapat membuktikan 100% Katolik dan sekaligus warga negara yang 100% Indonesia. 
Apakah selama ini kita baru membuktikan bahwa kita adalah orang Katolik sejati (100%), namun belum 100% Indonesia? Atau sebaliknya, ke-Indonesia-an kita 100%, namun ke-Katolik-an kita cuma seadanya (belum 100%)?

Sebagai warga negara yang bermartabat, hendaknya kita memperhatikan pesan Rasul Petrus dalam Bacaan Kedua: "Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba ALLAH. Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan ALLAH, hormatilah raja!" (1Ptr. 2: 16-17). Dengan kata lain, warga negara yang Katolik 100% dan Indonesia 100% harus juga menghormati HAM, dan taat kepada pemerintah yang sah tanpa menghilangkan sifat kritis, sebagai manifestasi tugas kenabian kita.

Dan apabila kita saat ini dipercaya menjadi pejabat publik sipil, militer atau kepolisian di tingkat Pusat atau Daerah, baik di pemerintahan, dewan perwakilan atau pun lembaga-lembaga peradilan dan kemasyarakatan lainnya, hendaknya kita perhatikan pesan dalam Kitab Sirakh dalam Bacaan Pertama: "Pemerintah yang bijak memperhatikan ketertiban pada rakyatnya, dan pemerintahan orang arif adalah teratur.... Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya, tetapi sebuah kota sejahtera berkat kearifan para pembesarnya...... Kecongkakan dibenci oleh TUHAN maupun oleh manusia, dan bagi kedua-duanya kelaliman adalah salah." (Sir.10:1,3,7). Maka bila kita dipercaya menjadi pejabat publik, kita jangan serakah, korup, semena-mena, menggunakan "aji mumpung" sewaktu berkuasa, namun harus memperhatikan kesejahteraan umum, keadilan sosial dan bekerja keras dalam birokrasi yang jujur, bersih, terbuka dan berwibawa.  Inilah tanggungjawab pejabat publik terutama bagi para pengikut KRISTUS! Jangan sampai pejabat publik yang jelas menggunakan nama baptis tetapi ikut-ikut terlibat atau malah jadi perancang korupsi, manipulasi atau penyelundupan!
Sudahkah Anda mempraktikkannya?

Ya TUHAN, kami bersyukur atas anugerah Kemerdekaan yang kami peroleh selama 76 tahun. Turunkanlah ROH KUDUS-MU kepada kami semua, terutama kepada para pemimpin dan tokoh-tokoh masyarakat, agar kami semakin menyadari akan tanggungjawab kami sebagai warga negara yang bermartabat dan sebagai pengikut-MU, untuk bisa menyumbangkan kemampuan, pelayanan dan pengabdian kami demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Amin.

Selamat pagi. Selamat Merayakan Kemerdekaan RI yang ke 76. Dirgahayu Republik Indonesia.
Merdeka! TUHAN berkati.
PK/hr.

Ambisi Kekuasaan Dan Kesombongan

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Rabu 18 Agustus 2021 
Hari Biasa Pekan Biasa  XX : 
* Hak. 9: 6-15; 
* Mzm. 21: 2-3, 4-5,
   6-7;
* Mat. 20: 1-16a.

AMBISI KEKUASAAN & KESOMBONGAN.

Dalam Bacaan Pertama  dikisahkan bahwa sepeninggal Gideon, pahlawan penghancur atas bangsa Midian, maka orang-orang Israel mulai menyimpang lagi hidupnya. Mereka  mulai mengingkari ALLAH  dan kembali menyembah berhala dengan memuja Baal- Berit menjadi allah mereka. Dalam suasana yang semakin menjauhi ALLAH itu, Abimelekh, salah seorang anak Gideon dari 70 anak lelaki Gideon, memaksakan diri untuk naik tahta menjadi raja di Sikhem. Ia menobatkan diri jadi raja setelah membunuh semua  saudara  kandungnya, kecuali Yotam  adiknya yang bungsu, bisa melepaskan diri. Sebenarnya penobatan diri sebagai raja ini bertentangan dengan  pendirian ayahnya sendiri, Gideon. Sebab, ketika rakyat mendesak supaya Gideon menjadi raja Israel, ia  menolaknya, katanya  : "Aku tidak akan memerintah kamu dan juga anakku tidak akan memerintah kamu, tetapi TUHAN yang memerintah kamu". (Hak. 8:23) 
Karena itu, Abimelekh menjadi raja, meski hanya di Sikhem, sebagian dari Israel, adalah bertentangan dengan amanat Gideon, ayahnya, dan dianggap melawan TUHAN sendiri. 

Perbuatan yang tidak patut dari Abimelekh  itu disindir juga oleh Yotam, adiknya yang bungsu, dengan kisah yang terdapat dalam Bacaan Pertama itu (Hak. 9: 6-15). Sindirannya berupa cerita dongeng tentang pohon zaitun, pohon ara dan pohon anggur yang semuanya itu ditawari oleh pohon-pohon lain untuk menjadi "raja" atas semua pohon. Tetapi ketiga pohon itu menolaknya. Hanyalah semak berduri yang menerima tawaran untuk menjadi raja. Walaupun semak berduri pada musim semi menjadi pohon yang indah, namun sebenarnya orang-orang tetap meremehkan peran semak berduri itu.  

Pesan dari dongeng sindiran itu adalah bahwa hanya orang yang bebal dan hina mau menerima mahkota kerajaan atas Sikhem. Jadi ini adalah sindiran langsung pada Abimelekh yang sangat besar ambisi kekuasaannya hingga langkahnya  "ngawur" dan tidak bertanggungjawab.

Memang, seperti halnya Abimelekh, manusia sering tidak berpikir secara positif dan jernih serta bijaksana,  karena dirinya memang ambisius dan telah dikuasai oleh ambisi kekuasaan yang berlebihan. Dan untuk menggapai kekuasaan itu tidak tanggung-tanggung, semua saudaranya kandung kakak- beradik dibantai semua. Inilah bentuk keserakahan yang tanpa batas terhadap kekuasaan.  Bagaimana kita sendiri bisa  mengendalikan diri bila kita diberi kekuasaan tertentu dalam bidang tertentu khususnya pada masa pandemi ini? Kita gunakan kesempatan itu untuk mengabdi masyarakat atau cari untung untuk keluarga dan kantong sendiri?

Perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur, seperti terdapat dalam perikop Injil hari ini memang sering menimbulkan tanda tanya : Mengapa TUHAN  bertindak kurang adil? Mengapa DIA menyamaratakan saja perolehan upah bagi pekerja yang datang sejak pagi dengan yang datang pada waktu siang dan sore? 
Sebenarnya, kalau dibaca dengan teliti, apa yang dilakukan Tuan Rumah (TUHAN) tidak salah. Coba baca ayat (2) : "Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya"  (Mat. 20:2).
Jadi, upahnya sedinar sehari, berarti bagi pekerja yang sejak pagi sampai sore bekerja memang menerima satu dinar. Mungkin yang dianggap "tidak adil" adalah pekerja-pekerja yang tidak penuh bekerja selama satu hari. 

Keadilan sering diartikan sebagai memberikan sesuatu secara sama rata; padahal keadilan adalah memberikan kepada  seseorang apa yang menjadi haknya. Namun, dalam perumpamaan ini TUHAN  bukan hanya mengetrapkan prinsip keadilan, melainkan juga kemurahan hati dan cinta kasih. Cinta kasih itu berarti memberikan kepada seseorang melebihi haknya. Itulah yang dikerjakan oleh Tuan Rumah (TUHAN) dalam kisah Injil hari ini. TUHAN memberikan orang yang masuk kerja terakhir melebihi haknya, tetapi DIA tidak merugikan hak  pekerja yang bekerja sejak pagi, pekerja itu telah menerima apa yang menjadi haknya (satu dinar). 

Kemurahan hati ALLAH tidak ada  batasnya. IA bebas memberikan kemurahan-NYA itu kepada siapa saja dan dalam bentuk apa saja. Cara ALLAH  mengasihi manusia adalah khusus, masing- masing mempunyai cara dan bentuk sendiri. Dan yang menjadi ukurannya bukanlah ukuran manusia yang dibatasi ruang dan waktu. Tiap orang pasti dikasihi ALLAH. Kita tidak perlu iri, dengki dan cemburu atas anugerah ALLAH  yang dicurahkan kepada kita masing-masing. Tetapi, bersyukurlah saja atas segala Rakhmat dan Anugerah-NYA kepada kita masing-masing. 

Perumpamaan ini juga merupakan kritik kepada orang-orang Yahudi yang sudah merasa dirinya "mapan" karena merupakan bangsa terpilih dan merasa harus mempunyai privelese khusus (keistimewaan khusus) yang berbeda dari bangsa lain. Bangsa Yahudi merasa dirinya lebih tinggi daripada bangsa "kafir" lainnya. Sikap arogan dan sombong seperti ini yang sangat tidak berkenan pada ALLAH. Sebab, kesombongan itu sifat yang sangat ditentang oleh ALLAH  sendiri. Lihatlah, dosa kesombongan telah mencampakkan para malaikat Lucifer dan kawan-kawan menjadi barisan setan yang melawan ALLAH. Demikian pula dosa kesombongan Adam dan Hawa yang mau menyamai ALLAH, telah mengakibatkan mereka diusir dari taman Firdaus. Lawanlah sikap yang arogan dan gantilah kesombongan dengan rendah hati dan akuilah secara jujur bahwa kita masih mempunyai kelemahan-kelemahan dalam diri kita. 
Sadarkah kita akan hal itu?

Ya YESUS, ajarilah aku untuk memahami Kasih ALLAH yang tiada batas, dan ajarilah pula aku untuk rendah hati dan berani membuang ambisiku yang berlebihan serta kesombongan dan arogansi serta gengsi diriku, sehingga aku pantas untuk menjadi penyalur Berkat-MU kepada sesamaku. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai dengan Prokes dan aturan lain. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr

Dengan Percaya Penuh Kita Penuhi Undangan Tuhan

πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Kamis, 19 Agustus 2021.
Hari Biasa Pekan Biasa XX :
• Hak. 11: 29-39a;  
• Mzm. 40: 5. 7-8a. 8b-9. 20;
• Mat. 22: 1-14.

DENGAN PERCAYA PENUH KITA PENUHI UNDANGAN TUHAN.

Dalam Bacaan Pertama dilukiskan tentang kesetiaan yang radikal terhadap TUHAN dari Yefta, panglima Israel. Pergumulan batin Yefta dan puteri tunggalnya sungguh tidak ringan. Demi memenuhi nazarnya pada TUHAN, Yefta harus kehilangan puteri tunggalnya. Sedang puterinya harus kehilangan kegembiraan di masa mudanya. Namun, sekalipun korban nazarnya itu adalah puteri tunggalnya sendiri, Yefta tetap kuat untuk melaksanakan nazarnya itu. "Aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur." (Hak. 11:35). Dan sikap puterinya sendiri juga patut diacungi jempol karena ia mendukung pelaksanaan nazar ayahnya itu sekalipun yang jadi korbannya adalah dirinya sendiri. "Bapa, jika engkau telah membuka mulutmu bernazar kepada TUHAN, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kau ucapkan itu." (ayat 36). Sebab, ia akan diserahkan kepada TUHAN dengan cara jadi korban bakaran! (lihat ayat 31).

Kejadian ini menunjukkan kepada kita bahwa ketetapan hati Yefta dalam memenuhi nazarnya patut dijadikan teladan, sekalipun yang menjadi korbannya adalah puterinya tunggal kesayangannya. Kesetiaan Yefta kepada TUHAN juga patut dicontoh. Tetapi sisi lain yang kurang dalam dirinya adalah bahwa ia "tidak sepenuhnya percaya dan menggantungkan diri pada-NYA." Jika ia percaya penuh, ia seharusnya tidak usah mengucapkan nazar atau sumpah apa pun. Sebab, apa yang diucapkan dalam sumpah itu ia sendiri tidak tahu sama sekali apa yang akan terjadi di kemudian hari. Tetapi dengan adanya nazar itu ada "rasa PD yang berlebihan bahkan sombong" terselip  dalam hatinya. Dengan kejadian itu TUHAN mau mengajarkan kepada kita semua bahwa kalau kita sudah percaya dan mengimani-NYA, maka harus sepenuhnya 100% percaya dan berserah kepada-NYA, tidak perlu disertai dengan sumpah atau nazar apa pun! Sikap yang tidak penuh dan utuh percaya kepada TUHAN pasti akan membuat orang masuk dalam pergumulan batin yang hebat. Apalagi Yefta sudah dipenuhi ROH TUHAN ketika menghadapi bani Amon. Itu berarti bahwa sebenarnya ROH TUHAN sudah berpihak padanya dan menyertai serta pasti akan membantu dia dalam berperang melawan bani Amon. Namun, rupanya ketetapan hatinya masih goyah, hingga ia perlu mengucapkan nazarnya itu. Rupanya penyertaan  ALLAH ini yang masih diragukannya, hingga ia harus "membayar ketidak mantapan imannya" itu dengan kematian puteri tunggalnya. Sebetulnya pengorbanan itu tidak perlu terjadi, jika ia tetap bersikap percaya sepenuhnya kepada TUHAN dan Penyelenggaraan Ilahi-NYA.
Andaikata kita menjadi Yefta, bagaimana seharusnya sikap kita yang benar?

Perumpamaan tentang perjamuan  kawin dalam perikop Injil hari ini ingin mengingatkan kepada kita bahwa relasi dengan ALLAH sebenarnya didasari oleh suatu undangan atau tawaran kepada kita. Maka hidup kita tergantung pada sikap sejauh mana kita menanggapi undangan tersebut dengan penuh kesadaran dan tanpa merasa ada paksaan. ALLAH sendiri selalu membuka DIri-NYA dan mengulurkan Tangan-NYA untuk kita, supaya kita tidak salah jalan waktu kembali kepada-NYA.
Perjamuan kawin adalah pesta sukacita, kegembiraan dan kebahagiaan. Undangan dari ALLAH itu sejatinya suatu panggilan, ajakan atau tawaran untuk datang bersukacita dengan DIA. Dengan demikian perumpamaan pesta perkawinan menunjukkan bahwa warta Kerajaan Surga dari YESUS adalah hidup yang berkelimpahan cinta, damai sejahtera dan kebahagiaan. ALLAH mengundang setiap orang untuk menanggapi undangan-NYA agar datang dan ambil bagian dalam sukacita keselamatan (lihat Mat. 22:3-10).
Tawaran cinta kasih ALLAH diberikan kepada siapa pun juga. IA memanggil manusia untuk masuk dalam kepenuhan Kasih-NYA melalui TUHAN YESUS. Persoalannya adalah pada manusia sendiri: manusia sering mengabaikan undangan-NYA itu dengan berbagai alasan; bahkan ada yang menolak kebaikan dan Kasih ALLAH itu - sekali lagi - dengan dalih dan 1001 alasan.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah  unsur persiapan kita untuk menanggapi undangan-NYA. Hal itu diungkapkan dalam simbol pakaian pesta bagi orang yang datang. Artinya, dibutuhkan persiapan yang serius untuk datang ke pesta yang disediakan buat kita. Sebab, kita tidak bisa seenaknya datang dengan pakaian lusuh atau seadanya. Jadi kuncinya adalah pada persiapan kita, sehingga sewaktu dipanggil-NYA kita sudah siap.

Orang-orang Yahudi telah dipanggil ALLAH berabad-abad sebelumnya. Tetapi mereka menolak undangan itu dengan berbagai dalih. Maka ALLAH beralih untuk mengundang kelompok-kelompok dan bangsa-bangsa lain (orang-orang di persimpangan jalan). Namun, tetap dengan syarat harus "berpakaian pesta". 

Bagi para pengikut KRISTUS yang hidup pada zaman digital saat ini perumpamaan ini merupakan satu peringatan juga bahwa status kita sebagai pengikut KRISTUS tidak otomatis menyelamatkan kita. Kita harus menjawab setiap  undangan ALLAH dengan menjalankan peran sebagai para pengikut-NYA. Hidup sebagai para pengikut KRISTUS berarti menghidupi nilai-nilai yang ditawarkan oleh TUHAN YESUS. Rasul  Paulus menyebut beberapa nilai itu adalah "belas kasih, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran serta pengampunan; dan yang paling penting dari semuanya itu adalah kasih." (lihat Kol.3:12-14). Orang-orang yang tidak memenuhi undangan-NYA mungkin bukan orang jahat, yang tekun melaksanakan tugasnya sehari-hari. Namun mereka ini tetap bersalah karena terlalu terobsesi dengan keseharian mereka hingga melupakan nilai-nilai Kerajaan ALLAH. Bagaimana sikap kita bila saat ini mendapatkan undangan-NYA ke  perjamuan Ekaristi baik secara offline atau online, yang merupakan "perjamuan kawin surgawi"?

Ya TUHAN, anugerahkanlah kepadaku karunia untuk membedakan ROH, sehingga aku dengan cepat dapat mengenal mana yang berasal dari-MU, mana yang tidak. Bantulah aku agar aku sanggup hidup sebagai pengikut-MU yang setia dan menanggapi undangan perjamuan Kasih-MU. Amin. 

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai dengan Prokes dan aturan lain. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

Jati Diri Orang Kristiani: Mengasihi

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Jumat, 20 Agustus 2021.
Hari Biasa Pekan Biasa XX
Peringatan St. Bernardus Abas dan Pujangga Gereja
• Rut.1:1.3-6.14b-16.22; 
• Mzm.146:5-10; 
• Mat. 22:34-40

Jati Diri Orang Kristiani: Mengasihi

Umat Yahudi didorong agar tindak-tanduk mereka sehari-hari selalu mengikuti hukum Taurat. Seluruhnya ada 613 perintah. Para ahli Taurat sibuk mendiskusikan, perintah mana lebih diutamakan bila dibandingkan satu dengan yang lain. Tetapi mereka tidak tahu apa patokan untuk mengukur peringkat suatu perintah. Dalam Injil hari ini, seorang ahli Taurat menanyakan masalah itu kepada Tuhan Yesus: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" (Mat 22:36)
    Yesus langsung menjawab pertanyaan itu dengan mengutip dua perintah dari kitab Ulangan dan Imamat. Yang pertama, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Yang kedua, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (lihat Ul. 6:5 dan Im. 19:18)
   Keduanya hukum lama. Hal yang baru dari Yesus adalah bahwa keduanya menjadi “satu hukum yang sama”. Keduanya saling melengkapi, yang satu tidak bisa dipisahkan dari yang lain. Tidak mungkin mengasihi Tuhan tanpa mengisihi sesama manusia, dan sebaliknya. 
    “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (ay. 40). Inilah patokan untuk mengukur peringkat berbagai perintah yang lain. Bagi kita, inilah perintah utama yang kita wujudkan lewat berbagai cara semampu “akal budi” kita.
    
Umat Kristiani didorong untuk mengasihi Allah sebab Ia telah lebih dulu mengasihi kita dengan menganugerahi kita pengampunan dosa, keselamatan, hidup baru dan kebahagiaan sejati. Dialah yang memelihara kita hingga sekarang ini. Kita bersyukur dan membalas kasih-Nya dengan meneruskan kasih itu kepada sesama.
    Kasih pada Tuhan bukanlah perasaan yang berkobar-kobar semata. Kasih terutama adalah relasi pribadi. Mengasihi Tuhan berarti kita menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan Dia, berusaha untuk semakin mengenal Dia, mendalami apa pesan dan kehendak-Nya untuk kita. 
    Mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati berarti kita setia memegang komitmen kita. Kita tetap mengasihi Dia meskipun doa kita tidak dijawab; kita tetap percaya pada Tuhan meski Ia mengatakan: “Tidak” atau “Tunggu”. Kita tetap percaya pada-Nya walau kita mengalami penderitaan, walau situasi sulit kita kelihatannya tak kunjung berubah, seperti pada masa pendemi ini.
    Bukti bahwa kita mengasihi Tuhan adalah bila kita mengasihi sesama. Kita ingat akan sabda Yesus: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu melakukannya juga untuk Aku.” (Mat 25). Mengasihi sesama yang paling hina itu identik dengan mengasihi Tuhan. 
    Kasih (agape) bukanlah perasaan romantis semata. Kasih adalah melakukan usaha serius demi kebaikan orang yang kita kasihi, tanpa memandang siapa orang itu, bahkan termasuk mereka yang memusuhi kita. 
    Apakah kasih seperti itu dapat kita lakukan dalam kehidupan nyata? Mari kita lihat contohnya dalam Bacaan Pertama, kasih Rut pada Naomi.

Ketika di Israel terjadi bencana kelaparan, Naomi bersama keluarganya mengungsi ke daerah Moab. Di negeri asing itu suami Naomi meninggal. Kedua anak laki-lakinya kawin dengan wanita Moab, tetapi kedua anaknya itu pun meninggal. Setelah keadaan di Israel membaik, Naomi memutuskan untuk kembali ke Yudea. Kedua menantunya, Orpah dan Rut, ingin ikut untuk menemani sang ibu. 
    Naomi mendesak mereka untuk pergi mencari suami lagi. Maka dengan isak tangis Orpah pun pergi. Naomi mendesak Rut untuk pergi juga, tetapi komitmen kasih Ruth pada mertuanya begitu kuat, katanya: 
"Ke mana engkau pergi,
ke situ jugalah aku pergi,
dan di mana engkau tinggal, 
di situ jugalah aku tinggal: 
bangsamulah bangsaku 
dan Allahmulah Allahku. 
(Rut 1:16).
    Kasih antara ibu mertua dan menantu jarang terjadi, apalagi jika keduanya berbeda bangsa, dan beda agama pula. Tetapi kasih Rut melintasi segala batas. Kesetiaan Rut pada Naomi merupakan wujud kasih yg mengatasi sekat-sekat SARA. Hal itu terjadi karena Rut adalah orang yg tidak dikuasai premordialisme tetapi selalu terbuka pada kebenaran dan kemanusiaan yg universal. Jauh di kemudian hari, Rut yang berhati mulia itu masuk dalam silsilah leluhur Raja Daud, juga leluhur Yesus Sang Raja Mesias. 

Hari ini peringatan wajib St. Bernardus (1090-1153), pejuang kasih lintas batas. Ia menjadi rahib di Citeaux, Prancis. Kemudian ia mendirikan biara sendiri di Clairvaux, dan biara ini melahirkan 68 biara lain. Bernardus hidup dalam masa suram: Gereja terpecah-pecah karena pertentangan berbagai kepentingan duniawi dan karena campur tangan para penguasa negara. Bernardus menjadi pejuang perdamaian antar-bangsa dengan berkeliling Eropa; ia pun menjadi penasihat para paus untuk memajukan persatuan Gereja. Selain itu, ia juga penulis ulung di bidang teologi, mengenai Kristus, Bunda Maria, dan mistik. Maka ia diberi gelar Pujangga Gereja.

Ya Tuhan, syukur atas tuntunan kasih-Mu. Kuatkan aku agar tetap setia mengasihi Engkau dan mewujudkan kasih itu dengan mengasihi saudaraku, terlebih yang menderita selama pandemi ini. Santo Bernardus, doakanlah kami. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas dengan mengikuti protokol kesehatan. AMDG. Berkat TUHAN.
RS/PK/hr.

Sikap Kesatria Adalah Orang Yang Berkarakter Dan Berintegritas

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Sabtu, 21 Agustus 2021.
Peringatan Wajib St Pius X, Paus :
• Rut. 2: 1-3. 8-11; 4: 13-17;
• Mzm. 128: 1-2. 3-4. 5;
• Mat. 23: 1-12.

SIKAP KSATRIA ADALAH ORANG YANG BERKARAKTER DAN BERINTEGRITAS

Kedua Bacaan Suci pada Peringatan Wajib St Pius X hari ini sangat menarik untuk kita renungkan secara tenang dan penuh iman.

Bacaan Pertama masih mengisahkan tentang Rut, orang asing yang menjadi anak menantu Naomi,  ternyata tutur kata dan perilakunya sangat terpuji, sopan, tulus, rendah hati dan tetap takwa kepada ALLAH, meskipun ia tergolong "orang kafir." Ia tabah menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan hidupnya yang berat. Karena itulah ALLAH sungguh berkenan dan menganugerahi kasih karunia yang berlimpah. Ia dengan setia mengikuti ibu mertuanya, Naomi, yang semakin lanjut dan lemah. Ia dengan penuh kasih melayani dan memelihara kebutuhan sehari-hari ibu mertuanya itu. Padahal biasanya hubungan antara ibu mertua dengan anak menantu perempuan, jarang serasi. Tetapi Rut, si perempuan asing itu (karena dia orang dari Moab), sungguh seorang perempuan yang berkarakter prima, berbudi pekerti luhur, sopan, tulus dan integritasnya benar-benar baik. Maka, tidak heran bila TUHAN akhirnya mempertemukan jodoh Rut ini dengan Boas, seorang terpandang dan kaya dari kaum Elimelekh, keluarga suami Naomi. Dari perkawinan Boas dan Rut ini lahirlah Obed, yang kelak menjadi ayah Isai, yang tidak lain adalah ayah Daud, yang kelak menjadi raja Israel yang terkenal itu. (Lihat Rut. 4:17-22) Dari Raja Daud inilah kelak menurunkan YESUS KRISTUS, Sang Penebus dunia. Inilah salah satu anugerah ALLAH yang besar dan terhormat kepada Rut.

Dari garis keturunan, ternyata darah kemanusiaan YESUS KRISTUS juga terdapat keturunan asing, yaitu dari Rut, orang Moab yang masih dianggap kafir itu dan sekaligus juga merupakan nenek buyut dari Raja Daud. Dari segi karakter, Raja Daud pernah berbuat dosa dengan berselingkuh dengan Batsyeba. Setelah mendapat peringatan dari Nabi Natan, bertobatlah Daud. Dan ALLAH berkenan menerima pertobatannya. Jadi nenek moyang YESUS ternyata bukanlah "orang-orang baik" semua menurut ukuran Yahudi waktu itu, serta tidak murni seratus prosen keturunan Yahudi!

Akan tetapi, janganlah kita hanya berpegang pada prinsip keturunan saja, hanya mengagung-agungkan masih keturunan "ningrat" atau masih "berdarah bangsawan." Boleh saja masih keturunan bangsawan atau "ningrat" namun kalau karakter dan tingkah lakunya tidak menunjukkan sikap ksatria dan sifat kejujuran serta berintegritas,  sebagaimana seorang bangsawan harus berperilaku, maka itu berarti suatu kenunafikan atau menipu diri sendiri. Sikap seperti inilah yang diingatkan TUHAN YESUS kepada para murid-NYA. Peringatan-NYA itu sekaligus merupakan kritik dan kecaman-NYA kepada para ahli Taurat dan orang Farisi. Sabda-NYA:
" Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkan, tetapi tidak melakukannya." ( Mat.23: 2,3).

Sikap YESUS cukup adil dan ksatria, karena DIA tetap mengakui bahwa  para ahli Taurat dan orang Farisi itu secara sah memang berhak duduk di kursi Musa, sebagai guru dan pengajar yang terhormat. Ajaran yang keluar dari mulut para ahli Taurat dan orang Farisi itu baik secara normatif, tetapi bila disandingkan dengan perbuatan mereka, ternyata mereka hanya mencari nama dan popularitas belaka supaya dikagumi dan dipuji. Lain kata - lain perbuatan: orang seperti itu jelas adalah orang yang tidak punya integritas. Orang yang berintegritas adalah orang yang konsisten dan konsekuen: perbuatannya mencerminkan perkataannya. Atau, satunya kata dan perbuatan. Orang yang berintegritas tidak pernah mengandalkan keturunan ataupun prestasi orang lain, melainkan kemampuannya dan prestasinya sendiri. Dengan kata lain, orang yang tidak berintegritas adalah tidak beda dengan orang munafik, ke mana-mana pakai "berbagai topeng": topeng agama, topeng gelar, topeng harta, topeng jabatan.
Marilah kita berani membuang topeng-topeng kehidupan kita, kita akui secara jujur segala kemampuan yang ada pada diri kita seperti apa adanya. Marilah kita juga berani berefleksi bahwa kecaman TUHAN YESUS itu bukan hanya ditujukan kepada ahli Taurat dan orang Farisi, tetapi juga kepada diri kita sendiri!

Hari ini Gereja memperingati Santo Pius X, Paus (1835-1914). Giuseppe Sarto lahir dari keluarga petani miskin. Dia anak kedua dari sepuluh saudara kandungnya. Warna kehidupannya yang miskin dan sederhana sangat menonjol sejak ia jadi Pastor Paroki, Uskup sampai terpilih Paus pada tahun 1903. Pada masa kepausannya terjadi pemisahan Gereja dan Negara di Perancis. Tindakan itu berakibat hampir seluruh milik Gereja dirampas oleh pemerintah, tapi sebaliknya memberikan kebebasan penuh kepada Gereja dari kekuasaan sipil. Selain itu ia mengadakan kodefikasi hukum Gerejani, reorganisasi dan modernisasi kuria, pendirian lembaga pendidikan Kitab Suci dan awal revisi terjemahan Kitab Suci dalam bahasa Latin (Vulgata diselesaikan tahun 1979). Ia dari dulu menyerukan pembaharuan segala sesuatu di dalam KRISTUS, menghidupkan kesemarakan ibadat, anjuran menerima Komuni tiap hari. Meski sudah Paus, namun ia tetap merasa sebagai Pastor Paroki yang penuh kasih. Setiap hari Minggu ia tetap berkotbah. Beberapa kali menyembuhkan secara ajaib orang sakit jasmani atau rohani. Menjelang wafat, ia berpesan: "Saya dilahirkan miskin, saya hidup miskin dan saya ingin mati secara miskin pula". Segera sesudah meninggal, sudah banyak desakan dari umat supaya ia segera dinyatakan "Kudus". 

Ya YESUS, ENGKAU mengetahui isi pikiran dan hatiku. Semoga semua yang aku lakukan hanya tertuju kepada Kebesaran dan Kemuliaan-MU. Ajarilah aku untuk dapat hidup dengan konsisten dan konsekuen, tanpa kemunafikan. Santo Pius X, doakanlah aku. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas pada akhir pekan sesuai dengan Prokes dan aturan lain. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

Apakah Kamu Tidak Mau Pergi Juga

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Minggu, 22 Agustus 2021.

HARI MINGGU BIASA XXI :

• Yos. 24: 1-2a. 15-17. 18b;

• Mzm. 34: 2-3. 16-17. 18-19. 20-21. 22-23;

• Ef. 5: 21-32;

• Yoh. 6: 60-69.


"APAKAH KAMU TIDAK MAU PERGI JUGA?"(Yoh.6:67)


Setelah mendengarkan ajaran TUHAN YESUS tentang Roti Hidup, banyak orang-orang Yahudi yang sudah mengikuti-NYA dari dekat, merasa kecewa karena ajaran-NYA dinilai terlalu keras. Apalagi orang-orang Farisi menyoalkan-NYA, bagaimana DIA berasal dari Surga, padahal DIA dan orangtua-NYA tinggal di Nazaret? Jadi selain merasa keras dan sulit melaksanakan tuntutan-NYA, maka banyak murid yang kecewa dan mundur teratur. "Mulai dari waktu itu banyak murid-murid- NYA mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti DIA." (Yoh.6:66). Inilah yang konon dikatakan sebagai angka "neraka" atau "angka setan"  (666). Mengapa demikian? Sebab, kalau orang meninggalkan TUHAN YESUS, sangat dipercaya bahwa ia tidak akan selamat. 


Orang yang meninggalkan TUHAN YESUS disebabkan karena berbagai alasan. Namun sebenarnya mereka menolak jalan bersama YESUS kembali kepada BAPA: bertobat dari dosa dan diselamatkan. Atas dasar itu TUHAN YESUS bertanya kepada kedua belas murid-NYA: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" Jawab Simon Petrus kepada-NYA: " TUHAN, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-MU adalah perkataan hidup yang kekal". (ayat 67,68) Petrus telah mengenal DIA dan menemukan kebenaran dalam DIA. Petrus mengasihi-NYA dan sama sekali tidak melihat ada alasan lain untuk meninggalkan DIA.

Bagaimana dengan pengalaman rohani kita sendiri berelasi dengan YESUS?


Dalam Bacaan Pertama pertanyaan yang senada juga diajukan oleh Yosua pemimpin bangsa Yahudi sesudah Musa wafat, kepada pemuka-pemuka masyarakat Yahudi, ketika menjelang Yosua wafat. Yosua bertanya kepada siapakah sebenarnya bangsa Israel itu beribadah, apakah kepada dewa-dewa seperti nenek moyang mereka di seberang Sungai Efrat atau kepada dewa-dewa orang Amori? Maka pemuka-pemuka itu menjawab: "Jauhlah dari kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!... Kami pun akan beribadah kepada TUHAN, sebab DIA-lah ALLAH kita." (Yos. 24:16,18). 

Mengapa demikian? Karena mereka merasakan bahwa TUHAN-lah yang memimpin dan menuntun perjalanan nenek moyang mereka dari Mesir ke tanah terjanji. Dan TUHAN-lah yang melindungi seluruh perjalanan hidup mereka. 


Dari permenungan kedua Bacaan Suci itu, kita sendiri kadang kala merasakan hidup ini sering membosankan, tidak ada gerak dinamika yang mendorong semangat hidup kita, apalagi pada masa pandemi saat ini yang banyak membatasi gerak ke luar rumah dan berbagai kegiatan yang biasa kita lakukan. Selama hampir dua tahun ini, masyarakat kita benar-benar terpukul oleh wabah Covid-19! Dinamika ekonomi jadi tersendat, banyak perusahaan tutup dan terjadi PHK besar-besaran. Sementara itu aktivitas belajar dan mengajar di sekolah dan kampus juga terhenti; rumah-rumah ibadah tutup; segala toko atau mall sampai warung Tegal pada tutup. Belum lagi cerita sedih dari kawan, saudara atau bahkan kakak-adik dan orangtua yang terpapar Covid dan banyak yang meninggal. Menghadapi berbagai masalah pelik itu, kadang kita takut bercampur bingung, ingin cari jalan keluar secepatnya, namun merasa buntu dan bahkan bisa timbul rasa putus asa!

Dalam kondisi yang berat dan terpukul mental kita itu, apakah kita masih percaya Kehadiran TUHAN  tetap berada di tengah-tengah kita? Atau, apakah kita mau lari meninggalkan TUHAN juga? Apakah kita bisa mengulang lagi jawaban Petrus kepada Guru-NYA: "TUHAN kepada siapakah kami akan pergi?" Cobalah kita renungkan secara mendalam, apakah kalau kita meninggalkan TUHAN, akan mendapatkan allah-allah lain yang lebih menarik dan menggairahkan serta meneguhkan hidup kita? Apakah kondisi itu merupakan jalan yang lebih baik? Ataukah kita tetap dalam lindungan TUHAN dan kita mantapkan niat kita untuk terus mengikuti-NYA dengan berserah diri secara total kepada-NYA?


Seperti halnya hubungan antara suami dan isteri tidak dapat diceraikan begitu saja karena ada alasan yang sangat mendasar, yaitu karena laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikian pula hubungan KRISTUS dengan jemaat-NYA, tidak dapat dipisahkan, karena KRISTUS telah mengasihi dan menyerahkan Diri-NYA seutuhnya untuk jemaat, seperti ditegaskan dalam Bacaan Kedua. Apabila demikian kondisinya, apakah kita sebagai jemaat sampai hati akan meninggalkan TUHAN YESUS? Cobalah kita meneladan jawaban dan sikap Petrus: TUHAN kepada siapakah kami akan pergi?


Ya TUHAN, utuslah ROH KUDUS-MU untuk meneguhkan imanku agar bila ketakutan, kebimbangan dan keraguan melanda diriku, seperti masa pandemi ini, aku tetap kuat dan tabah untuk tetap setia mengikuti jejak-MU dan memikul salib bersama-MU sampai ke puncak Golgota. Sebab, di sanalah terdapat keselamatan dan kemuliaan sejati. Amin.


Selamat pagi. Selamat Merayakan Ekaristi Kudus secara offline atau online. Selamat berhari Minggu. AMDG. Berkat TUHAN.

PK/hr.

Hipokrit

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Senin, 23 Agustus 2021.
Hari Biasa Pekan Biasa XXI :
• 1Tes. 1: 2b-5. 8b-10;
• Mzm.149: 1-2. 3-4. 5-6a. 9b;
• Mat. 23: 13-22.

HIPOKRIT!

Kecaman keras TUHAN YESUS dalam perikop Injil hari ini ibarat petir dan geledeg di siang bolong bagi para ahli Taurat dan orang Farisi. Bagi TUHAN YESUS, ahli Taurat dan orang Farisi adalah kelompok orang yang terlalu memfokuskan aspek lahiriah dari kehidupan keagamaan. Mereka memperhatikan tètèk bengèk pelaksanaan hukum dan mengabaikan substansi dari agama itu. Dengan begitu mereka menyembunyikan kunci bagi orang-orang lain untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Alasannya karena mereka tidak mengajarkan yang benar tentang agama. Oleh sebab itu baik mereka maupun orang-orang yang diajar, rasanya sangat sulit untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kritik tajam YESUS kepada ahli Taurat dan orang Farisi disampaikan dengan ungkapan khas yang diucapkan para nabi dalam Perjanjian Lama, yaitu "Celakalah." Teguran itu biasanya digunakan oleh para nabi, ketika bangsa Israel tidak mau mendengarkan undangan lembut ALLAH untuk bertobat dan memperbaiki diri. Jadi di balik kata "Celakalah" ada penolakan dari pihak manusia. YESUS menyebut mereka sebagai orang-orang munafik.
Kata "munafik", dalam bahasa Yunani: " hypocritos" juga dipakai untuk para aktor atau pemain teater. Para aktor di atas panggung bisa mementaskan drama dengan luar biasa, menampilkan orang yang kaya raya, suci, sedih, gembira, sengsara, jatuh cinta, kejam dll. Tetapi apa yang mereka perankan di panggung, tidak sama dengan kehidupan nyata mereka. Itulah yang bisa mengungkapkan makna dari kata munafik'. Apa yang di luar beda dengan apa yang di dalam. 

Karena itu penampilan luar tidak bisa menjadi tolok ukur kualitas hidup keagamaan seseorang. Orang bisa merancang penampilan sedemikian sehingga dia tampak sebagai orang yang saleh. Namun ketika semua itu ditampilkan untuk mendapat pujian atau kemudahan dari orang lain, maka orang seperti itulah yang tidak ubahnya sebagai orang "hipokrit" atau munafik! Orang-orang seperti itu biasanya menganggap orang lain lebih rendah dari pada dirinya. Mereka melaksanakan tugas hanya karena ingin dilihat dan dipuji orang!   

Sebagai murid KRISTUS, apakah kita berani mengadakan refleksi secara jujur: Bukankah diri kita sering juga berlaku seperti para ahli Taurat dan orang Farisi itu? Apakah motivasi kita untuk lebih aktif di lingkungan Gereja atau kemasyarakatan karena didorong oleh rasa ingin melayani atau cari pujian?
Ingatlah, bahwa sebagai murid-NYA kita harus bisa melepaskan diri dari kepura-puraan! Suatu perbuatan yang baik dan kudus harus mengalir dari hati yang tulus dan jujur. Segala tindakan kasih terutama yang kita lakukan selama masa pandemi ini, kiranya mempunyai landasan dan motivasi kuat hanya demi kebaikan dan dengan tujuan luhur untuk kesejahteraan sesama dan keluhuran serta kemuliaan TUHAN! Bukan untuk "pamer diri atau citra diri."

Bila dalam perikop Injil hari ini TUHAN YESUS secara terbuka melemparkan kecaman keras kepada mereka yang munafik, maka dalam Bacaan Pertama Rasul Paulus menyatakan pujian atas kebaikan-kebaikan yang dilakukan jemaat Tesalonika dalam konteks pewartaan Injil. Sebagai seorang tokoh umat, Paulus mendoakan dan memohonkan berkat ALLAH bagi mereka. Apa yang terjadi dengan jemaat di Tesalonika adalah cara hidup mereka yang dilandasi oleh iman, harapan dan kasih kepada TUHAN dan sesama. Mereka telah menjadi penurut Paulus dan tentunya juga penurut TUHAN, sehingga dalam masa penindasan yang berat mereka tetap dengan sukacita melaksanakan pewartaan dengan bantuan ROH KUDUS.
Tidaklah mengherankan bahwa mereka patut jadi teladan yang baik bagi jemaat di kota-kota lain .
Dalam masa yang sulit seperti pandemi saat ini, marilah kita meneladan jemaat di Tesalonika yang banyak berkorban sekalipun mengalami penindasan.

Ya TUHAN, bantulah aku untuk menghidupi dan menyatakan imanku secara jujur dan tulus dalam tindakan dan perbuatan sehari-hari. Singkirkanlah segala bentuk kemunafikan dari diriku. Mampukan aku untuk bertindak tegas dan bijak di depan berbagai bentuk kemunafikan. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai Prokes dan aturan lain. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.