Latest News

Wednesday, September 29, 2021

TIGA PELINDUNG UTAMA HIDUP KITA, Khusus Perlu Diketahui Oleh Michael Limunthe Ginting - Pamulang

*TIGA PELINDUNG UTAMA HIDUP KITA.*
Dalam perikop Injil hari ini, TUHAN YESUS memuji Natanael: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" (Yoh. 1: 47). Kepada Natanael yang juga bernama Bartolomeus, dikatakan oleh TUHAN bahwa dirinya akan melihat hal-hal yang lebih besar, yaitu langit terbuka dan para Malaikat ALLAH akan turun naik kepada ANAK MANUSIA. Kiranya perkataan YESUS itu juga ditujukan kepada kita semua. Kita akan melihat Kemuliaan ALLAH dengan para Malaikat-NYA, sejauh kita memiliki karakter seperti Natanael yaitu kesejatian, kejujuran, keaslian, dan jauh dari kepalsuan/kemunafikan, kepura-puraan dan korupsi.

Kesejatian hidup terwujud dalam kemurnian dan ketulusan hati setiap orang. Orang yang murni hatinya - tidak menipu, tidak bersumpah palsu, tidak mencuri - akan menerima Berkat TUHAN. (bdk. Mzm. 24: 4-5). Orang yang tulus akan memandang wajah ALLAH. (bdk. Mzm. 11:7). Keagungan ALLAH yang Mahasuci bukan saja dapat dilihat, namun juga bisa dirasakan oleh manusia. Memiliki hati yang murni, jujur, polos seturut Kehendak ALLAH, menjadi kesejatian yang menghantar kita untuk menerima anugerah ALLAH. Masihkah ALLAH menemukan iman sejati dalam diri umat-NYA di zaman ini?

Pada Pesta Para Malaikat Agung hari ini kita diingatkan bahwa ALLAH sungguh tidak akan pernah meninggalkan kita sedetik pun dalam perjalanan hidup ini. Terutama pada masa yang mencekam seperti pandemi Covid-19 saat ini, pasti TUHAN melalui Malaikat-NYA tidak akan pernah meninggalkan kita.
Apakah hal ini kita imani demikian?

Kecuali itu, banyak orang di sekitar kita menjadi "Malaikat utusan ALLAH" bagi kita. Para Malaikat (melakim dalam bahasa Ibrani) adalah utusan ALLAH untuk membimbing umat-NYA, memberikan apa yang mereka butuhkan, melindungi serta menuntun mereka dari malapetaka. (bdk. Mzm. 34: 8; Dan. 6: 22-24).

Inilah profile ketiga Malaikat Agung yang namanya sesuai dengan peran yang diberikan ALLAH:
Mikael (=yang seperti ALLAH) adalah Malaikat pelindung umat ALLAH (bdk. Dan. 10:21) dan dalam Kitab Wahyu disebutkan sebagai pemimpin para Malaikat yang berperang melawan setan.
Gabriel (=ALLAH yang kuat) adalah Malaikat yang muncul kepada Daniel pada saat persembahan kurban petang hari. Dia memberikan kepada Daniel pengertian dan menjelaskan arti dari mimpinya tentang akhir zaman. (bdk. Dan. 9: 20-27). Dia juga Malaikat yang memperkenalkan diri kepada Zakharia sebagai yang melayani ALLAH (bdk. Luk. 1: 19) dan selanjutnya kepada Maria menyampaikan kabar sukacita dari ALLAH.
Rafael (=ALLAH menyembuhkan) adalah Malaikat yang diutus untuk membimbing Tobia dan menyembuhkan kebutaan Tobit. Setelah dia melakukan tugas perutusannya, dia memperkenalkan diri sebagai Rafael, salah satu dari tujuh Malaikat yang  melayani di hadapan ALLAH. (bdk. Tb. 12:15). Ketiga Malaikat Agung itu juga menjadi teman seperjalanan kita dan senantiasa mengawal hidup kita, terutama ketika masyarakat dan bangsa kita masih berkutat pada usaha mengatasi dan nenanggulangi virus Covid-19 dengan segala variannya.

Terima kasih, ya BAPA Yang Mahakasih, atas kepedulian dan perhatian-MU dalam hidupku, teristimewa atas perlindungan ketiga Malaikat Agung-MU selama hidupku. Ya Santo Mikael, Santo Gabriel dan Santo Rafael, serta Malaikat Pelindungku, lindungilah aku selalu sampai ajalku tiba. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitias sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.


Pesta St Mikael, Gabriel dan Rafael, Malaikat Agung :
• Dan. 7: 9-10. 13-14 atau 
   Why. 12: 7-12a; 
• Mzm. 138: 1-2a. 2bc-3. 4-5;
• Yoh. 1: 47-51.

Friday, September 24, 2021

CAHAYA IMAN YANG MENERANGI DUNIA.

CAHAYA IMAN YANG MENERANGI DUNIA.

Dalam perikop Injil hari ini, TUHAN YESUS bersabda: "Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya". (Luk.8: 16).
Pesan TUHAN itu jelas, bahwa kebaikan dalam diri kita, termasuk talenta yang  kita miliki, sebenarnya bukan milik pribadi kita, tetapi juga hak orang lain untuk menerimanya. Hak itu tidak bisa ditunda untuk diberikan. Kebaikan-kebaikan bukan soal si pemilik saja, sehingga ia bisa berbuat sesuka hati. Ia harus membagikan kepada orang lain.
Kita sering lupa, kadang kita hidup demi ego sendiri. Cahaya pelita harus dapat kita bagi kepada orang lain. Potensi, bakat dan kemampuan diri kita pun harus dapat kita kembangkan dan harus menjadi berkat bagi orang lain. Ingat, bahwa kemampuan, bakat dan kebaikan yang kita bagikan kepada sesama itu sama sekali tidak akan habis dan membuat diri kita jadi miskin dan "kehabisan" bakat dan talenta. Semakin banyak kita membagi maka semakin banyak pula kita akan menerima. Maka jangan kita "pelit" berbagi!
Jika kita malas dan membiarkan kemampuan dan kebaikan itu "dibiarkan terlantar" begitu saja, maka "dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya." (ayat 18).

Karena itu sebagai murid KRISTUS yang dianugerahi berbagai talenta, harus murah hati pula mengembangkannya dan mau berbagi demi kesejahteraan bersama (bonum commune). Inilah yang menjadi dasar bagi usaha dan perjuangan para murid KRISTUS dalam bidang apa pun di abad digital ini. Janganlah kita geser kesejahteraan bersama ini dengan suatu perjuangan yang hanya menguntungkan sebagian kecil masyarakat, justru yang kaya raya. Marilah kita pertebal terus bela rasa dan perjuangan keadilan serta kesetaraan di dalam masyarakat.

Dalam Bacaan Pertama dikisahkan bahwa ALLAH menggerakkan hati  Koresy, Raja Persia untuk menggenapkan Firman-NYA yang dinubuatkan oleh Yeremia. Dari Bacaan ini nampak bahwa TUHAN bukan hanya kreatif, tetapi juga menunjukkan Ke-maha kuasa-an-NYA juga atas orang-orang kafir, kejam dan sangat sombong seperti Koresy. Bahkan ia dengan arogan menobatkan dirinya sebagai "tuhan atau dewa". Tetapi di hadapan TUHAN, Koresy itu tidak ada arti apa-apa, sekali pun ia seorang penguasa dunia yang hebat dan ditakuti. Koresy justru digerakkan hatinya untuk mengizinkan dan membiarkan bangsa Israel yang dalam pembuangan itu bisa pulang kembali ke Yehuda untuk membangun lagi Rumah ALLAH di Yerusalem.

Di hadapan kekuasaan ALLAH siapalah kita ini yang hanya "orang kecil dan sederhana" ini?
Karena itu TUHAN YESUS menegaskan kepada kita untuk "memperhatikan cara mendengar." (bdk Luk. 8: 18). Penginjil Lukas bermaksud dengan kata "mendengar" itu bukan hanya dengan telinga, melainkan juga berarti mengetahui dan melaksanakan Firman-NYA, Dan dalam melaksanakan itu juga kita meneruskan serta berbagi dengan orang lain. Melalui pelaksanaan Firman itulah kita bisa memancarkan Cahaya Iman kepada orang lain sehingga kita dapat menerangi dan mendatangkan berkat-NYA kepada orang banyak.
Sudahkah hidup kita ini menjadi Terang dan Cahaya yang memancarkan Iman, harapan dan kasih?

Hari ini Gereja memperingati 103 para Santo dan Santa di Korea yang dinyatakan Kudus oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1984. Para Martir Kudus di Korea adalah korban penganiayaan terhadap 8.000 dari 10.000 orang yang dibunuh karena mempertahankan iman akan KRISTUS. Itu terjadi antara tahun 1839-1846. Di antara para Kudus itu terdapat Andreas Kim Taegon (1821- 1846), seorang imam pribumi pertama, dan Paulus Chong Hasang (1795-1839), seorang katekis, dan masih ratusan bahkan ribuan anak-anak, kaum muda dan orangtua serta para imam yang mengikuti jejak Salib KRISTUS. Para Martir inilah Cahaya Iman yang menerangi dunia!

Ya TUHAN YESUS, ajarilah aku untuk rendah hati agar mampu KAU pakai sebagai pelita-MU yang memancarkan Cahaya dalam kegelapan dosa saat ini. Kuatkanlah imanku agar aku tidak goyah dalam menghadapi marabahaya yang mengancam Gereja-MU di Tanah Air ku ini.
Para Martir Kudus di Korea, berilah sedikit keberanian dan ketabahan hati dalam hidupku saat ini. Amin.

Bdk
20 September - Peringatan Wajib St. Andreas Kim Taegon, Imam & Paulus Chong Hasang, dkk Martir Korea :
• Ezr. 1: 1-6;
• Mzm. 126: 1-2ab. 2cd-3. 4-5. 6;
• Luk. 8: 16-18.
PK/hr.

PANGGILAN KEPADA SEORANG PENDOSA: "IKUTLAH AKU".

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Selasa, 21 September 2021. 
Pesta St. Matius, Rasul & Penulis Injil :
• Ef. 4: 1-7. 11-13; 
• Mzm. 19: 2-3. 4-5;
• Mat. 9: 9-13.

PANGGILAN KEPADA SEORANG PENDOSA: "IKUTLAH AKU".

Bergaul dengan orang-orang yang baik dan mempunyai minat dan hobby yang sama, itu adalah hal yang gampang untuk dikerjakan. Tetapi bagaimana kalau suatu hari kita harus menemui orang dan bergaul dengan mereka yang dianggap sampah masyarakat? Tidak banyak orang mempunyai nyali untuk melakukannya. Bila berhadapan dengan orang-orang yang tidak baik, sering kita menyingkir. Bahkan bisa saja terjadi dalam persahabatan, orang akan dengan mudah meninggalkan sahabatnya begitu tahu bahwa sahabatnya sekarang jadi tersangka atau terlibat dalam kasus korupsi dan jual-beli jabatan publik. Peristiwa seperti itu sering terjadi dalam masyarakat. Bagaimana dengan TUHAN YESUS?

TUHAN YESUS melakukan sebaliknya! Tindakan-NYA memilih dan memanggil "orang berdosa" seperti Matius atau juga disebut Levi dengan ajakan singkat: "Ikutlah AKU" (Mat. 9: 9), adalah tindakan yang tidak biasa, malahan dianggap ganjil. Sebab, Matius, anak Alpheus adalah seorang pemungut cukai, pemungut pajak, yang dicap sebagai penjilat bangsa penjajah dan pemeras bangsa sendiri. Orang sekelas Matius disejajarkan dengan "pembunuh, perampok, penjahat kelas kakap, pelacur dan sebangsanya itu". Dengan vonis keji dari masyarakat seperti itu, tidak heran mengapa Matius tidak
diperhitungkan sama sekali oleh bangsanya sendiri. Maka pilihan YESUS itu mendapat kecaman yang pedas dari orang-orang Farisi. Apalagi setelah YESUS pergi memenuhi undangan makan Matius bersama kawan-kawannya seprofesi, orang-orang Farisi itu makin mencibirkan bibir, sambil protes kepada para murid-NYA: "Mengapa Gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Jawaban YESUS menjadi pukulan telak bagi para pengritik-NYA: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit." (ayat 11, 12).

Dengan cara itu TUHAN YESUS mau memperlihatkan belas kasih ALLAH yang tiada batas. ALLAH mau mencari orang berdosa, orang yang hilang dan mau menyelamatkan mereka.
Apakah kita mau bersikap seperti TUHAN YESUS, yaitu ingin merangkul orang-orang berdosa untuk dipertobatkan? Atau bersikap seperti orang-orang Farisi yang "sok suci" dan selalu jaga jarak terhadap semua orang yang dinggap tidak sejalan?

Keselamatan yang dijanjikan sekaligus dihadirkan oleh YESUS tidak melekat pada status kemuridan. Dengan demikian, tidak semua orang yang sudah menjadi murid-NYA secara otomatis akan selamat. Lihat saja akhir hidup Yudas Iskariot! Maka Rasul Paulus dalam Bacaan Pertama menekankan pentingnya para murid hidup sepadan dengan panggilannya. Hidup sepadan dengan panggilannya dengan cara hidup dalam kerendahan hati, lemah lembut, sabar, mengasihi dengan saling membantu serta selalu memelihara kesatuan ROH oleh ikatan damai sejahtera. (Lihat Ef. 4: 2-3).

Matius, sang pemungut cukai, telah membuktikan dirinya hidup sepadan dengan panggilannya. Setelah YESUS naik ke Surga, Matius menyelesaikan tulisan kesaksiannya berupa Injil Matius. Dalam Injil Matius, yang ditulis antara tahun 50-65, isi penting yang ditekankan adalah bahwa YESUS dari Nazaret itu adalah benar-benar Sang Mesias yang dijanjikan oleh ALLAH dan dinubuatkan oleh para Nabi. Injilnya diawali dengan daftar silsilah YESUS KRISTUS mulai dari Abraham sampai Yusuf, suami Maria yang melahirkan YESUS.
Setelah selesai menulis Injil, Matius berkotbah dan mewartakan Kabar Gembira sampai ke Timur: Masedonia, Mesir, Ethiopia dan Persia, sampai ia mati sebagai martir di Persia.
Bagaimana dengan hidup kita setelah menjadi pengikut KRISTUS? Tetap masih setia dan konsisten, meski dalam situasi pandemi?

Ya YESUS bantulah aku dengan ROH KUDUS-MU agar aku mempunyai keberanian untuk merangkul orang-orang yang disingkirkan oleh masyarakat; berilah aku kekuatan iman untuk senantiasa hidup sepadan dengan panggilanku sebagai pengikut-MU yang setia. Santo Matius, doakanlah aku. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

TUGAS MISIONER BAGI SEMUA PENGIKUT KRISTUS.

 Hari Biasa Pekan Biasa XXV :
• Ezr. 9: 5-9; 
• Mzm. Tgpn. Tob. 13: 2. 3-4a. 4bcd. 5. 8;
• Luk. 9: 1-6.

TUGAS MISIONER BAGI SEMUA PENGIKUT KRISTUS.

Dalam perikop Injil hari ini diceritakan bahwa TUHAN YESUS memanggil dan mengutus kedua belas murid-NYA untuk pergi mewartakan Kabar Gembira. Mereka diberi tenaga dan kuasa untuk menguasai setan dan menyembuhkan penyakit. Panggilan dan tugas perutusan tersebut juga kita terima, sebab dengan permandian kita juga menjadi murid YESUS. Sekalipun kita tidak dipanggil menjadi imam, namun sebagai awam kita tidak bebas dari tugas perutusan itu. Sebagai awam yang berkiprah dalam segala jenis lapangan pekerjaan atau profesi, dari pekerjaan kasar di pelabuhan, bangunan atau pasar sampai pekerjaan halus dan canggih di perguruan tinggi dan sekolah, di lembaga penelitian, di kantor pemerintahan atau swasta, kita semua dipanggil untuk menyebarkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, kesetaraan, kesejahteraan, kedamaian, kejujuran dan etos kerja yang penuh dedikasi untuk kepentingan semua orang. Kabar Gembira bukan hanya untuk umat Kristiani saja, melainkan terutama bagi semua orang yang berkehendak baik, tanpa memandang agama, suku, budaya lokal dan tingkat sosial atau ekonomi.

Karena itu tugas missioner pada zaman sekarang tidak terbatas pada para imam dan biarawan atau biarawati, melainkan juga semua awam Katolik yang berada di tataran masyarakat dari pelbagai profesi dan fungsi. Bapa Suci Paus Fransiskus mengajak semua kaum beriman untuk menghidupkan kembali semangat missioner ini. Dan warta sukacita pasti tidak akan terjadi jika kita masih terkungkung dalam kekuasaan setan dan hawa nafsu manusiawi, seperti iri, dengki, serakah, malas, korup dan licik penuh tipu daya. Tugas perutusan kita di masyarakat juga akan gagal bila kita tidak mengandalkan TUHAN dan hanya mencari keuntungan diri sendiri. Sebagaimana para murid-NYA dituntut untuk hidup dalam kesahajaan, kita pun harus bisa hidup sederhana, tidak berlebihan hingga mengusik rasa keadilan. Kita harus bisa lepas dari pengaruh materialisme dan hedonisme. Maka pegangan utama bagi semua utusan TUHAN baik sebagai imam atau mereka yang hidup bakti, maupun kaum awam, bukanlah terutama uang, bekal materi atau dirinya sendiri, tetapi TUHAN-lah yang dijadikan titik pusatnya, sebab DIA-lah yang mengutus! Maka relasi dengan TUHAN YESUS menjadi mutlak dan harus dinomor satukan!
Mari kita mawas diri: sudah sejauh mana kita menjalankan tugas perutusan sehari-hari di dalam masyarakat kita? Secara khusus, pada masa pandemi ini kegiatan bela rasa apa yang sudah kita kerjakan? Masih sanggupkah kita mengemban tugas perutusan di masyarakat kita?

Para pewarta Kabar Gembira juga dituntut untuk mempunyai sikap rendah hati namun tetap berani untuk bersikap tegas, sebagaimana nabi Ezra dalam Bacaan Pertama. Dengan mengoyakkan jubahnya dan sambil bersujud dengan rendah hati kepada TUHAN, nabi Ezra menyesali segala dosa dan perilaku bejat amoral serta berhala-berhala yang dilakukan oleh para pemimpin serta orang-orang Yahudi. Ia berbuat silih untuk pertobatan orang-orang berdosa itu dengan cara menyiksa dirinya sendiri. Sebenarnya berbagai sangsi dan hukuman demi hukuman sudah dijatuhkan kepada mereka yang tidak setia. Akan tetapi mereka pada dasarnya orang yang tegar-tengkuk dan cepat lupa serta mudah jatuh ke lembah dosa lagi!

Kita kadang tidak berbeda jauh dari orang-orang Yahudi, yang merasa dipilih dan diistimewakan oleh TUHAN, tetapi perbuatan mereka tidak menunjukkan kualitas bangsa yang terpilih! Kita menjadi sombong dan merasa serba bisa. Akibatnya mudah jatuh ke dalam kenistaan dosa dan bergumul dalam berhala. Datanglah pada YESUS: Ajaklah YESUS untuk berdialog dengan kita; dan bicaralah terus terang tentang kondisi yang dialami oleh masing-masing person apa yang berat sekali hingga memerlukan bantuan TUHAN YESUS.

Ya YESUS, ajarilah aku untuk rendah hati dan tulus serta bertanggung jawab dalam mewartakan kebenaran Injil-MU, sehingga aku sungguh-sungguh menemukan sukacita dan membawa berkat bagi banyak orang. Jadikanlah aku alat-MU sebagai pewarta kebenaran-MU dalam semua segi kehidupanku. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

KEKUASAAN SEJATI SEBAGAI SALURAN BERKAT-NYA.

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Kamis, 23 September 2021. 
Peringatan Wajib St. Padre Pio dari Pietrelcina, Imam :
• Hag. 1: 1-8; 
• Mzm. 149: 1-2. 3-4. 5-6a. 9b;
• Luk. 9: 7-9.

KEKUASAAN SEJATI SEBAGAI SALURAN BERKAT-NYA.

Dalam Bacaan Pertama dikisahkan bahwa Hagai sebagai nabi pertama setelah masa pembuangan di Babilonia, mewartakan Sabda ALLAH yang sama sekali baru. Nabi-nabi terdahulu selalu mencela dosa-dosa Israel dan menyampaikan penghakiman yang telah dekat. Tetapi setelah masa pembuangan ini, nabi Hagai harus membangkitkan semangat baru untuk membangun harga diri Israel. Karena itu Hagai menganjurkan agar bangsa Israel tidak mementingkan diri sendiri dengan membangun rumah-rumahnya yang bagus sementara membiarkan Bait ALLAH dalam reruntuhan. Kebahagiaan hidup bukan karena banyaknya pendapatan dan rejeki atau melimpahnya makanan semata, tetapi terutama ditentukan oleh kedekatan pada TUHAN. Maka ALLAH melalui nabi Hagai berkehendak agar bangsa Israel bersemangat dalam membangun Bait ALLAH dahulu. "Jadi, naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka AKU akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan Kemuliaan-KU di situ". (Hag. 1:8).

Dalam kehidupan kita sehari-hari, di manakah TUHAN akan kita tempatkan? Apakah komunikasi dengan TUHAN menjadi prioritas kita setelah bangun pagi, misalnya dengan berdoa dulu atau langsung mencari HP/IPhone/Ipad/Laptop dan untuk TUHAN kita sisakan waktu sedikit (itupun kalau masih ingat)? Carilah sumber kebahagiaan sejati, baru kemudian memikirkan lainnya.

Dalam perikop Injil hari ini rupanya Herodes Antipas, raja wilayah Galilea, gelisah dan cemas dengan kehadiran YESUS tampil di masyarakat. Segala yang dilakukan TUHAN YESUS, tampaknya mengingatkan dia akan sosok Yohanes Pembaptis yang telah dipenggal kepalanya. Herodes khawatir pengaruh YESUS semakin besar dan mengganggu kekuasaannya. Karena itu Herodes "berusaha supaya dapat bertemu dengan YESUS." (Luk. 9: 9b). Pertemuannya itu pasti bukan bertujuan untuk sekedar berkenalan atau menuruti rasa keingin-tahuannya! Bisa-bisa YESUS langsung ditangkap dan dibunuh seperti Yohanes Pembaptis. Dia anggap YESUS itu menjadi saingan beratnya di Galilea, karena ia juga menangkap keinginan  kebanyakan orang Yahudi mendambakan DIA untuk jadi Raja bangsa Israel yang membebaskan dari penjajah Romawi.

Kekuasaan bukanlah dapat menjamin kebahagiaan sejati dan keselamatan hidup kita. Memang benar bahwa melalui kekuasaan kita bisa berbuat kebaikan lebih banyak lagi untuk masyarakat. Kekuasaan itu harus kita pandang sebagai cara TUHAN untuk memakai kita untuk menjadi saluran Berkat-NYA! Namun dalam praktiknya semakin besar dan semakin lama kekuasaan, maka orang cenderung menyalahgunakan kekuasaan itu. Orang mudah lupa bahwa kekuasaan adalah amanat TUHAN untuk mendatangkan kesejahteraan dan ketenteraman bagi masyarakat banyak (bonum commune). Tetapi sering kekuasaan dijadikan tujuan hidupnya, hingga dengan cara apa pun harus dapat dicapai dan dipertahankan selama mungkin. Motivasi seperti itu pasti akan merugikan seluruh masyarakat, bila dirinya berhasil mencapai kekuasaan. Penguasa seperti itu mudah mencurigai setiap orang yang dianggap saingan atau musuhnya; dia akan selalu takut dan khawatir terhadap orang-orang yang kreatif dan kritis serta berbeda pendapat. Namun, semuanya itu tidak akan terjadi bila kekuasaan atau jabatan itu dikontrol oleh lembaga pengawasan yang bertanggung jawab, berani dan jujur. Dengan demikian kekuasaan hanya dapat dicapai dan diemban untuk melayani masyarakat dan berusaha kuat menyejahterakan rakyat, bukan untuk menguasai dan mencari keuntungan pribadi dan kelompok sendiri. Ingatlah akan prinsip kepemimpinan YESUS KRISTUS: bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.
Sudahkah kita sadari akan konsep kekuasaan yang benar?

Tokoh panutan orang kudus yang kita rayakan hari ini adalah St Pius dari Pietrelcina atau lebih dikenal sebagai Padre Pio (1887-1968), anak orang miskin dan pekerja keras. Sejak kecil Francesco Forgione sudah bercita-cita menjadi seorang biarawan miskin yang berdoa. Seorang rahib Fransiskan Kapusin amat mempengaruhi hidupnya, hingga ia tertarik masuk menjadi imam. Setelah diberkati sebagai imam, badannya sakit-sakitan hingga ia dikembalikan ke paroki asalnya untuk menjadi pastor rekan. Di sinilah Padre Pio mengalami stigmata, yaitu merasakan sakitnya dari kelima luka YESUS KRISTUS akibat tusukan paku dan tombak. Selain itu Padre Pio juga penuh dengan Kurnia mistik dan dianugerahi kemampuan membaca jiwa, berada di dua tempat
dalam waktu bersamaan dan stigmatanya mengeluarkan keharuman bunga rose dan violet. Sebagian besar waktunya digunakan untuk berdoa dan menerima pengakuan dosa, karena banyak sekali umat Katolik dari pelbagai tempat dan negeri pergi ke pengakuan Padre Pio. Paus Yohanes Paulus II menyatakan Padre Pio sebagai Beato pada 22 Mei 1999 dan dikanonisasi  sebagai Santo pada 16 Juni 2002.

Ya YESUS, ajarilah aku untuk berdoa dengan benar dan berilah aku hati yang bersih, serta jauhkanlah diriku dari sifat ambisius yang keterlaluan terhadap kekuasaan. Aku juga berdoa bagi para pemimpin bangsaku agar mencurahkan perhatiannya untuk seluruh rakyat dan menjaga ketentraman masyarakat. St Padre Pio, bebaskanlah bangsa kami dari wabah Virus Corona 19. Amin. 

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

Salib dan Penderitaan Yang Menyelamatkan

 [06.53, 24/9/2021] +62 821-1397-0579: πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Jumat, 24 September 2021.
Hari Biasa Pekan XXV
• Hag. 2:1b-10; 
• Mzm. 43:1-4; 
• Luk. 9:18-22

Salib dan Penderitaan Yang Menyelamatkan

Dikisahkan dalam Injil hari ini, atas nama para murid, Petrus menyatakan bahwa Yesus, Guru yang mereka ikuti itu, adalah Mesias yang datang dari Allah. Tetapi Yesus langsung menjelaskan, bahwa Ia bukan Mesias penguasa politik yang akan mengusir penjajah seperti yang mereka pikirkan. Yesus mengatakan: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga." (Luk 9:22).
    Ketika merenungkan sengsara dan penyaliban Tuhan Yesus, terutama pada hari Jumat Agung, umat Kristiani merasa sangat bersyukur karena Kristus telah wafat untuk kita. Tetapi banyak umat juga sedih dan merasa bersalah karena dosa kita telah menyebabkan Yesus begitu menderita.
    Sebagian umat bertanya, mengapa untuk menebus dosa kita Kristus harus wafat di salib dengan penderitaan yang tak terperikan itu? Mengapa Allah yang penuh belas kasih tidak langsung mengampuni dosa kita saja, dan Yesus tidak perlu menderita dan wafat di salib? Siksaan luar biasa itu kiranya lebih cocok untuk meredakan Allah yang marah dan balas dendam, bukan Allah yang pengasih dan pengampun. 
    Untuk memahami mengapa Kristus harus sengsara dan wafat, kita mesti ingat bahwa selain penuh kasih, Allah itu juga mahaadil. Karena Ia adil, Allah tidak bisa menutupi dosa-dosa kita begitu saja. Seorang hakim di pengadilan tidak bisa membebaskan penjahat tanpa memberinya hukuman sama sekali, hanya karena si penjahat sudah menyesal. Hakim seperti itu akan dicerca dan tidak bisa diterima. 
    Demikian juga Allah, Ia harus bertindak adil. Karena Allah adil, kita harus dihukum. Kita layak dihukum karena dosa-dosa kita. Tidak bisa kita langsung masuk surga begitu saja. Jika kita belum menyadari betapa serius dosa-dosa kita dan betapa adil bila kita dihukum, kita tidak akan merasakan betapa besar kasih Allah.
    Kita seharusnya dihukum! Tetapi, karena kasih-Nya pada kita, Allah merelakan Putra-Nya untuk menderita dan wafat, menggantikan kita untuk menanggung hukuman itu. Karena kasih dan ketaatan-Nya, Kristus rela menderita, membayar hutang dosa-dosa kita, sehingga Allah yang penuh kasih itu dengan adil dapat menyelamatkan kita dari hukuman.
    Allah Bapa menghendaki agar kita tinggal bersama Dia di surga. Maka Ia mengutus Putra Tunggal-Nya untuk menderita dan wafat demi pembebasan kita. Namun, itu tidak berarti bahwa Yesus sengaja mencari penderitaan dan salib. Ia disingkirkan sebagai akibat dari karya kasih dan ajaran-Nya. Karena Yesus menyembuhkan banyak orang sakit, dan ajaran-Nya memukau banyak orang, maka banyak orang mengikuti Dia. Bagi para pemuka orang Yahudi, hal itu dianggap sebagai ancaman, sehingga meski tak bersalah, Yesus harus dihukum mati.
    Karya penyelamatan lewat Kristus itu membuktikan betapa berharganya kita di mata Bapa, dan betapa besar kasih-Nya pada setiap orang dari kita. Allah memberikan keselamatan itu murni sebagai hadiah. Kita bebas untuk menerima atau menolaknya. Jika kita percaya pada Kristus dan setia menjadi murid-Nya, maka karya keselamatan itu terjadi pada kita: Allah memberi kita hidup abadi dan membebaskan kita dari kematian kekal. Inilah Kabar Gembira dari Tuhan kita Yesus Kristus. 
    Para murid Kristus perlu menyadari bahwa Sang Mesias itu menjalani sengsara dan wafat bukan hanya untuk memperbaiki relasi kita dengan Allah, tetapi agar kita pun melanjutkan karya keselamatan itu dengan menempuh jalan yang sama. "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. (ay. 23). Kita mesti belajar melihat bahwa perjuangan, pengorbanan, sakit dan penderitaan, kegagalan dan kekecewaan dalam hidup kita, semua itu harus kita jalani untuk menyelamatkan dan menyembuhkan saudara kita yang menderita.

Karya keselamatan Allah dalam Kristus tampak lebih agung jika kita melihatnya dalam sejarah keselamatan. Dalam Bacaan pertama, Nabi Hagai menyampaikan ajakan Allah agar umat Israel yang sudah terbebas dari pembuangan itu tidak melupakan segi rohani dalam kehidupannya. Untuk itu hendaknya mereka membangun kembali Rumah Allah. Allah berjanji, Ia akan mengguncang dunia (Persia akan jatuh ke tangan Aleksander Agung), dan kekayaan dunia akan mengalir ke Israel. “Maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan,” (Hag 2:7).
    Janji Allah itu terpenuhi dengan kedatangan Sang Mesias. Pada waktu Ia datang, Bait Allah dipenuhi dengan kemegahan besar, bukan hanya dengan hiasan indah, tetapi karena Putra Allah sendiri hadir di dalamnya. Yesus beberapa kali mengajar dalam Bait Allah di Yerusalem.
    Begitu pula sekarang, gedung-gedung gereja menjadi megah bukan saja karena keindahan bangunannya (gubuk beratap daun pun jadi), tetapi karena Tubuh Mistik Kristus (umat Kristiani) hadir di dalamnya, yaitu saat mereka merayakan Ekaristi: saat mereka merayakan karya keselamatan Tuhan untuk diresapkan dalam hati dan diteruskan kepada semua orang.

Bapa yang penuh kasih, Putramu telah rela menderita demi keselamatanku serta keselamatan umat manusia. Berilah kekuatan agar aku pun sanggup berkorban dan menderita untuk mewujudkan keselamatan dan kebahagiaan bagi semua orang. Amin.
 
Selamat pagi. Selamat beraktivitas dengan mengikuti Prokes dan aturan lain. AMDG. Berkat TUHAN.
RS/PK/hr.
[07.56, 24/9/2021] CalegGolKar Rasnius Pasaribu: Selamat pagi rekan2,

Kalau ada waktu senggang, berkenan melihat2 isi website KVKI Pesparani Katolik. Berkenan juga share kepada rekan2 Katolik lainnya untuk menyaksikan.

Salam

Monday, September 13, 2021

PANGGILAN DAN DAYA KUASA DOA.

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Selasa, 7 September 2021.
Hari Biasa Pekan Biasa XXIII :
• Kol. 2: 6-15;
• Mzm. 145 : 1-2. 8-9. 10-11;
• Luk. 6: 12-19.

PANGGILAN DAN DAYA KUASA DOA.

"Pada waktu itu pergilah YESUS ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman IA berdoa kepada ALLAH." (Luk. 6: 12).
YESUS adalah Pribadi yang berakar pada Yang Ilahi. Dalam beberapa perikop Injil kita dapati bahwa DIA selalu pergi menyepi ke atas gunung atau bukit untuk berdoa. Memang YESUS selalu menimba kekuatan dari BAPA-NYA dalam keheningan doa. Doa membuat DIA menyimak lebih jelas dalam mencermati apa yang dikehendaki BAPA. Doa membuat DIA dan BAPA bersatu dalam Kuasa dan Kekuatan Cinta Kasih untuk mempersiapkan  Karya Keselamatan-NYA. Salah satu keputusan penting dalam kehidupan TUHAN YESUS adalah memilih orang-orang yang tepat untuk meneruskan Karya Misi Penyelamatan-NYA. Maka dalam keheningan selama satu malam suntuk, kesadaran-NYA yang Ilahi dan manusiawi bersatu, melebur dalam suatu kekuatan "ekstase rohani." Setelah mendapat kekuatan dari keheningan persatuan dengan BAPA, DIA memilih dua belas orang yang disebut Rasul.

Dalam peristiwa pemilihan para Rasul ini ada dua hal yang patut kita renungkan:
Pertama, para Rasul dan para murid yang dipilih-NYA adalah pribadi-pribadi yang didoakan oleh YESUS. Bukan hanya pada waktu mereka dipilih saja melainkan pada kesempatan lain, DIA juga mendoakan para murid-NYA, misalnya sebelum menderita sengsara, DIA mendoakan para murid dan juga para jemaat mereka. (LIhat Yoh. 17: 1-26). Doa-NYA tetap berlaku sampai sekarang untuk para murid zaman digital ini yang DIA panggil dan DIA pilih. 
Kedua, YESUS memberi teladan untuk menjadi Pribadi yang mengakarkan Diri pada  Yang Ilahi. Hal ini tercermin pada kebiasaan-NYA selalu  berdoa sebelum melakukan suatu kegiatan. Apakah kita juga mempunyai kebiasaan berdoa sebelum memulai pekerjaan terlebih sebelum memutuskan sesuatu yang penting dalam hidup kita?

Dalam hal ini nasihat Rasul Paulus dalam Bacaan Pertama perlu kita perhatikan yaitu "hendaklah hidupmu tetap di dalam DIA. Hendaklah kamu berakar di dalam DIA dan dibangun di atas DIA." (Kol. 2: 6,7).
Dalam setiap peristiwa hidup yang kita alami, termasuk masa pandemi Covid-19 yang masih menyerang umat manusia secara mondial ini, baik suka-duka, gagal-sukses, letih-bergairah, maupun dalam pesimisme dan optimisme, semuanya itu harus kita bawa sampai di bawah Kayu Salib-NYA di Golgota. Karena itu, seluruh perjalanan Misi KRISTUS tidak selalu berisi "success stories" melainkan banyak yang berisi umpatan dan hojatan pada ALLAH. Yang penting adalah bahwa kita harus tetap teguh dalam iman dengan disertai hati penuh syukur sekali pun banyak "salib" yang kita hadapi seperti saat pandemi yang sekarang ini melumpuhkan semua segi pertumbuhan kehidupan manusia. 

Panggilan para murid mengandung makna bahwa TUHAN hendak melibatkan setiap orang dalam "proyek keselamatan" yang diwartakan-NYA. Panggilan kemuridan pertama-tama melibatkan orang-orang yang terbuka hatinya dan mau menanggapi tawaran-NYA tanpa syarat.
Panggilan menjadi murid TUHAN sungguh suatu misteri. Kita tidak tahu kriteria yang digunakan TUHAN dalam memilih jadi murid-NYA. Yang dipilih juga seharusnya tidak perlu merasa besar hati dan sombong karena dipakai TUHAN untuk meneruskan Karya Penyelamatan-NYA. Apa pun latar belakang kita, apa pun masa lampau kita, Rencana dan Kehendak TUHAN pasti akan terjadi. Walau TUHAN mengambil resiko memilih kita, namun DIA tidak akan meninggalkan kita. Kita hanya diharapkan untuk tetap rendah hati, membuka diri terhadap Kehendak-NYA dan terus pasrah serta bersandar kepada-NYA, agar apa yang kita wartakan sungguh mengungkapkan isi Hati ALLAH sendiri.
Apakah kita berani menjawab panggilan TUHAN di tengah segala kesibukan dan pekerjaan yang kita geluti? Ingat, sekalipun kita sudah dipanggil, tetapi kita masih punya kehendak bebas untuk mengatakan "ya"  atau "tidak"!
Karena itu, peran doa sangat vital dan mempunyai daya dan kuasa yang luar biasa dalam proses pemilihan dan pertumbuhan panggilan! Doa dan panggilan tidak mungkin dipisahkan satu dari yang lain!

Ya TUHAN YESUS KRISTUS, terima kasih atas Rakhmat panggilan jadi murid-MU. Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadaku, terlepas dari kerapuhanku. Aku percaya, ENGKAU memilih dan ENGKAU pulalah yang akan menguatkan panggilan hidupku. Aku berserah total kepada-MU. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

TERBITLAH SANG PUTERI FAJAR.

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Rabu 8 September  2021 Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria :
* Mi. 5: 1-4a atau  
   Rm. 8: 28-30; 
* Mzm. 13: 6ab, 6cd;        
* Mat. 1: 1-16, 18-23
   (atau Mat. 1: 18-23).

TERBITLAH SANG PUTERI FAJAR.


Biasanya kalau kita merayakan pesta para Kudus adalah pada saat hari wafat mereka, karena pada hari itu masing-masing telah terlahir ke dalam sukacita Surgawi. Namun, hal itu tidak berlaku untuk Santa Perawan Maria. Perayaan secara liturgis hari kelahiran SP Maria mulai pada akhir abad ke-6 dalam liturgi Gereja Katolik Timur dan Ortodoks, yang kemudian menyebar ke Roma pada akhir abad ke-7. Mengapa kita rayakan hari kelahiran SP Maria? Karena Maria lahir ke dunia ini  dengan penuh Rakhmat dan karena ia adalah Bunda YESUS, Bunda ALLAH.  Menurut kisah yang sudah men-tradisi, setelah kelahiran Maria, orangtuanya, St Yoakim dan St Anna, mempersembahkan  puterinya di Bait Suci, untuk menjalani hidupnya sebagai seorang gadis yang tetap kudus.

Nabi Mikha, seorang nabi yang seangkatan dengan Nabi Yesaya (740 SM)  dalam Bacaan Pertama telah bernubuat tentang Raja Mesias dan Penyelamatan Israel : "Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-KU seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. Sebab itu, ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan" (Mi. 5: 1, 2).   

Hari kelahiran SP Maria memang tidak terdapat dalam Kitab Suci. Namun, Gereja menghargai praktik-praktik dan pengamalan bakti ( devosi ) kepada Bunda Maria. Di sepanjang sejarah Gereja terdapat 15 (lima belas) pesta liturgis yang berhubungan dengan SP Maria, salah satunya adalah Hari Kelaniran SP Maria (8 September). Hari Kelahiran SP Maria bagaikan fajar. Ketika langit mulai berubah menjadi kemerahan di pagi hari, kita tahu sebentar lagi matahari akan muncul. Begitu juga ketika Maria lahir, ia seperti "Puteri Fajar" membawa sukacita besar kepada dunia. Kelahirannya berarti menandakan  bahwa YESUS, Sang Matahari Keadilan, akan segera muncul. Maria adalah sosok gadis perempuan desa yang sangat sederhana akan tetapi memperoleh panggilan yang sangat mulia, luhur,  terhormat dan terpuji. ALLAH  merencanakan Penyelamatan dunia melalui rahim seorang perawan desa. Maria mendapat panggilan untuk mengandung dan melahirkan Sang Mesias, yang sudah dinanti-nantikan  kedatangan-NYA sejak ribuan tahun sebelumnya. Selanjutnya Maria harus merawat, mengasuh, mendidik, membimbing dan membina serta mendampingi Kanak- kanak YESUS, bersama "Ayah angkat-NYA" Bapa Yusuf, yang juga sangat bertanggung jawab sebagai seorang Bapa yang baik maupun Kepala rumah tangga yang melindungi dan selalu memberi rasa kedamaian dan kerukunan 
Kelahiran SP Maria pasti merupakan satu titik penting dalam Sejarah Penyelamatan yang menurut  Rasul Paulus disebut suatu kegenapan waktu "setelah genap waktunya, maka ALLAH mengutus ANAK-NYA, yang lahir dari seorang perempuan.." (Gal.4:4). 

Bacaan Injil hari ini dari Matius justru mengungkapkan silsilah YESUS, dan sama sekali tidak mencantumkan nama Maria. Nampaknya terasa aneh, mengapa nama orang yang dipestakan hari ini tidak disebut dalam Injil. Memang, dalam tradisi dan budaya bangsa Israel yang paternalistik, peran lelaki sangat dominan dan lebih utama dari pada perempuan. Namun demikian hal itu semakin menampakkan keistimewaan Maria. Ia yang berperan besar dalam Sejarah Penyelamatan, tidak tampil secara mencolok mata. Inilah tipikal Maria yang tidak lupa diri karena keluhuran budi dan  panggilannya. Maria tetap rendah hati, tidak menonjolkan diri, sederhana, dan penuh tanggung jawab bersama Yusuf dalam menjaga, mendidik, mengasuh, membimbing dan membesarkan Kanak- kanak YESUS, Sang Penebus dunia. 

Dalam kehidupan modern saat ini orang cenderung biasa "narsis", suka sekali menonjolkan  ego-nya, orang susah mau rendah hati dan mendengarkan saran orang lain. Sedikit sekali orang yang mau hidup bersahaja dengan semangat "miskin" atau sekurang-kurangnya sederhana, apa adanya. Orang tergoda oleh spirit hedonisme dan materialisme. 

Demikian pula dalam pergulatan yang menyentuh inti iman, tantangan kita begitu hebatnya. Kita sering ditantang untuk meninggalkan iman demi jabatan, perkawinan ataupun materi/uang. 

Pada hari perayaan Kelahiran SP Maria ini, marilah kita mawas diri dan menjadikan teladan seorang perawan desa yang jujur, kudus, polos, rendah hati, tabah dan tangguh, peduli terhadap sesama serta selalu pasrah secara total kepada Kehendak- NYA. "Aku ini adalah hamba TUHAN; jadilah padaku menurut perkataanmu ("Malaikat") itu"(Luk. 1: 38).

Apakah kita mau dan berani meneladani  Maria dalam kehidupan beriman dan dalam kehidupan sehari-hari di dalam keluarga/komunitas dan masyarakat, terlebih pada masa pandemi ini di mana dituntut rasa solidaritas yang besar kepada sesama?

Ya BAPA Yang Maha Rahim, aku bersyukur karena ENGKAU telah memanggil dan memilih Maria untuk menjadi Bunda ALLAH, kami mohon kiranya kesederhanaan, kejujuran, kekudusan dan kepasrahan total dari Bunda kepada Penyelenggaraan  Ilahi-MU dapat kami teladani dengan penuh iman dan tanggung jawab. Bunda Maria, doakanlah kami, anak-anakmu yang berdosa ini. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr

SEMANGAT LEBIH.

SEMANGAT LEBIH.

Bacaan-bacaan Suci  hari ini menunjukkan secara khas tentang kristianitas kita. Menjadi pengikut KRISTUS adalah suatu panggilan. Dan tidak tanggung- tanggung lagi tuntutan TUHAN YESUS ini kepada para pengikut-NYA, yaitu "Kita dituntut menjadi sama seperti BAPA di Surga, menjadi sempurna seperti BAPA-mu di Surga!" Atau, pada perikop Injil hari ini YESUS menuntut kita untuk berbelas kasih, bermurah hati serta mempunyai  semangat lebih  dalam hal cinta kasih. "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti BAPA-mu adalah murah hati" (Luk. 6: 36).  Bagaimana mungkin kita manusia yang berdosa mempunyai karakter yang sama atau serupa dengan ALLAH BAPA? Mana mungkin?  Memang kalau dipikir secara rasional, hal itu tidak mungkin. Akan tetapi, beriman bukanlah sekedar berkutat atau hanya mengandalkan pada rasio manusia. Beriman harus jauh lebih dalam dari pada sekedar kemampuan otak sehat, yaitu mengandalkan belas kasih dan kekuatan dari ALLAH sendiri. "Sebab bagi ALLAH  tidak ada yang mustahil" (Luk. 1: 37). Sikap beriman harus bisa seperti yang dilakukan oleh Bunda Maria : "Sesungguhnya aku ini adalah hamba TUHAN, jadilah padaku menurut perkataan - mu (Malaikat) itu" (Luk. 1: 38). 
Sikap sebagai hamba yang harus taat pada perintah-NYA. Sering kali sikap ini yang kita lupakan, kita lebih "bossy" dari pada ALLAH, lebih hebat dan rasional karena sudah  dibuktikan secara tehnokratis, profesional dan computerized oleh para pakar. Beriman harus dilandasi dengan sikap rendah hati dan pasrah secara total (bukan setengah- setengah!) kepada Kehendak dan Rencana- NYA. 

Kembali ke perikop Injil hari ini, kita bisa katakan sebagai ajaran universal dari semua agama atau keyakinan manapun : "Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka" (Luk. 6: 31). Atau dapat juga dikatakan "Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu" (ayat 38). Meskipun, dari pengalaman hidup kita terkadang perlakuan orang terhadap kita sama sekali jauh dari harapan kita, tidak sesuai dengan apa yang kita perbuat  bagi mereka. Kita berlaku baik, misalnya  menolong atau  menghormati orang dan bersikap toleran terkadang dibalas dengan sikap tidak simpatik, tidak bersahabat, curiga dan tidak membalas dengan sikap hormat, malahan cenderung menghina dan melecehkan serta bersikap "nyinyir". Apakah kita berhenti pada sekedar berbuat baik, menghormati perbedaaan atau bersikap toleran? Apakah kita akan membalas dengan ejekan, sinis dan sarkastis atau perlakuan kasar lainnya, kalau kita sudah berbuat baik namun dibalas dengan sikap yang meremehkan? Kalau sikap ini yang diambil, maka kita masih bermental "manusia lama"; kita belum menjadi "manusia baru" (padahal dengan pembaptisan itu kita sudah diakui sebagai "manusia baru"! ). 

Menjadi pengikut KRISTUS, harus bisa bersemangat lebih dalam segala hal! "Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka" (ayat 32). 

Bersemangat lebih dalam hal cinta kasih adalah bilamana kita sudah mampu memenuhi tuntutan YESUS seperti ini : "Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu" (ayat 27, 28).  Bila dalam hati kita masih tersimpan bara untuk membalas dendam atau mencelakakan mereka, rasanya tidak mungkin kita memenuhi tuntutan YESUS  itu! 
Bila kita masih dilandasi sikap "hutang gigi, dibalas gigi, hutang nyawa dibalas nyawa", maka mustahil kita bisa bersemangat lebih seperti harapan- NYA! 
Meskipun sangat, sangat dan amat sangat sulit, namun kalau kita benar-benar mengaku pengikut KRISTUS sejati, bukan sekedar "Katolik KTP", kita harus dapat sampai pada taraf "memberikan pipi kita yang kanan bila pipi kiri ditampar" atau tidak menuntut kembali kepada orang yang mengambil atau merugikan hak kita (lihat ayat 29 dan 30). 

Ajaran TUHAN YESUS ini nampak mustahil diterapkan pada zaman yang konon "demokratis" di mana diakui secara resmi kesetaraan hak. Atau ada juga yang mengkritik ajaran-NYA ini sebagai "sikap yang banci, loyo, gampang menyerah kalah." Sikap kritis ini tidak tepat, karena perintah "kasihilah musuhmu" tidak identik dengan sikap kompromistis,  malas dan enggan menemui kesulitan dalam menjalankan perbuatan atau mengambil langkah yang baik dan positif! 

"Kasihilah musuhmu" juga tidak sama dengan sikap "menyerah kalah sebelum bertanding" atau bersikap malas, sebelum berusaha. YESUS sama sekali tidak mengajarkan kemalasan ataupun bersemangat loyo! Sebaliknya, kita harus bersemangat lebih! Bila kita berhadapan dengan masyarakat yang majemuk,  kita harus "cerdik seperti ular, tetapi tetap tulus seperti merpati!".

"Kasihilah musuhmu" adalah suatu penalaran cinta kasih yang susah dimengerti  dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Namun, inilah perintah dan ajaran-NYA yang datang dari ALLAH. Inilah kasih sejati yang datang dari ALLAH. Hanya orang yang hidup dalam kasih ALLAH mampu mencintai musuhnya!   Meski sulit, cobalah lakukan Firman-NYA itu!

Menggaris bawahi ajaran Gurunya, Rasul Paulus dalam Bacaan Pertama juga menekankan bahwa menjadi pengikut KRISTUS  berarti kita dipilih dan dipanggil untuk menjadi "manusia baru" yang diharapkan menjadi kudus. "Manusia baru" yang mengenakan keutamaan-keutamaan "belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran" (Kol. 3: 12).  
Dalam hidup bermasyarakat terutama yang bersifat majemuk seperti masyarakat kita, keutamaan- keutamaan itu perlu diperhatikan dan dipraktekkan! "Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain, apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti TUHAN telah mengampuni kamu, perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu : kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan" (ayat 13, 14). 
Bila dipraktekkan dalam masyarakat, terutama dalam menghadapi masa pandemi saat ini, semangat kasih itu harus dapat kita wujudkan dalam langkah dan perbuatan yang membangun, mendidik,  mempersatukan dan menyempurnakan, bukan yang bersifat merusak, menghancurkan dan memecahbelah persatuan. 
Sebagai pengikut KRISTUS di Indonesia ini, kita harus mampu membangun "budaya kehidupan" (culture of life) bukan "budaya kematian" (culture of death) ; budaya yang memberikan harapan dan optimisme, bukan budaya yang menanamkan keputusasaan dan pesimisme! 
Apakah kita sanggup?

Ya TUHAN YESUS, ajarilah kami bahasa cinta-MU. Biarlah kami dapat saling mencintai sesama dan masyarakat kami dengan semangat lebih, yaitu semangat cinta-MU yang sejati. Ubahlah semangat dan sikap hati kami seperti semangat-MU dan sikap Hati-MU. Amin.

Bdk
* Kol. 3: 12-17; 
* Mzm. 150: 1-2, 3-4,
   5-6;
* Luk. 6: 27-38.
PK/hr

Memperbaiki Diri untuk Membangun Persaudaraan

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Jumat, 10 September 2021.
Hari Biasa Pekan XXIII
• 1Tim 1: 1-2.12-14; 
• Mzm 16: 1-2a. 5. 7-8. 11; 
• Luk 6: 39-42

Memperbaiki Diri untuk Membangun Persaudaraan

Dari pengalaman, usaha yang mudah dikatakan tetapi sangat sulit dilakukan adalah mawas diri dan menindak-lanjutinya dengan perbaikan diri. Sebaliknya, orang mudah sekali melihat keburukan orang lain, merasa diri sendiri sudah baik dan tidak ada yang perlu diubah. 
    Tuhan Yesus melihat sikap dan perilaku seperti itu pada orang-orang Farisi. Mereka sering menyalahkan-nyalahkan dan menekan orang lain supaya menaati hukum Taurat, sementara cara hidup mereka sendiri jauh dari semangat Hukum Musa itu. Tuhan Yesus meminta para murid-Nya agar tidak membuat kesalahan seperti yang dilakukan orang Farisi. Dalam perikop Injil hari ini Yesus menyampaikan pesan itu dengan dua perumpamaan. 
    Pertama: Orang buta tidak dapat menuntun orang buta, sebab keduanya akan jatuh ke dalam lubang. Yesus menjelaskan, dari dirinya sendiri, seorang murid tidak tahu banyak, “buta”, dan masih tergantung pada gurunya. Tetapi, setelah dilatih dan belajar segala sesuatu dari gurunya, murid akan sanggup menuntun orang lain. “Barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.” (Lihat Luk 6:39-40). 
    Pesan yang hendaknya kita renungkan dari perumpamaan ini: sejauh mana Yesus telah berperan sebagai Guru dalam kehidupan kita. 
    Sebagai murid Yesus, kita mesti tekun belajar dan memperbaiki diri: kita harus mendengarkan apa yang dikatakan Yesus, lalu meresapkan ajaran itu dalam diri kita, agar selanjutnya perkataan dan perbuatan kita dapat secara efektif membawa orang lain kepada Tuhan.
    Yang kedua, Yesus mengatakan: Orang mudah melihat selumbar (serpih kecil) di mata saudaranya, sedangkan balok di matanya sendiri tidak ia lihat. Tidak mungkin ia dapat mengeluarkan selumbar yang ada di mata saudaranya itu. Keluarkan dulu balok itu! (Lihat ay. 41-42). 
    Yesus hendak berpesan, para murid harus sangat berhati-hati dalam hal mengadili orang lain. Kita cenderung melihat kekurangan orang lain lebih cepat daripada melihat kekurangan kita sendiri. Kita harus menjaga agar kecenderungan ini tidak merusak persaudaraan kita.
    Kekurangan yang kita lihat pada orang lain sebenarnya kecil sekali bila dibandingkan dengan kekurangan kita sendiri. Tanpa kita sadari, dengan merendahkan orang lain (lewat gossip) kita sebenarnya hanya mau menyembunyikan kekurangan kita sendiri. Supaya dinilai baik, kita bukannya memperbaiki diri dengan mengubah perilaku, melainkan hanya dengan menjelekkan orang lain. Penilaian kita pun biasanya hanya berdasarkan perilaku luar. Kita tidak mengetahui apa maksud dan motivasi orang yang kita nilai.
   Dalam hidup berkomunitas, orang juga cenderung hanya melihat hal-hal yang negatif. Dalam komunitas Kristiani, misalnya, kita cenderung hanya melihat kekurangan para pengurus dan orang lain – biasanya sebagai pembenaran diri untuk tidak terlibat. Selama masa pandemi ini, orang cenderung hanya melihat banyaknya orang sakit dan orang meninggal, Prokes yang menyusahkan, bosan tinggal di rumah, ekonomi yang terpuruk, lalu menyalahkan orang lain. 
    Khususnya dalam situasi pandemi yang berkepanjangan ini kita perlu mendengarkan pesan Yesus Tuhan dan Guru kita. Kita dipanggil untuk mendalami hal-hal positif yang selama ini mungkin kita abaikan, seperti pola hidup sehat, keadaan saling tergantung, belarasa dan relasi personal yang menyegarkan, doa pribadi dan doa keluarga, ibadat yang lebih mendalam tanpa kehadiran banyak orang, kerinduan akan Sakramen Mahakudus, dan banyak hal lain yang harus kita temukan.

Rasul Paulus (Saulus) pun pernah menjadi buta sehingga ia harus dituntun dalam perjalanannya ke Damsyik. Tetapi, dengan “penglihatannya” yang baru ia menuntun banyak sekali orang kepada Kristus. 
    Dalam Bacaan Pertama, Paulus menyebut dirinya “rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah.” Penugasannya menjadi rasul ia terima langsung dari Allah. Ia menganggap itu sebagai kepercayaan dari Kristus Tuhan. “Aku bersyukur kepada Dia … karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku,” (1 Tim 1:12). Paulus sangat bersyukur, lebih-lebih mengingat riwayat hidupnya: “Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya,” (ay. 13). Paulus telah melakukan pembalikan diri secara total.
    Di awal suratnya Paulus merasa perlu menegaskan kewenangannya sebagai Rasul, sebab lewat surat itu ia akan memberikan tuntunan mengenai tata organisasi serta perilaku umat Kristiani di Efesus. Ia juga sedang mengukuhkan kewenangan Timotius sebagai penghubungnya. 
    Dari suratnya kita dapat melihat bagaimana St. Paulus telah menanggapi panggilan Tuhan untuk melakukan perbaikan diri secara total sehingga ia sanggup mewartakan Injil  kepada banyak bangsa.
    Kita pun dipanggil untuk melakukan perbaikan diri agar dalam posisi masing-masing kita sanggup mewartakan Sukacita Injil dengan mewujudkan hal-hal positif yang menggembirakan di sekitar kita. Ini panggilan yang sulit, terutama di masa pandemi. Namun, Tuhan dan Guru kita akan terus mendampingi dan mengajarkan makna baru yang terkandung dalam sabda-Nya, terutama selama Bulan Kitab Suci Nasional ini. 

Yesus Tuhan dan Guruku, berilah kerendahan hati agar aku dapat mawas diri dan memperbaiki cara hidupku. Ajarilah aku memaknai sabda-Mu agar aku dapat membangun kasih persaudaraan di manapun aku berada. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas dengan mengikuti Prokes dan aturan lain. AMDG. Berkat TUHAN.
RS/PK/hr.

BUAH PERTOBATAN SEJATI : MENJAGA KEMURNIAN HATI.

BUAH PERTOBATAN SEJATI : MENJAGA KEMURNIAN HATI.

Dalam Bacaan Pertama [lih bawah] kita sungguh dikejutkan dengan pengakuan jujur Rasul Paulus tentang masa lalunya bahwa dirinya adalah penghujat, penganiaya yang ganas dan orang yang penuh kesombongan (lihat 1Tim. 1:13). Selain itu ia juga mengakui dengan tulus bahwa di antara orang berdosa "akulah yang paling berdosa" (ayat 15). Kita saksikan bahwa setelah pertobatannya, Paulus sungguh-sungguh beriman pada TUHAN YESUS. Dan YESUS telah mengubah total seluruh kehidupan Saulus menjadi Paulus. Dari pengalaman pertobatan Paulus itu, dapat kita tengarai bahwa betapa pun besarnya dosa dan berapa pun lama meninggalkan TUHAN, namun berkat kerahiman-NYA ALLAH mampu mengubah hidup Saulus dan hidup kita atau siapa saja, asal mau melakukan pertobatan. Karena pengakuannya bahwa di antara orang berdosa "akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, YESUS KRISTUS  menunjukkan seluruh kesabaran-NYA. Dengan demikian, aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-NYA dan mendapat hidup yang kekal" (ayat 16). 

Memang proses pertobatan itu bukannya lepas dari segala hambatan dan tantangan. Paulus juga mengalami godaan yang sangat menyesatkan, namun betapa pun besarnya godaan, berkat kuasa, wafat dan kebangkitan KRISTUS jauh lebih berkuasa daripada segala hambatan dan tantangan itu. Pertobatan Paulus merupakan tanda harapan bagi kita, orang yang penuh dosa. Janganlah belum-belum merasa kalah atau bertekuk-lutut kepada kekuatan jahat yang selalu memancing konflik di antara kita. Percayalah, Rakhmat ALLAH  dan kekuatan ROH KUDUS akan senantiasa memperkuat daya tahan kita sampai kita keluar sebagai pemenang!

Bacaan Injil hari ini mengandung pesan dua hal, yaitu, pertama, bahwa pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik; dan kedua, siapa saja yang mendengar dan melakukan Firman TUHAN itu ibarat orang yang membangun rumah di atas batu yang kokoh  hingga tidak tergoyahkan  menghadapi hantaman badai. 

YESUS dengan jelas mengajarkan bahwa "tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya" (Luk. 6: 43, 44). 
Hidup kita akan menghasilkan kebaikan, bila kita mampu menjaga hati kita. Dari hati akan timbul sesuatu yang sangat baik. Namun  dari hati pula akan timbul hal-hal buruk yang sama-sama kita tidak inginkan. Maka tergantung pada kecerdasan kita untuk menjaga hati agar tetap baik, menjadi kunci kehidupan kita. Caranya, pertama, kita yakini bahwa TUHAN  selalu memberikan yang terbaik untuk hidup kita; dan kedua, perlu kita sadari bahwa kita bisa hidup seperti ini adalah berkat kebaikan sesama : berkat kebaikan hati orang tua, sesepuh, para saudara - saudara, sahabat, teman sejawat dan semua orang yang berkehendak baik.  Bersyukurlah atas kondisi yang baik ini.

YESUS rupanya tidak puas kepada orang-orang yang beranggapan bahwa cukuplah kita menyerukan TUHAN - TUHAN, maka kita akan selamat. Bagi YESUS yang terpenting bukanlah seruan TUHAN-TUHAN, melainkan orang yang mendengarkan Firman-NYA dan melaksanakan juga. Orang seperti itu "sama dengan seorang yang mendirikan rumah : Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun" (ayat 48). 
Iman kita kepada YESUS KRISTUS merupakan dasar yang kokoh dalam hidup kita. Percobaan dan berbagai kesulitan  akan menerpa hidup kita silih-berganti. Namun bila kita tetap konsisten dan konsekuen memiliki YESUS dan dekat dengan TUHAN, maka tidak perlu ada ketakutan lagi!

Ya YESUS, ajarilah aku tetap percaya kepada-MU dalam situasi apa pun yang aku hadapi. Jernihkanlah motivasiku dalam setiap pekerjaan dan pelayananku. Bunda Maria lindungilah dan bantulah anakmu dalam mengarungi samudera kehidupan ini. Amin. 

Bdk
* 1Tim. 1: 15-17; 
* Mzm. 113: 1-2, 3-4,
   5a, 6-7;
* Luk. 6:  43-49.
PK/hr

APAKAH AKU SUNGGUH MENGENAL KRISTUS ?

APAKAH AKU SUNGGUH MENGENAL KRISTUS ?

Meskipun TUHAN YESUS begitu tahu jelas tentang siapa Diri-NYA dan apa misi-NYA, walau DIA tidak tergantung pada penilaian orang, tetapi kehadiran-NYA harus punya makna dalam hidup kita. 
Pertama kali, di sekitar Kaisarea Filipi, YESUS bertanya kepada para murid-NYA: "Kata orang, siapakah AKU ini?" (Mrk. 8: 27). Dan mereka dengan mudah menjawab: Kata orang DIA itu Yohanes Pembaptis, Elia atau salah seorang Nabi.
Istilah "kata orang" pada saat ini bisa diartikan sebagai pengetahuan dasar yang didapat dari pelajaran Kristologi atau Doktrin Gereja atau katekismus tentang siapakah YESUS menurut yang diajarkan Gereja. 

Pertanyaan kedua yang tidak kalah pentingnya ditujukan kepada kita masing-masing (menurut pendapat kita masing-masing): "Tetapi apa katamu, siapakah AKU ini?" (ayat 29). Jawaban atas pertanyaan-NYA itu tergantung dari pengenalan pribadi kita pada YESUS. Jawaban ini diharapkan merupakan jawaban yang jujur dan tulus - bukan dari text book - yang kita sampaikan sendiri kepada TUHAN.
Apakah aku benar-benar mengenal YESUS dari Nazaret? Mengenal TUHAN? Apakah YESUS itu ada artinya untuk hidupku? Atau aku memang belum mengenal siapa sebenarnya YESUS itu. Cobalah jawab secara jujur apa adanya menurut pengalaman pribadiku, siapakah sebenarnya YESUS?

Petrus memberikan jawaban yang tepat, namun dia membutuhkan waktu sepanjang hidupnya dan pengabdiannya untuk bisa mengerti makna jawabannya: "ENGKAU adalah Mesias!" (ayat 29). Sayangnya ia belum paham benar tentang rencana penyelamatan ALLAH yang dibawa oleh YESUS, Sang Mesias! Ia tidak bisa memahami bagaimana mungkin seorang Mesias harus ditolak pemuka-pemuka masyarakat Yahudi, harus menderita dan dibunuh. Misteri salib tidak masuk di akalnya. Bahwa jalan keselamatan itu diperoleh hanya melalui jalan salib: ini sesuatu "absurd" bagi Petrus, sebab Mesias yang sudah dinanti-nantikan itu oleh generasi demi generasi mustahil untuk diserahkan begitu saja untuk dibunuh! Pola pikir inilah yang membuat YESUS sangat marah kepada Petrus, bahkan IA sempat menghardik setan dalam diri Petrus: "Enyahlah iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan ALLAH, melainkan apa yang dipikirkan manusia." (ayat 33).

Seperti Petrus, kalau mau jujur, kitapun sebenarnya susah untuk menangkap misteri salib itu. Kita merasa agak janggal seorang Mesias harus menderita sengsara dan dibunuh. Perasaan janggal itu kita wujudkan dalam kemalasan, keengganan dan upaya menghindari salib. Padahal justru di sinilah esensi pokok ajaran KRISTUS bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh melalui jalan salib. Tanpa penderitaan, kematian di salib, dan kebangkitan-NYA tidak mungkin keselamatan itu kita peroleh. 
Maka TUHAN YESUS menegaskan: "Setiap orang yang mau mengikut AKU, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut AKU." (ayat 34). Penyangkalan diri, memikul salib dan mengikuti-NYA dengan setia: inilah karakter khas yang harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku dirinya sebagai pengikut atau murid KRISTUS!
Sadarkah kita akan hal yang sangat prinsip ini? 

Bahwa YESUS, Sang Mesias, harus menempuh jalan kesengsaraan dan salib, hal itu sudah dinubuatkan oleh para nabi, antara lain Nabi Yesaya seperti terdapat dalam Bacaan Pertama: "AKU memberi punggung-KU kepada orang-orang yang memukul AKU, dan pipi-KU kepada orang-orang yang mencabut janggut-KU. AKU tidak menyembunyikan muka-KU, ketika AKU dinodai dan diludahi." (Yes. 50: 6). 
Semua nubuat ini terjadi benar dalam Diri YESUS. Jika YESUS adalah panutan dan teladan hidup kita, dan DIA telah memberikan contoh semasa hidup-NYA, apakah kita masih saja mencari dalih untuk menghindari jalan salib,  jalan keselamatan??

Untuk bisa menjawab pertanyaan "Menurut kamu, siapakah AKU ini" diperlukan pengenalan pada YESUS. Dan untuk bisa mengenal-NYA, kita sangat memerlukan iman dan iman hanya dapat kita peroleh dari ROH KUDUS. Maka mohonlah kepada ROH KUDUS agar dapat menerangi dan membuka hati, budi serta wawasan kita, sehingga kita benar-benar dapat mengenal dan menyayangi YESUS, serta bersedia menemani DIA dalam memikul salib-NYA dengan cara kita memikul salib kita sendiri juga tanpa mengeluh. 
Namun, Rasul Yakobus dalam Bacaan Kedua mengingatkan kita, bahwa kita tidak cukup hanya mempunyai iman. Iman saja bukan jaminan akan menyelamatkan kita! Iman itu harus kita wujudkan dan buahkan secara nyata. Mengapa? "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati." (Yak. 2:17).  Mengimani KRISTUS yang menderita sengsara, disalibkan dan bangkit dari mati-NYA, namun kita sendiri menghindari salib, maka iman kita itu kosong bahkan akan mati. Maka marilah kita buktikan secara nyata iman kita pada YESUS dengan suatu perbuatan kasih kepada sesama dan kerelaan kita untuk turut solider dalam penderitaan kaum lemah, miskin dan tertindas. Khususnya pada masa pandemi saat ini, apakah kita sudah membuktikan kehidupan iman kita akan  YESUS yang menderita?
Mengimani YESUS dalam gedung gereja yang ber-AC, tetapi kita tidak peduli dan tidak berbela rasa pada mereka yang lapar, haus, miskin, sakit, cacat dan terlantar itu sama saja kita membuat iman kita merana, kekeringan dan lama-kelamaan mati! Maka buktikan iman pada YESUS dengan kemauan kuat untuk memikul salib, menderita sengsara dan berjerih payah memperjuangkan keadilan, kebenaran, kedamaian, kejujuran, kesetaraan dan kesejahteraan terutama bagi orang yang terpinggirkan!

Ya BAPA, aku bersyukur dan berterima kasih atas belas kasih-MU yang begitu besar sehingga ENGKAU merelakan PUTERA-MU menderita sengsara dan mati untuk menyelamatkan hidup kita. Ajarilah aku agar aku juga rela dan tahan menderita serta memikul salib kehidupanku tanpa banyak berkeluhkesah, sehingga semakin mengenal dan dekat dengan PUTERA-MU. Bunda Maria dan Bapa Yusuf, bimbinglah aku untuk memahami makna penderitaan. Amin. 

Bdk
• Yes. 50: 5-9a; 
• Mzm. 116: 1-2. 3-4. 5-6. 8-9;
• Yak. 2:.14-18; 
• Mrk. 8: 27-35.
PK/hr.

BELAJAR DARI IMAN SEORANG KAFIR.

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Senin, 13 September 2021.
Peringatan Wajib St. Yohanes Krisostomus, Uskup & Pujangga Gereja :
• 1Tim. 2: 1-8;
• Mzm. 28: 2. 7. 8-9;
• Luk. 7: 1-10.

BELAJAR DARI IMAN SEORANG KAFIR.

Seorang tentara penjajah biasanya digambarkan sebagai pribadi yang kejam dan tidak punya rasa kemanusiaan. Apalagi  tentara itu berkedudukan tinggi. Bisa dibayangkan betapa bengis kelakuan perwira itu! Dan hal itu sah-sah saja karena ia seorang penjajah!
Tetapi apa yang dikisahkan dalam perikop Injil hari ini lain sama sekali!

Dikisahkan ada seorang perwira Romawi yang sangat iba melihat hambanya sakit keras dan hampir mati. Karena ia hanya seorang hamba sebenarnya didiamkan saja pun, si perwira itu tidak salah. Sebab, seorang hamba atau budak pada zaman itu sangat tidak berharga. Tetapi si perwira "kafir" ini sangat lembut hatinya. Ia sangat peduli pada hambanya dan berusaha untuk menolongnya dengan cara mengundang YESUS, Guru dari Nazaret, yang mulai terkenal di kota Kapernaum itu. Melalui beberapa orang tua-tua Yahudi ia berusaha mengundang TUHAN YESUS, sebab ia percaya bahwa DIA mampu menyembuhkan hambanya. Dan para tua Yahudi itu meyakinkan YESUS bahwa perwira itu layak ditolong karena orangnya baik dan murah hati dengan menanggung pembangunan rumah ibadah. Dan YESUS pun berkenan, lalu mau pergi ke rumah perwira itu.
Namun perwira itu dengan segala kerendahan hati merasa bahwa dirinya  tidak pantas menerima kedatangan YESUS ke rumahnya. Katanya: "TUAN, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima TUAN di dalam rumahku, sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-MU. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh". (Luk. 7: 6, 7). Mendengar hal itu, heranlah YESUS dan berkata: "AKU  berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah AKU jumpai, sekalipun di antara orang Israel!" (ayat 9).

Luar biasa! Seorang perwira asing yang "kafir" tapi mempunyai iman yang sangat besar dan dilandasi oleh kerendahan hati! Iman dan kerendahan hati telah membuahkan kesembuhan dan keselamatan!
Sikap perwira "kafir" itu telah menginspirasi dan menjadi teladan baik bagi kita dalam hal kehidupan beriman. Ia tidak bicara soal iman, tetapi kelembutan dan kemurahan hatinya telah menghasilkan tindakan kasih yang menolong orang kecil yang pantas ditolong sehingga hambanya sembuh total. 
Dari kisah perwira itu kita bisa mengambil teladan, bahwa beriman berarti rendah hati dan sadar bahwa diri kita tidak pantas di hadapan TUHAN. Karena itu beriman berarti juga percaya penuh dan pasrah total kepada TUHAN. Beriman bukan hanya berteori belaka melainkan mau dan sanggup langsung melakukan tindakan kasih kepada orang yang lemah, sakit serta tertindas dan membutuhkan perhatian dan bantuan.
Seberapa jauh kehidupan iman kita saat ini? Terutama pada masa pandemi ini, apakah kita juga mau mewujudkan iman kita dengan memberikan simpati, empati dan pertolongan kepada mereka yang membutuhkannya? 

Sikap kerendahan hati dalam iman perwira asing itu kini diabadikan dalam upacara liturgi bagi umat sebelum menyambut Komuni Suci, dengan rendah hati berdoa: "Ya TUHAN, saya tidak pantas TUHAN datang pada saya, tetapi bersabdalah sepatah kata saja maka jiwaku akan sembuh".

Dalam Bacaan Pertama Rasul Paulus yang ditetapkan sebagai pengajar orang-orang bukan Yahudi dalam hal iman dan kebenaran, memberikan nasihat agar kita senantiasa memanjatkan "permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan." (1Tim. 2: 1. 2). Sudahkah kita memanjatkan doa untuk orang-orang yang tidak kenal dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan?

Hari ini Gereja memperingati Santo Yohanes Krisostomus (344-407). Anak bangsawan dan mahasiswa hukum ini beberapa waktu lamanya bertapa di pegunungan. Lalu ia menjadi imam di Antiokhia (Siria). Karena sangat pandai berkotbah ia dijuluki "si mulut emas" (chrysostomos). Setelah ditunjuk jadi Uskup di Konstantinopel, Yohanes yang bersikap terus terang ini mengalami banyak kesulitan, karena ia suka mencela orang-orang  kaya. Ia lalu dibuang oleh Kaisar. Dan kemudian dibuang lagi ke tempat pengasingan yang lebih jauh. Dalam perjalanan itu ia menghembuskan nafas yang terakhir karena kecapean. Yohanes sangat terkenal kotbahnya, bicaranya menarik dan pandangan teologinya sangat tepat. Ia termasuk Uskup yang berani mencela tindakan yang salah dari para pejabat. Ia termasuk salah seorang Pujangga Gereja yang besar.

Ya TUHAN, ajarilah aku untuk mau rendah hati di hadapan-MU. Tambahkanlah sedikit iman padaku agar kuat kehidupan rohaniku. Semoga imanku memampukan aku untuk mau berbagi kepada sesamaku. Santo Yohanes Krisostomus, doakanlah aku. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

Monday, September 6, 2021

TIADA ISTIRAHAT DALAM BERBUAT KEBAIKAN.

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Senin, 6 September 2021.
Hari Biasa Pekan Biasa XXIII : 
• Kol. 1:24 - 2:3; 
• Mzm. 62: 6-7. 9;
• Luk. 6: 6 - 11.

TIADA ISTIRAHAT DALAM BERBUAT KEBAIKAN.

Orang Farisi dan ahli Taurat sebagai orang yang dianggap tahu dan amat memahami hukum agama, jatuh dalam sikap suka mengadili orang lain. Mereka cepat bereaksi bila ada orang yang melakukan kesalahan dengan melanggar hukum agama. Mudah pula mereka mengucilkan orang yang hidupnya tidak sesuai dengan hukum agama. Sikap ini ternyata tidak sesuai dengan sikap TUHAN YESUS. Mematuhi hukum agama itu amat penting dan sangat perlu. Namun, kepatuhan itu haruslah didasari kasih sejati kepada ALLAH. Dengan cara demikian kita perlu menjadi kritis dalam melaksanakan hukum agama.

Sikap dan perilaku orang Farisi dan ahli Taurat kadang-kadang merupakan sikap dan perilaku kita juga. Mereka sering mencari-cari kesalahan orang lain. Bila menemukan kesalahan, mereka segera mengadili dan mudah menjatuhkan hukuman kepada orang yang belum tentu bersalah. Tentu saja, sikap menjaga agar orang tidak jatuh dalam kesalahan merupakan hal yang terpuji. Adalah tugas setiap orang untuk membantu sesamanya hidup secara baik. Namun, apa yang terjadi bila kita hanya mencari-cari kesalahan dari sesamanya, seperti dilakukan orang Farisi dan ahli Taurat? Kita akan hanya terpaku menjadi "penjaga hukum" belaka. Apakah kita sendiri telah menjalankan hukum TUHAN? Alih-alih mau membawa orang kepada hidup yang lebih baik, seringkali kita sendiri malah jatuh terjebak dalam kesalahan dan dosa kita sendiri.

Bagaimana kita bersikap ketika melihat orang lain sedang jatuh? Apakah kita masih menunjukkan sikap penuh kasih seperti YESUS ataukah memilih seperti orang Farisi dan ahli Taurat? 

Hari Sabat merupakan hari untuk memuji TUHAN dan juga untuk istirahat. Tetapi bagi TUHAN YESUS beristirahat untuk berbuat baik, adalah sesuatu yang salah. Kita justru berbuat jahat bila melewatkan kesempatan untuk berbuat baik dan menyelamatkan orang lain. 
YESUS mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada waktu yang membatasi kita untuk melakukan pekerjaan yang baik. Sebagaimana ALLAH yang adalah TUHAN dari waktu ke waktu melakukan Karya Agung Kasih-NYA melampaui batas waktu yang ditentukan manusia, demikian pula kita anak-anak-NYA hendaknya tiada henti berbuat kebajikan dan melakukan kebaikan apa saja dalam setiap waktu dan tempat. Terutama pada masa pandemi ini, kita harus menunjukkan bahkan meningkatkan rasa solidaritas kepada sesama!
Siapkah dan sanggupkah kita untuk tetap melakukan hal-hal yang baik?

Dalam Bacaan Pertama, Rasul Paulus dengan penuh semangat memberitakan tentang KRISTUS yang menjadi pengharapan akan kemuliaan. Bagi Paulus kekuatan untuk menanggung beratnya penderitaan dan perjuangan untuk memberitakan KRISTUS adalah karena KRISTUS dan demi KRISTUS itu sendiri, bukan yang lain. "Dalam DIA-lah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan." (Kol. 2: 3). Dan KRISTUS itulah yang menganjurkan dan mengajarkan kepada kita untuk terus berbuat kebaikan kapan pun dan di mana pun juga.

Ya YESUS, ajarilah aku untuk dapat lebih peka lagi dalam melaksanakan hukum kasih-MU dalam  seluruh hidupku. Tularkanlah dalam diriku semangat-MU untuk senantiasa berbuat kebaikan dalam setiap kesempatan dan setiap tempat. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas kembali pada awal pekan sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

Sunday, September 5, 2021

EFATA! (Terbukalah!)

EFATA! (Terbukalah!)

"Efata!, artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik." (Mrk. 7: 34,35). TUHAN YESUS menyembuhkan seorang yang tuli dan gagap atau bisu-tuli dengan sangat manusiawi dan sangat personal. Pertama DIA memisahkan orang itu dari kerumunan orang banyak. DIA tidak hanya memerintahkan dengan satu kata saja, melainkan DIA menyentuh orang bisu  tuli itu. DIA masukkan jari-NYA ke telinga. Lalu IA meludah dan meraba lidah orang itu, dan sambil berdoa, menengadah ke langit, IA menarik nafas dan mulailah IA memerintahkan "Efata"!

Cara penyembuhan orang bisu dan tuli kali ini cukup unik. YESUS ingin menjalin relasi pribadi dengan orang cacad itu. IA ingin memulihkan keyakinan dan mental orang itu. Jadi TUHAN pertama kali memulihkan mental, hati dan imannya. Sentuhan-sentuhan personal dan sangat manusiawi itu benar-benar membanggakan orang bisu-tuli itu. 
Apakah kita juga mempunyai kepekaan hati yang tajam hingga kita mau memberikan sentuhan personal kepada orang-orang kecil, tidak terpelajar, "buluk", bau dan cacad badannya ? Terutama pada masa pandemi saat ini, apakah hati kita juga peka atas penderitaan pisik maupun mental yang dialami oleh orang- orang yang menjadi korban Covid-19? Dan apa tindakan kita untuk menolong para korban itu?

Penginjil Markus tidak menyebutkan nama dan umur orang bisu-tuli itu. Dan lagi Markus memberikan fokus pada karya besar kerasulan-NYA di luar daerah Israel terhadap orang kafir, orang bukan dari bangsa pilihan, Israel. Karya besar YESUS itu sudah dinubuatkan ratusan tahun sebelum kedatangan-NYA oleh nabi Yesaya seperti terdapat dalam Bacaan Pertama: "Lihatlah, ALLAH-mu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran ALLAH. IA sendiri datang menyelamatkan kamu! Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa  dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai, sebab mata air memancar di padang gurun..." (Yes. 35: 4- 6).

Terkadang kita berlaku seperti orang tuli dan bisu itu. Kita tuli akan sapaan dan seruan ALLAH yang disuarakan para penderita atau korban Covid-19 yang sangat  membutuhkan uluran tangan dan bantuan kita. TUHAN sungguh memanggil kita lewat orang-orang yang menderita. Namun, kita tidak mendengar atau pura-pura bersikap tuli mendengar jeritan mereka. Terkadang kita bisu pula untuk mengatakan kebenaran, untuk mewartakan Kabar Gembira akan karya besar ALLAH bagi orang-orang di sekitar kita. Ingatlah, bahwa TUHAN YESUS selalu hadir dan menyertai di tengah-tengah kita, khususnya dalam Ekaristi Kudus dan juga hadir dalam diri orang-orang yang menguatkan dan memberi perhatian serta kasih kepada sesama. Sama sikap-NYA seperti terhadap orang bisu tuli itu, YESUS juga menyentuh dan menjamah telinga serta lidah kita. Kita hanya perlu membuka diri akan kuasa penyembuhan-NYA, Efata! 
Bersediakah kita selalu membuka hati dan diri kita pada TUHAN YESUS?

Sebagaimana YESUS yang berkarya dan menyembuhkan semua orang yang sakit dan menderita, termasuk orang kafir, seperti orang bisu dan tuli itu, maka ALLAH berkehendak agar kita juga dapat membuang sifat-sifat yang diskrimininatif. Atau secara gamblang Sabda TUHAN lewat Rasul Yakobus seperti dalam Bacaan Kedua hari ini: "Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada YESUS KRISTUS, TUHAN kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka. ...., Bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat? ...... Bukankah ALLAH memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-NYA kepada barangsiapa yang mengasihi DIA?..... Jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran". (Yak. 2: 1.4.6.9).    
Karena itu, marilah kita buang kebiasaan kita membeda-bedakan perlakuan secara diskriminatif, hanya melihat keyakinan tertentu, asal-usul tertentu, umur tertentu, dengan pangkat dan kekayaan tertentu  dan seterusnya. Sikap yang diskriminatif bertentangan dengan Hukum Kasih KRISTUS!

Hari ini adalah Hari Minggu Kitab Suci Nasional. Kita percaya dan meyakini bahwa TUHAN sungguh berbicara, menyapa, memanggil dan mengingatkan kita lewat Bacaan-bacaan Suci yang telah dipilih pada setiap Perayaan Ekaristi Kudus setiap hari. Karena itu, pada Bulan Kitab Suci Nasional, bulan September dan secara khusus pada hari Minggu ini, cobalah kita mengasah kepekaan pendengaran  "telinga" dan penglihatan "mata" hati kita pada saat membaca dan merenungkan Kitab Suci. Mohonlah penerangan ROH KUDUS! Bersikaplah tenang, fokus, dalam keheningan, cobalah dengar apa yang TUHAN katakan kepada kita masing-masing. Dan setelah mendengar dan memahami-NYA, lakukanlah apa yang disabdakan-NYA kepada kita masing-masing, satu per satu. Ingatlah, YESUS mengenali nama domba-NYA satu per satu! 

Ya YESUS Yang lemah lembut, murah hati dan rendah hati, bukalah hatiku akan daya dan kuasa penyembuhan-MU, agar aku pun selalu peka untuk mewartakan Kabar Sukacita Karya Agung-MU di tengah-tengah masyarakat. Buanglah segala pola pikir dan sikapku yang sering masih diskriminatif. Amin. 

Bdk
• Yes. 35: 4-7a; 
• Mzm. 146: 7. 8-9a. 9bc-10;
• Yak. 2: 1-5; 
• Mrk. 7: 31-37.
Hari Minggu Kitab Suci Nasional
PK/hr.

Saturday, September 4, 2021

IMAN, KEWASPADAAN DAN KESETIAAN.

IMAN, KEWASPADAAN DAN KESETIAAN.

Dalam Bacaan Pertama dikisahkan bahwa Rasul Paulus rupanya merasa bangga dan puas dengan perkembangan iman dari jemaat di Tesalonika. Ini nampak dari suaranya hari ini: "... maka kami juga, saudara-saudara, dalam segala kesesakan dan kesukaran, kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu." (1Tes.3:7).
Rupanya keberhasilan Rasul Paulus juga dilandasi oleh teladan hidupnya. Ia tidak hanya mengajar, tetapi juga memberikan teladan nyata dalam pengabdian dan pengorbanannya. Keteladanan Paulus menjadikan pewartaannya merasuk ke dalam hati umat di Tesalonika. Mereka hidup dalam kasih satu sama lain dan semua orang di sekitar mereka. Bagaimana dengan kehidupan iman kita? Apakah sudah dewasa?

Cara hidup Paulus dan jemaat di Tesalonika kiranya menjadi contoh cara hidup yang diajarkan oleh TUHAN YESUS hari ini, seperti terdapat dalam perikop Injil hari ini.
Pada hari ini TUHAN YESUS mengajak kita untuk selalu waspada: "Karena itu, berjaga- jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana TUHAN-mu datang..... Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena ANAK MANUSIA datang pada saat yang tidak kamu duga." (Mat.24:42,44)
Kita mungkin bertanya, berjaga-jaga terhadap apa? Perkembangan dunia saat ini, khususnya kemajuan teknologi di berbagai bidang terlebih teknologi informasi, membawa serta tantangan dan godaan yang senantiasa dapat mengikis nilai-nilai kehidupan, terutama nilai Kristiani. Nasihat-NYA itu tampak relevan dan kontekstual. Sebagai pengikut KRISTUS, kita setiap saat dituntut untuk berjaga-jaga terhadap tantangan dan godaan yang siap menjauhkan kita dari ALLAH. Mengapa kita berjaga-jaga? Yang bisa kita pastikan adalah kita perlu tetap menjalani hidup sesuai dengan identitas kita sebagai pengikut KRISTUS. TUHAN akan menganugerahkan kebahagiaan kepada kita saat DIA mendapati kita sedang menjalani hidup yang sesuai dengan Kehendak-NYA.

Bagaimana kita harus bisa bersiap siaga selalu? Pertama, perlu kita sadari bahwa semua tugas dan peran kita di dunia ini adalah suatu  kepercayaan yang diberikan TUHAN kepada kita. Kedua, TUHAN YESUS mengajak agar kita setia dan bijaksana dalam menjalankan tugas itu. Kesetiaan selalu dituntut pada kita dalam menjalankan tugas yang dipercayakan kepada kita. Bukan soal besar atau kecil tugas dan tanggung jawab yang kita emban; bukan soal betapa penting dan kurang penting peran kita dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa, namun yang terpenting adalah setiap orang - besar maupun kecil, miskin atau kaya - dipanggil untuk setia kepada tugas yang dipercayakan kepadanya. 
Diharapkan kita di hadapan TUHAN dapat dengan rendah hati sebagai hamba yang setia dan bijaksana. Dua hal itu harus bersama-sama, tidak boleh dipisah satu dari yang lain. Dengan tambahan kebijaksanaan, maka nilai kesetiaan tidak menjadi sebuah ketaatan buta. Sebaliknya, dengan tambahan kesetiaan, maka nilai kebijaksanaan tidak hanya menjadi pencarian diri yang sia-sia dalam hidup, karena ada suatu keterarahan, yaitu kesetiaan kepada ALLAH sendiri.

Tugas seorang hamba  yang setia dan bijaksana digambarkan dalam Injil itu sebagai orang yang memberi makan kepada orang-orang lain. Hamba dalam kisah ini bisa juga dikatakan sebagai Gereja yang harus memberi kehidupan dan menjaga kehidupan bagi anggota-anggotanya. Inilah tugas kita sebagai orang beriman, menjaga dan menjamin kehidupan sesama, bukan sibuk dan asyik dengan kehidupan diri sendiri saja. Hal ini sangat relevan pada masa pandemi sekarang ini; kita dituntut untuk dapat menunjukkan solidaritas dan bela rasa kita terhadap sesama terutama yang membutuhkan pertolongan, baik pisik maupun mental. Siapkah kita?  Ingatlah Sabda TUHAN: "Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang". (ayat 46).

Ya TUHAN, tambahkanlah imanku dan ajarilah aku untuk dapat menjadi hamba-MU yang setia dan bijaksana, sehingga dapat hidup dengan penuh siap siaga dan selalu berjaga-jaga. Amin.

Bdk
• 1Tes. 3: 7-13;
• Mzm. 90: 3-4. 12-13. 14. 17;
• Mar. 24: 42-51.
PK/hr.

Kesiapan Menyambut Kedatangan Tuhan



Kesiapan Menyambut Kedatangan Tuhan

Kita sering terjebak dalam kesibukan sehari-hari sehingga lupa memeriksa, apakah hidup kita sekarang ini berada “di jalur yang benar” ke arah tujuan. Bagi para murid Kristus, tujuan akhir kita adalah kedatangan kembali Tuhan Yesus dalam kemuliaan sebagaimana telah Ia janjikan. Para murid pertama dengan antusias berharap, Tuhan akan datang kembali dalam waktu yang tidak terlalu lama. Bagaimana mereka harus menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan itu?
    Dalam Bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa menyambut kedatangan Kerajaan Allah itu “seumpama sepuluh gadis, yang pergi menyongsong mempelai laki-laki.” Gadis-gadis itu bertugas menyambut dan mendampingi mempelai selama pesta perjamuan, dengan membawa lampu penerangan. Lima gadis membawa buli-buli minyak cadangan, lima yang lain tidak. (Lihat Mat 25:1-4)
    Tugas mereka bukan “berjaga-jaga” dengan megamat-amati kedatangan rombongan mempelai, dengan berdiri di gerbang atau di atap rumah. Tidak menjadi masalah bahwa kesepuluh gadis itu tertidur karena sampai larut malam mempelai belum juga datang. 
    Tetapi inilah masalahnya: ketika mempelai tiba, lima gadis yang tidak membawa minyak tadi baru menyadari bahwa lampu mereka “hampir padam”; tetapi sudah terlambat.
    Pesan utama dari perumpamaan ini ialah kesiapan diri dan antisipasi ke depan. Kedatangan Tuhan tidak diketahui kapan saatnya. Orang harus selalu dalam keadaan siap, tanpa merisaukan kapan saat itu akan tiba: gadis-gadis tadi tertidur, lima di antaranya siap, lima lainnya tidak.

Kesiapan menyambut kedatangan Tuhan itulah yang diperjuangkan Rasul Paulus ketika ia membangun umat di Tesalonika. Umat di kota itu dengan antusias menerima petunjuk Sang Rasul mengenai ”cara hidup yang berkenan kepada Allah,” supaya mereka “tak bercacat dan kudus … pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita,” (1Tes 4:1 dan 3:13).
    Dalam Bacaan Pertama hari ini, Paulus meminta supaya umat mengikuti petunjuknya dengan lebih bersungguh-sungguh lagi, khususnya dalam hal kemurnian tubuh, “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan.” (1Tes 4:3). Paulus mendesak umat supaya menjauhi perselingkuhan, yang dianggap biasa dalam budaya “kafir”. Memanfaatkan orang lain untuk memuaskan nafsu itu merendahkan martabat manusia. Dosa besar percabulan ialah mencemari tubuh yang oleh Allah telah dikuduskan dengan curahan Roh-Nya. Maka, jika mereka menolak nasihat ini, berarti mereka menolak Allah sendiri. (Lihat 1Tes. 4:4-8).
    Surat Tesalonika adalah tulisan pertama dalam Perjanjian Baru. Ajaran awal tentang kesiapan untuk menyambut kedatangan Tuhan, khususnya dengan menjaga kemurnian tubuh, tetap relevan hingga sekarang. Hal ini pula yang menjadi keprihatinan Monika berkaitan dengan perilaku anaknya, Agustinus.
    
Hari ini peringatan wajib St. Monika (331-387). Ia lahir di Tagaste, Afrika Utara. Suaminya, Patrisius, tidak katolik, sementara anaknya Agustinus hidup dalam dosa dan menjadi pengikut aliran Manikeisme, yang lebih mengunggulkan penalaran pikiran daripada iman. Monika sangat sedih karena suami dan anaknya semakin tidak siap untuk menerima Kristus. Tetapi Monika tekun berdoa dengan mencucurkan air mata untuk pertobatan anak dan suaminya. Monika sangat bahagia ketika Patrisius minta dibaptis menjelang akhir hidupnya.
    Agar tidak menyusahkan ibunya, Agustinus pergi ke Italia, tetapi Monika menyusulnya. Monika minta bantuan Uskup Ambrosius di Milano, maka Agustinus pun dibimbing dan bertobat hingga ingin menjadi imam. Monika kini mengalami puncak kebahagiaannya. Pada akhir hidupnya ia berpesan kepada Agustinus: “Anakku, satu-satunya yang kuinginkan sekarang ialah agar engkau mengenangkan aku di altar Tuhan.” Monika meninggal di Ostia, Roma. Hidupnya menjadi teladan agar kita tekun berdoa dan berjuang demi kesiapan saudara kita untuk menerima Kristus.

Untuk kita sekarang, karena saatnya ditunda, maka kedatangan Tuhan itu lebih diartikan sebagai saat kita dipanggil menghadap-Nya, yang tentu lebih dekat daripada saat kedatangan Raja Kristus pada akhir zaman. Bila saat itu tiba, jangan sampai kita terlambat menyadari karena tidak punya antisipasi seperti kelima gadis yang bodoh itu.
    Bila saat itu datang tiba-tiba, atau selagi dalam isolasi Covid-19, belum tentu kita bernasib mujur seperti Patrisius, suami Monika: belum tentu kita punya kesempatan untuk mengaku dosa dan menyambut komuni pada saat terakhir. Akan lebih terjamin jika kita memastikan diri dari sekarang, dengan menata hidup sehingga ”Hari ini aku siap,” dan itu kita lakukan setiap hari. 
   Kesiapan itu bukan berarti tiap hari kita memikirkan saat kematian nanti. Fokus kita tetap ke saat ini, yaitu menghadapi berbagai tantangan dalam berbagai aspek kehidupan kita sekarang. Kita hanya perlu menjaga agar dalam menjalani semua itu kita berada “di jalur yang benar” ke arah tujuan. Sesuai nasihat St. Paulus, jalur yang benar itu adalah “cara hidup yang berkenan kepada Allah,” khususnya dengan lebih serius mengusahakan kesucian pribadi sebagai anak Allah dan menebar kasih kepada sesama. 

Ya Tuhan, berkat doa dan perantaraan Santa Monika, berilah aku rasa sesal akan dosaku agar aku bertobat dan memperbaiki diri setiap hari. Semoga hidupku semakin berkenan pada-Mu dan makin berguna bagi sesama. Amin.

Bdk
27 Agustus - Peringatan St. Monika
• 1Tes.4:1-8; 
• Mzm.97:1:2b.5-6.10-12; 
• Mat. 25:1-13 
RS/PK/hr.

TALENTA : ANUGERAH ALLAH

πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Sabtu, 28 Agustus 2021.
Peringatan Wajib St Agustinus, Uskup & Pujangga Gereja :
• 1Tes. 4: 9-11;
• Mzm.98: 1. 7-8. 9;
• Mat. 25: 14-30.

TALENTA : ANUGERAH ALLAH

Perumpamaaan talenta mengingatkan kita bahwa segala yang kita miliki: pengetahuan, keahlian, ketrampilan, bakat, waktu dan hidup itu sendiri, adalah anugerah dari TUHAN. Kita bukan pemilik dari semuanya itu, tetapi hanyalah pemakai dan pemelihara yang dipercayakan TUHAN. Setiap hadiah dan pemberian pasti akan membahagiakan dan membanggakan Sang Pemberi, kalau hadiah itu digunakan atau dilpakai. TUHAN pasti bangga dan sangat berkenan bila kita menggunakan hadiah atau anugerah yang DIA berikan, bukan demi kepentingan diri sendiri tetapi kepentingan bersama dan demi Kemuliaan TUHAN. Jadi bukan soal banyak atau sedikitnya talenta yang kita punyai, tetapi bagaimana menggunakan talenta yang diberikan kepada kita.
Setiap kita diberikan talenta sesuai dengan Rencana ALLAH dalam hidup kita masing-masing. Dan talenta yang diberikan itu sesuai dengan kemampuan kita untuk memelihara dan menjaganya, agar berguna untuk kehidupan banyak orang dan tidak disalahgunakan.

Jadi, TUHAN menciptakan semua alam semesta ini baik adanya. Bahkan lebih dari itu, TUHAN menciptakan manusia sesuai dengan citra-NYA. Karena itu manusia adalah ciptaan-NYA yang paling luhur melebihi makhluk lain. ALLAH membekali dan mempercyakan kepada manusia berbagai potensi dan talenta dalam hidupnya. Dan IA menghendaki agar semua talenta itu dikembangkan. Sebab tiap talenta yang dikembangkan pasti melibatkan orang lain. Sebaliknya talenta yang tidak dikembangkan mungkin hanya untuk diri sendiri. Karena itu IA  mencampakkan "hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi". (Mat. 25:30). Sementara para hamba yang mempunyai kemauan untuk melipatgandakan talenta mendapat bagian dalam kebahagiaan bersama Tuannya.

"Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya". (ayat 29). Artinya, mereka yang memperoleh talenta lebih banyak  mengembangkannya dan akan menghasilkan buah yang banyak juga. Sementara mereka yang bermalas-malasan dan takut mengambil resiko, akan "dicampakkan."

Maka marilah kita proaktif dan kreatif mengembangkan bakat dan ketrampilan yang kita miliki dan tidak perlu takut salah dan berani mengambil resiko. Percayalah pasti akan ada jalan hingga kita bisa mengatasi kelemahan dan kerapuhan kita, asalkan kita terus rajin, tekun, kreatif dan proaktif mau maju, bertumbuh dan berkembang!
Karena itu, mengembangkan talenta selayaknya dilihat sebagai kesempatan untuk memuliakan TUHAN, Sang Pemberi talenta (Ad Maiorem Dei Gloriam) dan demi kebaikan bersama, bukan sebagai kesempatan untuk menonjolkan diri!
Adakah tekad itu pada diri kita?

Hari ini Gereja merayakan Santo Agustinus (354-430) Uskup dan Pujangga Gereja, seorang tipe genius yang ingin merambah rahasia alam dan daya manusia. Sejak kecilnya memang cerdas otaknya hingga ayahnya bercita-cita dia jadi seorang yang sangat terkenal. Ia dimasukkan ke sekolah dan universitas terbaik. Dalam usia muda ia sudah jadi mahaguru dan sangat terkenal. Tetapi karena ia belum mengenal KRISTUS, hidupnya masih berantakan dan bejat moralnya, hingga ia mempunyai "anak haram". Itulah yang menyebabkan ibunya, St Monika sangat sedih dan prihatin melihat tingkah lakunya yang amoral itu. Dengan tekun selama bertahun-tahun ia berdoa dan bermatiraga disertai air mata memohon pertobatan anaknya.
Berkat jasa Uskup St. Ambrosius, akhirnya Agustinus sadar dan bertobat. Umur 32 baru dibaptis dan kelak diberkati jadi imam dan diangkat jadi Uskup pada umur 41 tahun. Tulisannya di beberapa buku jadi sumber penting bagi pengembangan rohani. Banyak orang bertobat karena kotbahnya, sebab ia pandai menguraikan kebenaran iman Kristiani. Kekudusan St Agustinus tidak bisa dilepaskan dari peran dan pengaruh ibunya, St Monika. Dalam proses panjang pergumulan hidup dan pemikirannya, ia akhirnya terbuka melihat kebenaran sejati akan Wahyu Ilahi dalam Diri YESUS KRISTUS.

Peziarahan panjang menuju kekudusan tidak mengandalkan pada kemampuan otak atau kecerdasan manusiawi, melainkan mengandalkan pada keterbukaan akan Kehendak ALLAH dalam hidup dan membiarkan diri dituntun oleh ROH KUDUS dan Kasih ALLAH sendiri. (bandingkan Bacaan Pertama 1Tes. 4: 9-11).

Ya TUHAN, terima kasih atas anugerah-MU berupa talenta yang ada padaku. Tuntunlah aku dengan ROH KUDUS-MU agar aku mampu menggunakan talentaku demi kemuliaan Nama-MU dan kesejahteraan banyak orang. St Agustinus, doakanlah dan bimbinglah aku. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas pada akhir pekan  sesuai dengan Prokes dan aturan lain. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.