Latest News

Friday, November 12, 2021

MENGAMPUNI

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Senin, 8 November 2021.
Hari Biasa Pekan Biasa XXXII :
• Keb. 1: 1-7;
• Mzm. 139: 1-3. 4-6. 7-8. 9-10;
• Luk.17: 1-6.

MENGAMPUNI

Pada hari ini TUHAN YESUS dalam perikop Injil memberikan beberapa nasehat praktis yang bisa kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
Pertama. Janganlah ikut menyesatkan. TUHAN YESUS sendiri mengaku, saat itu "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya." (Luk. 17: 1). Harus diakui bahwa dengan pesatnya perkembangan dunia medsos, maka orang mudah juga membuat berita-berita bohong (hoax). Saat ini karena orang sengaja menyebar luaskan hoax dan dilakukan secara terus menerus maka yang hoax ini bisa dianggap sebagai "kebenaran". Yang paling penting kita lakukan selain kita kritisi terus adanya berita bohong itu, maka kita juga harus pro-aktif memerangi hoax dengan menyebarkan kebenaran dan dengan obyektif menunjukkan mana yang salah.
Pada masa carut-marut informasi yang menyesatkan saat ini, kita harus teguh iman kita. Maka bersama para Rasul kita mohon kepada TUHAN: "Tambahkanlah iman kami." (ayat 5). Dengan iman, kita akan dikuatkan sekaligus diberi penerangan ROH  supaya jangan tersesat ketika berjalan ke Rumah BAPA.

Kedua. "Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia." (ayat 3).
Menegor dengan penuh cinta kasih, bukan dengan kemarahan atau rasa benci. Dengan dasar itu kita harus mampu memaafkan atau mengampuni. Dan pengampunan itu dilakukan bukan hanya sekali atau dua kali, melainkan berkali-kali alias seterusnya sebab BAPA di Surga juga Maharahim dan Maha Pengampun yang selalu mengampuni para pendosa yang bertobat.
Sedangkan YESUS menuntut kita agar dapat hidup sempuna seperti BAPA di Surga. (bdk. Mat. 5: 48).

Berusaha untuk menghindari dosa itu penting, tetapi mengampuni orang yang bersalah mengantar manusia pada kemanusiaan sejati.
Salah satu aspek penting dari pengampunan yang disampaikan YESUS adalah memberi kesempatan. Maka pengampunan bukan semata-mata memberi maaf saja, tetapi juga kesediaan menerima kembali dan memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Tentu hal ini tidak mudah buat kita saat ini sebab banyak tantangannya seperti kemampuan untuk mengendalikan diri, mengalahkan rasa sombong/gengsi pribadi. Pengampunan hanya bisa diberikan bila manusia mau membuka diri untuk rendah hati dan menerima kebijaksanaan Ilahi.

Salomo memberikan nasehat tentang kebijaksanaan ini dengan anjuran: "Carilah kebijaksanaan dan jauhilah dosa.": "Kasihilah kebenaran, hai para penguasa dunia, hendaklah pikiranmu tertuju pada TUHAN dengan tulus ikhlas, dan carilah DIA dengan tulus hati!" (Keb. 1: 1).
Kebijaksanaan tidak masuk ke dalam hati yang keruh dan dikuasai oleh dosa.
Sudahkah kita siap untuk terbuka?

Ya TUHAN, tambahkanlah imanku supaya hatiku senantiasa terbuka untuk mengampuni sesamaku. Dan ajarilah aku untuk tetap rendah hati. Amin.

Selamat pagi. Selamat menjalankan aktivitas sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr

KITA ADALAH BAIT ALLAH.

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Selasa, 9 November 2021. 
Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran :

• Yeh. 47: 1-2. 8-9. 12; 
• Mzm. 46: 2-3. 5-6. 8-9;
• 1Kor. 3: 9b-11. 16-17;  
• Yoh. 2: 13-22.

KITA ADALAH BAIT ALLAH.

Gereja Basilik Santo Yohanes Lateran di Roma adalah Gereja Paus yang dianggap sebagai "kepala" dan "ibu" dari semua Gereja di seluruh dunia. Semula Gereja ini adalah istana seorang senator kaya, Plautius Lateranus. Setelah ia meninggal, Kaisar Konstantinus Agung, putera Santa Helena, pada tahun 324 mendirikan kapel yang didedikasikan kepada Santo Yohanes Pembaptis dan Santo Yohanes Penginjil. Dalam konteks sejarah Gereja Katolik, basilik ini merupakan basilik agung yang pertama, yang melambangkan kemerdekaan dan perdamaian dalam Gereja, setelah selama tiga abad lebih berada dalam penghambatan dan penganiayaan kaisar-kaisar Romawi yang masih kafir. Peringatan pemberkatan basilik ini merupakan peringatan akan kemerdekaan dan perdamaian itu.

Semua Bacaan Suci hari ini menekankan tentang peranan dari bangunan Gereja yang pada zaman Perjanjian Lama dan pada Perjanjian Baru disebut Bait ALLAH, maupun juga peranan Gereja sebagai persekutuan umat ALLAH.
Dalam Bacaan Pertama, dilukiskan bahwa air yang mengalir dari Bait ALLAH itu mempunyai daya hidup yang luar biasa: "Ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk yang berkeriapan di dalamnya akan hidup". (Yeh. 47: 9). Gereja sebagai persekutuan umat ALLAH diharapkan dapat memberikan kehidupan dalam semua aspek hingga semua manusia dari mana pun asalnya merasa nyaman, damai dan sejahtera dalam pangkuan Gereja maupun karena pengaruh Gereja. Air yang mengalir tiada henti itu melambangkan juga Rahmat TUHAN yang membersihkan hati, menyucikan pikiran dan jiwa serta melepaskan dahaga.

Sebagai seorang ahli bangunan, Rasul Paulus dalam Bacaan Kedua mengingatkan kita bahwa dasar atau pondasi dari Bait ALLAH adalah YESUS KRISTUS sendiri. Bahkan Paulus mengajarkan bahwa badan kita adalah Bait ALLAH. Sebagaimana YESUS itu kudus, maka sudah sepantasnya kalau kita juga harus menjaga kekudusan badan dan jiwa kita. Mengapa kita disebut Bait ALLAH? Karena sejak pembaptisan, ROH ALLAH telah tinggal dalam diri kita masing-masing. Karena itu, benarlah penglihatan Nabi Yehezkiel, bahwa orang-orang yang berada dalam Bait ALLAH atau Gereja itu harus kudus. Dengan demikian "air yang mengalir keluar" dari Bait ALLAH itu mampu menyucikan, membersihkan dan Ο€menghidupi semua makhluk ciptaan-NYA.

Karena kita semua harus menjaga kekudusan Bait ALLAH, maka sangat dimengerti bahwa TUHAN YESUS sangat marah melihat para pedagang hewan korban berjualan seenaknya di seputar Bait ALLAH. DIA tidak terima Rumah BAPA-NYA dijadikan sarang penyamun. Maka IA usir semua pedagang itu sambil membalikkan barang-barang dagangan mereka. Dengan merenungkan peristiwa kemarahan YESUS terhadap para pedagang di Bait ALLAH itu, kita pada hari ini secara khusus diajak untuk mawas diri: Apakah kita juga seperti para pedagang itu yang menjadikan Gereja sebagai ajang bisnis? Kita menggunakan Gereja sebagai lahan untuk mencari untung, sehingga pada saat kerugian yang dialami, maka Gereja mulai ditinggalkan, benarkah jalan pikiran seperti itu? Marilah pada Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran ini kita murnikan kembali motivasi dan niat kita pergi ke Gereja adalah untuk memuliakan Nama ALLAH, bersyukur dan bersujud kepada-NYA serta mengadakan persekutuan dengan seluruh umat beriman dalam KRISTUS.

Ya YESUS, ajarilah aku untuk menjaga kemurnian dan kesucian hatiku, karena aku percaya bahwa badanku adalah Bait ALLAH. Aku mohon agar ENGKAU mau memupuk iman dan cintaku kepada-MU serta bersama umat-MU yang lain memuji dan memuliakan Nama-MU. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

TAHU DIRI SERTA TAHU BERSYUKUR DAN BERTERIMA KASIH.

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Rabu, 10 November 2021.
Peringatan Wajib St Leo Agung, Paus & Pujangga Gereja
• Keb. 6: 1-11;
• Mzm. 82: 3-4. 6-7;
• Luk. 17: 11-19. 

TAHU DIRI SERTA TAHU BERSYUKUR DAN BERTERIMA KASIH.

Kitab Kebijaksanaan dalam Bacaan Pertama memberikan nasehat yang tepat bagi para pemimpin yaitu para raja dan penguasa lainnya. Diingatkan bahwa kekuasaan yang sedang dipegang dan dijalankan adalah dari TUHAN sendiri. Karena itu harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. TUHAN sendiri yang akan mengontrol segala perencanaan dan tindakannya. Para pemimpin pada dasarnya adalah "abdi dari Kerajaan-NYA", maka jangan sekali-kali menyalahgunakan kekuasaan itu. Sebab, "Dengan dahsyat dan cepat IA akan mendatangi kamu, sebab pengadilan yang tak terelakkan menimpa para pembesar." (Keb. 6: 5).

Bagi kita yang saat ini masih dipercaya sebagai pemimpin, kepala atau komandan yang memegang suatu jabatan tertentu, kiranya dapat menyadari bahwa kekuasaan yang sedang kita miliki itu bersifat sementara. Karena itu, harus dapat kita pergunakan sesuai dengan kehendak-NYA melalui aturan main yang berlaku.
Betapa pun kecilnya wewenang dan kuasa yang kita pegang, hal itu harus dijalankan dan dipertanggung jawabkan secara paripurna. Jangan sampai kita telantarkan dan tinggalkan kewajiban kita itu karena pada dasarnya kita adalah hanya menjadi "alat-NYA".

Dalam perikop Injil hari ini, TUHAN YESUS dalam perjalanan-NYA menuju Yerusalem, dan menyusuri perbatasan Samaria dan Galilea, telah memberikan kesembuhan kepada sepuluh orang kusta. Penyakit kusta pada waktu itu dianggap penyakit terkutuk, paling nista dan najis. Mereka berteriak-teriak memanggil Nama-NYA: "YESUS, Guru, kasihanilah kami!" (Luk. 17: 13). Dengan penuh belas kasih, YESUS memandang mereka sambil berkata: "Pergilah perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." (ayat 14). Ini adalah tradisi lama dalam Taurat bahwa orang kusta yang mau ditahirkan, harus datang ke imam (lihat Im. 14: 1-32). Sementara mereka pergi ke sana, sembuhlah kesepuluh orang kusta itu. Akan tetapi, hanya satu orang - justru ini orang kafir dari Samaria yang dianggap sebagai warga negara kelas dua - yang ingat untuk mengucapkan syukur dan terima kasih kepada YESUS. Hal ini membuat YESUS juga agak heran: "Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan ALLAH selain daripada orang asing ini?" (ayat 18). Mana kesembilan orang Yahudi itu? Apakah diri kita juga mirip dengan sembilan orang yang disembuhkan itu?

Di balik kisah ini YESUS ingin mengingatkan kita supaya menjadi orang-orang yang tahu berterima kasih atas Kebaikan TUHAN. Jangan hanya pergi ngeloyor tanpa ingat untuk berterima kasih pada TUHAN atau pada orang yang telah berjasa kepada kita! Kebaikan TUHAN tidak hanya menyangkut kejadian yang besar atau luar biasa, tetapi juga berkaitan dengan hal-hal yang kecil, remeh dan tidak diperhatikan orang. Di sinilah pentingnya kita mempunyai kepekaan untuk dapat berterima kasih. Hal yang sama juga berlaku bila kita telah dibantu atau diberi pertolongan oleh orang lain. Janganlah lupa mengucapkan terima kasih.
Apalagi bila kita adalah seorang pemimpin! Pemimpin harus bisa memberikan teladan, termasuk dalam hal berterima kasih. Ucapan terima kasih bila keluar dari mulut seorang pemimpin, akan sangat berarti bagi orang-orang yang dipimpinnya. Jadilah orang yang suka mengucapkan terima kasih, sebab biasanya ia juga suka bersyukur kepada TUHAN. Orang yang suka bersyukur senantiasa akan mendapatkan jalan dan berkat-NYA.

Hari ini secara Nasional bangsa kita memperingati jasa-jasa Para Pahlawan yang telah gugur ketika mendirikan, mempertahankan dan berjuang dengan gigih membela kehormatan bangsa. Mereka telah berkorban baik jiwa maupun raganya. Marilah kita bersyukur kepada TUHAN karena telah memberi orang-orang terbaik yang telah rela berkorban. Kita berdoa untuk para Pahlawan bangsa itu serta seluruh keluarga yang ditinggalkan.

Hari ini Gereja secara universal memperingati St. Leo Agung, Paus dan Pujangga Gereja (+461). Dialah Paus yang gigih melawan ajaran sesat tentang ke-Ilahian dan kemanusiaan KRISTUS dan menegaskan bahwa YESUS itu sungguh ALLAH dan sungguh manusia, tetapi satu Pribadi! Paus Leo terkenal sebagai Pujangga Gereja yang banyak menulis tentang iman Katolik yang benar. Dialah pemimpin yang berani, berwibawa, penuh semangat, pantang menyerah, berhati lapang dan sederhana pola hidupnya.

Ya YESUS, ajarilah aku untuk menjadi seorang pemimpin atau kepala yang bertanggung jawab, jangan biarkan aku lari dari tanggung jawabku. Dan ingatkanlah aku agar aku dapat menjadi orang yang suka berterima kasih kepada TUHAN dan sesama. St Leo Agung, doakanlah kami. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

KAPAN DAN DI MANA KERAJAAN ALLAH DATANG?

KAPAN DAN DI MANA KERAJAAN ALLAH DATANG?

Pada tahun 2012 yang lalu dunia sempat heboh dengan berita akan terjadi "kiamat". Segala perkiraan terjadi, kira-kira kalau akhir zaman bagaimana kejadiannya. Bahkan dunia perfilman pun mengumbar fantasinya dengan gambaran yang menyeramkan. Tetapi, semua ramalan itu tidak terjadi, buktinya kita sampai sekarang masih hidup dengan tenang.

Demikian pula orang sering ingin mencoba mencari tahu tentang kedatangan Kerajaan ALLAH. Tidak sedikit yang menerjemahkan makna kedatangan Kerajaan ALLAH secara heboh dan spektakuler dilengkapi tanda-tanda ajaib. Namun, TUHAN YESUS dalam Injil hari ini menegaskan bahwa kehadiran Kerajaan ALLAH itu sungguh nyata dengan kehadiran YESUS, PUTERA ALLAH, di tengah-tengah bangsa Israel. Kehadiran YESUS di dunia dengan mengemban misi dari BAPA-NYA untuk membebaskan penderitaan manusia akibat dosa, membebaskan dari sakit, lapar, haus, kematian dan dari pelbagai masalah hidup ini. Itu semua merupakan tanda nyata dari kehadiran Kerajaan ALLAH. Saat ini TUHAN YESUS sudah tidak hidup lagi di dunia seperti 2000 tahun yang lalu. Tetapi Kerajaan ALLAH itu tetap berada di tengah kita, yaitu berupa suasana damai, aman, tenteram, adil, penuh persahabatan dan persaudaraan serta ketenangan dalam menjalankan tugas peribadatan maupun tugas-tugas harian lainnya.

Menjadi tugas kita sebagai pengikut KRISTUS, untuk mewujudkan Kerajaan ALLAH pada zaman ini lewat perbuatan dan tindakan yang serupa seperti YESUS kerjakan 2000 tahun yang lalu. Kita perlu membawa damai di tengah masyarakat yang penuh dengan kebencian dan permusuhan. Kita memberi kegembiraan dan optimisme di kalangan orang yang mengalami kesedihan dan pesimis atau tipis harapan karena masa pandemi saat ini. Kita menghibur mereka yang dalam kesedihan dan merana setelah mereka mengalami bencana alam. Kita menebarkan kasih di kalangan mereka yang gemar cari musuh. Kita membawa harapan di tengah masyarakat yang serba cemas, takut dan putus asa. Singkatnya, Kerajaan ALLAH bukanlah bangunan kerajaan yang wah, atau kekuasaan uang yang mampu membayar apa saja. Kerajaan ALLAH adalah suasana dan kondisi yang damai, tenang, adil dan penuh rasa kasih persahabatan dan persaudaraan.

Agar kita dapat mengemban misi menghadirkan Kerajaan ALLAH di dunia ini, kita perlu memiliki kebijaksanaan. Apakah kebijaksanaan itu? Kitab Kebijaksanaan Salomo menggambarkan bahwa kebijaksanan "merupakan pantulan cahaya kekal, dan cermin tak bernoda dari kegiatan ALLAH, dan gambar kebaikan-NYA." (Keb. 7: 26). Tiada sesuatupun yang dikasihi ALLAH, kecuali orang yang berdiam bersama dengan kebijaksanaan. Bagi kita yang mengimani KRISTUS, maka YESUS KRISTUS-lah Kebijaksanaan itu. Maka orang yang bijak adalah orang yang memiliki sifat mendekati atau mirip dengan KRISTUS itu sendiri. Dengan demikian, orang bijak menjadi sahabat ALLAH dan mampu mengalahkan kejahatan. Kita sendiri bagaimana? Sanggupkah kita berusaha kuat untuk menjadi orang yang bijak?

St Martinus dari Tours (316-397) yang kita peringati hari ini,  ketika masih menjadi perajurit Romawi pada malam yang dingin secara tidak sengaja bertemu dengan seorang pengemis yang menggigil kedinginan. Tanpa berpikir panjang ia membelah mantolnya menjadi dua bagian dan menyelimutkan pada pengemis itu. Kejadian inilah yang mengubah hidup Martinus. Pengemis itu ternyata TUHAN YESUS sendiri yang menampakkan Diri padanya. Setelah kejadian ini ia kemudian belajar agama untuk jadi pengikut KRISTUS. Dan setelah dibaptis, ia meninggalkan tugas militernya, ia berguru pada St Hilarius, Uskup Poitiers Perancis, dan kelak bergabung dalam biara St Hilarius. Kelak Martinus diangkat menjadi Uakup di Tours. Sebagai seorang bekas perajurit, ia berani melawan para bidaah yang menyelewengkan ajaran KRISTUS. Ia banyak menghancurkan tempat-tempat pemujaan berhala. Pendirian imannya sangat teguh. Martinus adalah salah seorang di antara orang-orang suci pertama yang bukan martir.

Ya TUHAN, bantulah aku untuk mampu menjadi perpanjangan Kasih-MU dalam mewujudkan Kehadiran Kerajaan-MU pada zaman ini melalui perbuatan-perbuatan baikku; berilah aku ROH KEBIJAKSANAAN-MU. St. Martinus doakanlah aku. Amin.

Bdk
Kamis, 11 November 2021. Peringatan Wajib St. Martinus dari Tours, Uskup : 
• Keb. 7:  22 -  8:1; 
• Mzm. 119: 89. 90. 130. 135. 175;
• Luk. 17: 20-25.
PK/hr.

Sunday, November 7, 2021

MARI MAWAS DIRI!

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Rabu, 13 Oktober 2021. 
Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII : 
• Rm. 2: 1-11; 
• Mzm. 62:  2-3. 6-7. 9;
• Luk. 11: 42-46.

MARI MAWAS DIRI!

Kedua Bacaan Suci hari ini mengajak kita masing-masing untuk berani mawas diri, dan tidak mudah main tuding orang lain. Dengan menuding sebenarnya secara tidak sadar tiga jari diarahkan kepada diri sendiri, sementara satu jari kepada orang lain.

Kecaman keras yang dilontarkan TUHAN YESUS kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat diawali dengan kata yang semakin pedas: "Celakalah kamu...."
Mereka yang dikecam itu sungguh "celaka.." karena mereka mengalami "surga" yang palsu, yaitu hati yang dibutakan oleh materi, kekayaan dan kehormatan. Mereka berpuas diri dan tidak ada rasa penyesalan sama sekali; mereka tidak peduli nasib orang kecil. Mereka juga "celaka..." karena hidup dalam kemunafikan yang berkelanjutan.
 
Secara terang-terangan YESUS membongkar kebobrokan praktik kehidupan agama mereka yang bermotivasi agar dilihat dan dihormati orang. Mereka juga membuat hukum dan peraturan yang mereka sendiri tidak melaksanakannya. Mereka bukan saja penuh dengan kebusukan dan kebobrokan, tetapi justru menyesatkan orang lain dengan ajaran mereka. Mereka ibarat kuburan yang tidak ada tandanya.
Dalam adat Yahudi, orang yang menginjak kuburan akan najis selama tujuh hari. Banyak yang menginjak kuburan karena kuburan itu tidak mempunyai tanda. Orang Farisi ibarat kuburan yang tidak punya tanda dan orang bisa terkontaminasi dengan ajaran sesat mereka.

Marilah kita dengan rendah hati di hadapan TUHAN YESUS Yang Tersalib berani melihat diri sendiri dan jangan menengok orang lain! Bercerminlah sendiri: apakah kata-kata keras TUHAN YESUS itu juga ditujukan kepada diri kita? Cobalah jawab secara jujur di dalam hati.

TUHAN YESUS juga mengingatkan bahwa inti dari Perintah ALLAH adalah kasih dan keadilan. ALLAH sendiri adalah kasih dan segala yang DIA lakukan mengalir dari Kasih-NYA. Kasih adalah pengorbanan yang selalu merangkul dan meringankan beban orang lain. Tetapi yang dikerjakan para ahli Taurat justru sebaliknya. Maka DIA mengecam keras: "Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun". (Luk. 11: 46).

Khususnya selama masa sulit pandemi saat ini, seberapa jauh kita sudah melaksanakan kasih dan keadilan itu pada keluarga atau komunitas, pada lingkungan kerja atau para tetangga kita? Dan pada masyarakat umum?

Sementara itu dalam Bacaan Pertama, Rasul Paulus mengingatkan kita agar tidak mudah menghakimi orang lain dengan ukuran kita sendiri. Memang banyak orang merasa dirinya jauh lebih baik daripada orang lain. Itulah sebabnya orang suka untuk ngrumpi atau nge-gossip yang biasanya membicarakan dan membesar-besarkan kesalahan atau kekurangan orang lain. Rasul Paulus mengingatkan: "ALLAH tidak memandang bulu." (Rm. 2: 11). TUHAN tidak membedakan perlakuan-NYA terhadap manusia, atas dasar suku, bangsa, agama atau status sosial. Semua orang di hadapan-NYA sama hak dan kewajibannya. DIA tidak diskriminatif seperti halnya sikap manusia.
Setiap orang harus bertanggungjawab atas perkataan atau perbuatan yang dilakukannya. Anugerah kehidupan yang masih kita miliki adalah bukti kemurahan ALLAH yang terus bekerja untuk membawa kita ke pertobatan. Masa hidup yang masih tersisa ini harus diipergunakan sebagai masa pertobatan sejati. Kita hdup ini juga untuk bertobat bukan untuk menikmatinya saja. Dengan bertobat sebenarnya kita laksanakan "revolusi mental": mental yang semula angkuh dan serakah dirombak total menjadi rendah hati dan murah hati. Ini semua bisa terjadi hanya melalui jalan pertobatan dan kerendahan hati.

Ya YESUS, ajarilah aku untuk memlliki sikap mental "tahu diri" hingga aku bisa rendah hati mengakui kekurangan-kekuranganku, dan bantulah aku untuk bersikap jujur, adil dan berani bertanggungjawab atas segala tindakan maupun perkataanku. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

JADILAH SAKSI KEBENARAN!

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Kamis, 14 Oktober 2021.
Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII :
• Rm.3: 21-30;
• Mzm. 130: 1-2. 3-4b. 4c-6;
• Luk. 11: 47-54.

JADILAH SAKSI KEBENARAN!

Dalam Bacaan Pertama hari ini Rasul Paulus secara eksplisit  menegaskan bahwa iman akan ALLAH itu yang menyelamatkan, dan itulah yang pokok. Karena itu, Paulus yakin bahwa "manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat". (Rm. 3: 28) Paulus juga mengingatkan bahwa yang dibenarkan adalah iman dalam YESUS KRISTUS. DIA telah ditentukan ALLAH menjadi jalan pendamaian. Melalui Darah-NYA di kayu salib YESUS telah mendamaikan ALLAH dengan manusia. Dengan demikian kasih setia ALLAH telah nyata dalam Diri YESUS KRISTUS yang menebus kita secara cuma-cuma. Atas dasar inilah selayaknya kita patut bersyukur, bergembira dan bermegah karena iman, bukan karena kecemerlangan intelektual, popularitas atau jabatan semata. Apakah kita sungguh hidup jujur dalam beriman? Beranikah kita jadi saksi kebenaran dengan segala resikonya? Bersediakah kita berbuat baik kepada siapa saja yang membutuhkan selama pandemi ini?

Bagi kita saat ini yang penting adalah iman akan YESUS yang pasti menyelamatkan; ini perlu kita dalami terus penghayatannya dalam kasih kepada sesama hingga kita merasa tenang dan tenteram serta mengalami sukacita. Dengan demikian iman kita tidak akan mati. Karena itu kita perlu mengalami pertobatan batin secara radikal seperti yang dialami Paulus, Ignasius Loyola, Teresa dari Avilla dan para Kudus lainnya.

Dalam perikop Injil hari ini, TUHAN YESUS  masih meneruskan kritik tajamnya kepada para ahli Taurat dan orang Farisi. DIA mengkritik kepalsuan dan kemunafikan. Kritik itu menjadi lebih tajam karena ditujukan kepada mereka yang diberi mandat untuk menuntun hidup sesamanya melalui pengajaran agama, namun tidak dijalankan karena berbagai alasan. Kepalsuan dan kemunafikan semakin nyata dengan alasan nama baik, jabatan, kehormatan, dan demi popularitas. Kepalsuan berarti menutupi apa yang seharusnya dinyatakan apa adanya, atau tidak menampilkan diri yang sebenarnya.
Sementara kemunafikan makin nyata dalam sikap, bicara dan tindakan yang seolah-olah benar, jujur dan tanpa cacat, tetapi kenyataannya sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dikatakan. Terhadap sikap yang demikian kecaman dan kritik YESUS menjadi aktual dan mendalam.
Karena itu, sikap dan tindakan hidup kita hendaknya didasari oleh iman. Sebab iman itu mendorong kita untuk berbuat kebaikan dan memberikan kehidupan bagi sesama.

Kita bisa jadi tidak berbuat jahat, tetapi mungkin kita membiarkan akibat perbuatan jahat orang lain. Ahli Taurat dan orang Farisi dikecam oleh YESUS karena sikap semacam itu. Dengan membangun makam para nabi, mereka mungkin mau menunjukkan rasa hormat dan kagum terhadap para nabi. Namun YESUS membongkar kemunafikan mereka yang hanya mengelabui mata orang dengan penghargaan mereka yang semu, tetapi mereka menolak kehadiran Nabi Sejati Utusan ALLAH BAPA, Sang Mesias, di tengah mereka.

Para ahli Taurat dikecam YESUS juga karena mereka yang merupakan pemegang kunci pengetahuan tentang ALLAH, bukan saja menutup diri dari anugerah surga yang dijanjikan, tetapi justru menghalangi orang lain untuk masuk ke dalam Kerajaan ALLAH. Janganlah membuat ajaran TUHAN itu sedemikian kompleks hingga tidak bisa dimengerti orang atau menyebabkan orang tidak mampu memahaminya. Lebih parah lagi, mereka menghalangi orang lain untuk berbuat yang baik karena khawatir orang itu bisa lebih baik daripada mereka. Apakah kita juga suka melakukan apa yang dikerjakan para ahli Taurat itu?  

Tidaklah heran bila para ahli Taurat dan orang Farisi semakin "gerah" dan marah kepada YESUS karena "otoritas" kesucian yang selama ini mereka pegang jadi goyah, sebab tiba- tiba dirontokkan dan ditelanjangi oleh seorang "Nabi Muda, seorang New Comer" dengan menunjukkan semua aib mereka. Maka mereka semakin panas dan mulai menencanakan akan menjebak DIA lagi dan menyeret-NYA ke pengadilan dan dihukum mati!

Sebagai penutup permenungn pagi ini marilah kita bulatkan tekad kita untuk mau dan berani menjadi Saksi Kebenaran apapun resikonya!

Ya BAPA, berilah aku kebijaksanaan untuk semakin meyakini YESUS, PUTERA-MU sebagai Jalan Keselamatan umat manusia. Semoga aku selalu bersyukur atas DIA dan menjadikan DIA sebagai satu-satu nya Andalanku, sehingga aku berani menjadi Saksi Kebenaran-MU. Amin. 

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai dengan Prokes dan aturan lain. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

Menyiapkan Hati untuk Tugas Evangelisasi

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Jumat, 15 Oktober 2021.
Hari Biasa Pekan XXVIII
Peringatan Wajib St. Teresia Avilla, Perawan dan Pujangga Gereja
• Rom 4: 1-8; 
• Mzm 32: 1-2. 5. 11; 
• Luk 12: 1-7.

Menyiapkan Hati untuk 
Tugas Evangelisasi

Setelah mengecam kemunafikan orang Farisi, Tuhan Yesus mengingatkan para murid-Nya akan bahaya kemunafikan. Dalam Bacaan Injil hari ini Yesus berpesan: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.” (Luk 12:1). Perilaku munafik itu merusak dasar-dasar iman. Iman yang benar menuntut kita untuk menghayati ajaran iman di dalam hati dan mewujudkan keutamaan iman itu dalam kehidupan sehari-hari. Sementara orang Farisi menjalankan peraturan agama dengan teliti, tetapi hati mereka penuh kebusukan, dan mereka melakukan manipulasi peraturan demi keuntungan mereka sendiri.
    Pada masa modern ini, banyak orang Kristiani juga terkena penyakit kemunafikan. Mereka mengakui iman Kristiani, mengikuti ibadatnya, sementara hatinya kosong dan tidak mewujudkan ajaran iman dalam kehidupan sehari-hari. Perhatiannya terserap untuk mengejar nilai-nilai duniawi, kebahagiaan semu, dan semakin melupakan Tuhan. 
    Kemunafikan yang paling dalam ialah apabila kita tidak jujur mengenai keadaan kita yang sebenarnya. Kita tidak terbuka baik kepada diri sendiri maupun kepada Tuhan. Kita suka membela diri dan tidak mau menyebutkan keburukan kita dalam hati nurani maupun di hadapan Tuhan. Kita menutup-nutupi keburukan kita supaya dianggap baik oleh Tuhan. 
    Yesus menjelaskan, menutup-nutupi keburukan itu sia-sia dan tidak ada gunanya. “Tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.” (Ay. 2). Sabda Tuhan akan menyingkap semua kepalsuan dan kesucian semu itu, bukan hanya pada pengadilan di akhir zaman tetapi juga dalam masa sekarang.
    Sebelum terlambat, kita mesti membuka diri, mengakui keburukan kita di hadapan Tuhan, lalu bertobat dan berserah sepenuhnya pada belas kasih-Nya. Maka Ia akan berkenan menerima kita, menyelamatkan kita dan menyembuhkan luka-luka batin kita.
    Keyakinan inilah yang diajarkan oleh Rasul Paulus dalam Bacaan Pertama. Allah tidak memberi syarat bahwa kita harus “menjadi orang suci” lebih dulu agar memperoleh keselamatan. Kita orang berdosa dianggap benar oleh Allah bukan karena jasa perbuatan kita sehingga Tuhan harus memberi imbalan, melainkan karena kita berserah diri dalam iman kepada-Nya. Memang, kita orang Kristiani adalah orang yang sangat bahagia di dunia ini. Paulus mengutip mazmur Daud: "Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya; … berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya." (Rom 4:7-8). Dalam keadaan bahagia seperti itu selayaknya kita bersyukur, terus-menerus memperbaiki diri dengan bantuan rahmat-Nya, serta mewartakan kasih Tuhan kepada orang lain.
    Seperti pesan Yesus kepada para murid, ajaran kebenaran yang sudah Ia tanamkan dalam hati mereka jangan hanya disimpan untuk diri sendiri. Ia memberi tugas kepada para murid, Injil-Nya harus disebarkan ke semua orang. “Apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah.” (Luk 12:3) 
    Dalam rumah zaman dahulu ada ‘kamar gelap’ tempat menyimpan harta benda yang sangat berharga. Maksudnya, kebenaran Injil yang sangat berharga dan sudah diterima para murid dalam kelompok kecil itu jangan disimpan untuk diri sendiri. Hakikat Gereja adalah evangelisasi, mewartakan kabar baik, membagikan visi Kristus ke seluruh dunia. Setiap orang Kristiani dipanggil untuk tugas pewartaan, dengan berbagai cara sesuai dengan posisi dan kemampuan masing-masing.
    Agar dapat mewartakan kabar gembira lewat kesaksian hidup, kita harus jauh dari “perilaku munafik”, yaitu menjalani perintah Gereja hanya di luarnya saja, sementara hati kita kosong. Kita harus terus mengisi hati kita dengan kehadiran Tuhan dan mendengarkan bisikan sabda-Nya setiap hari.
    Yesus mengalami sendiri bahwa mewartakan Injil itu mengandung risiko ditolak atau dianggap sebagai ancaman bagi pandangan yang berbeda. Maka Ia menyemangati para murid: “Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut.” (Ay. 4). 
    Para sahabat Yesus tidak perlu takut, karena mereka berada dalam lindungan Allah. Perhatian Allah begitu dekat sampai jumlah rambut kepala kita pun Ia ketahui. Dan, burung pipit saja, yang harganya tidak sampai sepeser, tidak dilupakan Allah, apalagi kita sahabat Yesus. (Lihat ay. 6-7).

Hari ini Gereja merayakan pesta Santa Teresa dari Avilla (1515-1582), seorang pembaharu hidup membiara, mistikus dan pujangga Gereja dengan buku-buku rohaninya yang terkenal. Ia diangkat sebagai pujangga Gereja bersama Sta Katarina dari Siena. Kehidupan rohani Suster Karmel ini sangat dalam, dan ia menuliskan segala pengalaman rohaninya dalam buku-bukunya. Dalam perjalanan hidup membiara, ia mengalami pertobatan radikal dalam batinnya.  Pendiri dari beberapa biara ini sangat dekat dengan ALLAH hingga ia berkeyakinan tidak perlu mencemaskan sesuatupun; kalimatnya yang terkenal: Solo Dios basta, artinya Hanya ALLAH, cukuplah! Baginya, ALLAH itu sudah melebihi segalanya. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1622 oleh Paus Gregorius XIV. 

Ya Yesus Tuhan, isilah hati kami selalu dengan sabda-Mu agar kami dapat beriman pada-Mu dengan penghayatan yang dalam. Kobarkan semangat kami untuk terlibat dalam karya evangelisasi Gereja-Mu. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas dengan mengikuti Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
RS/PK/hr.

IMAN & MANIFESTASINYA

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Sabtu, 16 Oktober 2021.
Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII : 
• Rm. 4: 13. 16-18;
• Mzm. 105: 6-7. 8-9. 42-43;
• Luk. 12: 8-12. 

IMAN & MANIFESTASINYA.

Tidak ada jaminan pasti untuk kesetiaan sebuah cinta di antara dua insan manusia. Kerap terjadi orang bisa melanggar janji kesetiaan karena hal-hal sepele. Lihat saja, hal seperti ini sering terjadi dalam pasangan suami-isteri Katolik. Itulah perbedaan antara janji manusia dan janji TUHAN. Hanya TUHAN yang tidak pernah ingkar janji. IA selalu dan pasti tetap memegang serta memenuhi janji-NYA. Ini yang diyakini oleh Abraham sehingga ia berani tetap bertahan meskipun tampaknya tidak ada dasar yang kasat mata untuk bisa percaya.

Rasul Paulus dalam Bacaan Pertama secara tegas mengatakan bahwa bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, tetapi karena kebenaran yang berdasarkan iman. (bdk Rm. 4: 13)
Karena itu Paulus mengajak kita untuk mensyukuri iman yang telah kita terima. Bahkan Paulus mendoakan secara khusus orang-orang yang telah dengan tekun mempertahankan dan menumbuhkan imannya serta membangun hidup dalam kasih.

Sekurang-kurangnya ada tiga alasan dari ajakan Paulus itu.
Pertama, iman membuat mata hati kita menjadi terang. Kita bisa melihat segala sesuatu dengan jernih, tanpa terhalang oleh kepentingan-kepentingan dan ambisi pribadi. Bahkan dalam hal yang buruk pun kita bisa melihat sesuatu yang baik. Mata hati seperti itu akan menjaga kita untuk tidak mudah jatuh pada pilihan-pilihan yang salah. Jadi, iman akan menjaga dan menyelamatkan kita dari keinginan serta kekuatan jahat, entah dari mana pun dan apa pun bentuknya.
Kedua, iman juga membuat kita melihat Kemuliaan dan Kuasa ALLAH yang menaungi kita. Mengikuti KRISTUS tidaklah sia-sia, selalu ada janji Keselamatan yang diberikan kepada semua orang yang percaya kepada-NYA.
Ketiga, iman akan menyadarkan betapa kita turut ambil bagian dalam kekudusan KRISTUS. IA menjadi Kepala dan kita adalah anggota-anggota Tubuh-NYA. Maka kemuliaan KRISTUS akan menjadi bagian dari kehidupan kita, namun sebaliknya salib KRISTUS juga akan menjadi bagian salib yang tidak bisa terpisahkan dari kita dan harus kita pikul selama kita masih hidup.
Atas kekayaan iman itu, Paulus mengharapkan kita tidak jemu-jemunya mengembangkan iman melalui ketekunan dalam doa, matiraga, puasa dan menerima sakramen-sakramen serta ketulusan dalam kasih dan akhirnya keterbukaan dalam bimbingan ROH KUDUS.

Apakah kita berani menyatakan iman kita secara terbuka di hadapan publik? Lihat saja, pemain bola, bulu tangkis dan atlet Katolik yang menang, secara spontan membuat tanda salib! Soal kecil, tetapi ini salah satu bentuk perwujudan iman. Ataukah kita masih merasa malu atau takut, bahkan coba mengingkarinya?

Dalam perikop Injil hari ini, TUHAN YESUS dengan tegas menyatakan: "Barangsiapa menyangkal AKU di depan manusia, ia akan disangkal di depan Malaikat-malaikat ALLAH." (Luk. 12: 9). Namun ada pernyataan YESUS yang lebih keras: "barangsiapa menghujat ROH KUDUS, ia tidak akan diampuni." (ayat 10). Banyak orang yang kurang paham apa maksud-NYA?

ALLAH menciptakan segala sesuatu dan manusia menurut Citra-NYA dengan dihembus-NYA ROH KUDUS, DAYA HIDUP. TUHAN YESUS yang penuh dengan ROH KUDUS melakukan Karya Agung ALLAH: yang sakit disembuhkan, yang mati dibangkitkan, roh jahat diusir-NYA dan seterusnya. TUHAN YESUS menghembusi para murid-NYA dengan ROH KUDUS, sehingga mereka yang tadinya penakut menjadi pemberani dalam memberikan kesaksian tentang YESUS KRISTUS. Demikianlah karya ROH KUDUS dalam penciptaan, menopang ciptaan dan menebusnya dengan kelimpahan Kasih dan anugerah ALLAH.

Kasih pengampunan TUHAN tidak berkesudahan, tanpa batas ruang dan waktu, dan tanpa syarat. Barangsiapa percaya akan Kerahiman dan belas kasih ALLAH serta bertobat, dia akan menikmati kelimpahan Kasih dan pengampunan ALLAH. Barangsiapa tidak percaya dan tidak bertobat, dia bukan saja menutup diri akan Kerahiman ALLAH, tetapi juga menghujat ROH KUDUS, ROH ALLAH, yang memampukan orang untuk memiliki DAYA HIDUP baru. Pengampunan selalu ada bagi mereka yang percaya dan bertobat.
Oleh Pembaptisan, kita telah dipermandikan dan dikaruniai ROH. Mengimani dan menerima KRISTUS berarti menerima kehadiran KRISTUS dalam wujud ROH-NYA, di dalam diri kita. Bagi YESUS, dosa melawan ROH KUDUS (menghujat ROH KUDUS) adalah dosa paling berat, bahkan tak terampuni, karena merupakan suatu penyangkalan terhadap keberadaan KRISTUS dalam diri kita. Apalah artinya kita menyebut diri pengikut KRISTUS, kalau kita menyangkal DIA yang kita imani!

Ya YESUS, ajarilah aku untuk tetap setia pada imanku; bantulah aku untuk mampu bersabar dan berani bersaksi tentang ajaran-MU yang aku nyatakan dalam tutur kata serta tingkah lakuku. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas pada akhir pekan sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

KEWASPADAAN.

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Selasa, 19 Oktober 2021. 
Hari Biasa Pekan Biasa XXIX : 
• Rm. 5: 12. 15b. 17-19. 20b-21;
• Mzm. 40: 7-8a. 8b-9. 10-17;
• Luk. 12: 35-38.

KEWASPADAAN.

Dalam Bacaan Pertama, Rasul Paulus mengingatkan kita semua bahwa betapa karena satu orang, yaitu Adam, maka seluruh umat manusia terjangkit oleh dosa. Karena pelanggaran satu orang, maka semua orang terperosok ke dalam kuasa maut. Namun, ia juga memberikan penghiburan bahwa karena satu orang, " Adam Baru", yaitu YESUS KRISTUS, Kasih Karunia ALLAH dilimpahkan kepada semua orang. "Jadi sebagaimana oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua menjadi orang benar...... Dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah" (Rm. 5: 19.20b).

Maka YESUS KRISTUS melapangkan jalan kita untuk memperoleh hidup kekal, yakni kebahagiaan hidup abadi bersama ALLAH TRITUNGGAL. Inilah misteri cinta kasih ALLAH yang tidak dapat disingkapkan oleh akal budi manusia. Rupanya dosa manusia tidak dapat mengecilkan dan meniadakan serta menggagalkan Cinta Kasih ALLAH. Marilah kita bersyukur atas belas kasih ALLAH yang berlimpah-limpah itu.

Meskipun anugerah dan cinta kasih ALLAH berkelimpahan, namun tidak berarti bahwa manusia boleh hidup bebas sekehendak hatinya dengan kembali menggumuli dosa.
TUHAN YESUS di dalam bacaan Injil Lukas hari ini berpesan: "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala" (Luk. 12: 35), seperti halnya seorang hamba yang menantikan kedatangan tuannya. Kebahagiaan seorang hamba, bilamana ia dapat melayani tuannya dengan baik dan memuaskan hatinya. Suasana penantian seorang hamba akan kedatangan tuannya inilah yang dipergunakan YESUS untuk mengingatkan kita betapa kita harus tetap waspada dan berjaga-jaga dalam menantikan Kedatangan TUHAN.
Kewaspadaan merupakan sebuah tindak mawas diri untuk tidak terbuai, terlena atau terbenam dalam suatu kondisi yang mengasyikkan hingga orang lupa diri.
Sikap kewaspadaan demikian yang diingatkan TUHAN YESUS dalam menyikapi dan mengisi hidup dengan iman. Kewaspadaan ini diajarkan-NYA, agar orang yang percaya tetap setia, optimis, seraya mampu menyiapkan diri akan berbagai hal yang akan datang dalam hidup, terutama berkenaan dengan kedatangan kembali TUHAN YESUS  dalam hidup kita.
Sikap setia dan siaga yang dijalankan, lahir dengan sepenuh hati karena iman. Iman akan YESUS KRISTUS inilah yang telah menyelamatkan kita dari dosa dan maut.

Semoga kita mampu mengisi hidup dan memaknainya dalam iman akan YESUS yang menyelamatkan, sambil tetap siap siaga akan berbagai godaan dan penyesatan duniawi yang menjauhkan kita dari jalan TUHAN.

Seperti kita imani, bahwa kedatangan TUHAN tidak bisa ditebak atau diramalkan kapan. Yang pasti, kita hanya diminta untuk berjaga-jaga dan bersiap sedia. Sikap siap sedia itu digambarkan oleh Injil seperti seorang hamba yang menantikan tuannnya. Dalam konteks situasi sekarang kesiapsediaan itu dilakukan dengan senantiasa hidup dengan baik dan benar, jujur, rendah hati, adil, peduli terhadap sesama, tidak suka menipu, tidak mengadu-domba dan mencelakakan orang lain, tidak melakukan korupsi ataupun perbuatan nista lainnya. Namun semua itu harus dijalankan dengan tetap penuh suka cita, tanpa merasa "terpaksa" atau "dipaksa", ataupun dengan perasaan terbebani. Sebaliknya, kita harus melakukan perbuatan baik itu dengan gembira dan penuh sukacita, karena pada akhirnya kita akan berjumpa dengan "Tuan" kita yang membawa sukacita dan kegembiraan sejati.

Kita harus berjaga-jaga jangan sampai hidup kita tertular oleh kejahatan, karena sampai sekarang kejahatan, kelicikan, penipuan, kesewenangan dan pemerasan serta ketidak-adilan dalam masyarakat masih terus mencari mangsanya. Sebaliknya, kita harus bisa menularkan segala kebajikan, semangat bela rasa atau solidaritas sosial dan segala jenis perbuatan yang baik kepada sesama kita yang membutuhkan perhatian dan bantuan terutama pada masa sulit pandemi saat ini. Berjaga-jaga dapat diartikan juga kita menjaga keluarga khususnya anak-anak dan orang muda jangan sampai mereka kejangkitan segala penyakit "kemerosotan moralitas," hidup bebas tanpa batas dan terbenam dalam kekuasaan narkotika atau obat-obat terlarang. Berjaga-jaga juga dapat berupa melindungi anggota keluarga besar lainnya dari pengaruh negatif yang ditularkan oleh media sosial dan alat komunikasi sosial lainnya. Sebaliknya, sebagai orang yang lebih dewasa kita harus bisa menanamkan semangat bekerja keras, bertanggung jawab, disiplin, profesional, jujur, berjiwa ksatria dan kritis serta berani menghadapi resiko. Cobalah kita perhatikan dan laksanakan terus tindakan berjaga-jaga ini baik dalam tataran pribadi, keluarga atau komunitas, maupun tingkat masyarakat dan bangsa yang kini tengah menghadapi krisis identitas dan krisis pandemi Covid-19 ini.

Ya YESUS, bantulah aku untuk sungguh bersedia mendengarkan dan melaksanakan apa yang KAU-kehendaki. Semoga dengan penerangan ROH KUDUS aku mampu ambil bagian dalam proses penyelamatan lingkungan hidupku, keluarga atau komunitasku dan masyarakatku. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas dan mengisi hari libur. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

HAMBA YANG SETIA.




HAMBA YANG SETIA.

Melalui perikop Injil hari ini, TUHAN YESUS masih mau melanjutkan nasehat-NYA kepada para murid untuk tetap waspada, setia dan berjaga-jaga. Sikap terbaik kita ibarat hamba yang tetap sabar, tekun dan setia menanti kedatangan Tuannya.
"Hendaklah kamu juga siap sedia, karena ANAK MANUSIA datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." (Luk.12: 40).
Hidup kita harus stabil dalam kebaikan. Kalau hidup kita fluktuatif, kadang baik, kadang buruk, hal itu menimbulkan resiko tersendiri. Beruntung jika kita dipanggil TUHAN ketika sedang baik. Tetapi sungguh "apes" kalau ajal menjemput saat kita dalam kondisi yang buruk sekali. Maka langkah yang paling aman adalah hidup stabil dalam kesetiaan, kepatuhan dan kebaikan.
Sanggupkah kita mempertahankan kesetiaan, kepatuhan dan kebaikan itu, sementara kedatangan ANAK MANUSIA sendiri tidak jelas kapan. Inilah tantangan yang kita hadapi: Bagaimana kita tetap bisa berjaga-jaga sekalipun dalam hidup ini kita jumpai banyak kesulitan? Salah satu caranya adalah dengan menganggap seolah TUHAN akan datang segera, entah nanti, besok atau lusa. Dengan demikian maka kita akan terus dalam kondisi berjaga-jaga lewat doa-doa, atau tindakan kasih dan tindak kebajikan lainnya. "Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang," (ayat 43) demikian pesan YESUS.

Sikap berjaga-jaga bukan hanya "begadang" atau tidak lengah hingga tidak kecolongan. Sikap berjaga-jaga juga mengandaikan kepekaan akan tanda-tanda zaman dan akan gerakan ROH  dalam hidup kita. Kepekaan itu dapat dibangun dengan membangun sikap reflektif atas pengalaman hidup sehari-hari. Cobalah kita latih dan asah terus kepekaan kita setiap pagi atau malam.

Di bagian lain TUHAN mengingatkan: "Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut." (ayat 48).
Orangtua yang mempunyai anak yang diberi banyak bakat dan ketrampilan serta IQ yang tinggi, pasti mempunyai harapan yang besar terhadap pengembangan diri anak itu. Berbeda kondisinya bila anak itu serba terbatas kemampuan intelektual, emosional dan fisiknya. Terhadap anak seperti itu tuntutan orangtua tidak seberapa. Bisa hidup secara normal dan wajar saja,
sudah bagus.

BAPA kita di surga pun kurang-lebih sikap-NYA sama seperti orangtua itu. DIA akan berharap pada anak-NYA sesuai dengan talenta yang ada padanya. DIA tidak menuntut yang melebihi kemampuan dirinya. Namun, lepas dari bakat pandai atau kurang pandai, trampil atau lamban, rajin atau malas, yang pasti ALLAH menuntut kita semua untuk setia dan taat sepanjang  umur kita. Kesetiaan dan ketaatan kepada-NYA, inilah yang dituntut dari kita semua. Cobalah kita mawas diri, sejauh mana kesetiaan dan ketaatan kita pada ajaran YESUS, terutama dalam hal cinta kasih kepada-NYA dan sesama kita? Bagaimana kesetiaan kita pada keluarga dan pekerjaan atau tugas kita sehari-hari?

Seorang pertapa yang sedang menyapu halaman biara, ditanya oleh seniornya: Seandainya dia hanya diberi waktu hidup satu hari lagi, kira-kira aksi apa yang akan dia lakukan? Pertapa itu dengan tenang penuh percaya diri menjawab: "Aku akan terus menyapu". Menjalankan tugas sehari-hari dengan tekun, jujur, ikhlas, setia dan penuh tanggung jawab serta tanpa mencari pujian, adalah bentuk persiapan untuk menyambut kedatangan TUHAN, yang seorang pun tidak ada yang mengetahuinya kapan itu akan terjadi.

Sementara itu Rasul Paulus dalam Bacaan Pertama, mengingatkan jemaat di Roma dan tentunya kita juga pada saat ini, agar hidup kita jangan sampai dikuasai oleh dosa dan menuruti semua nafsu keinginan kedagingan. Tubuh kita dengan seluruh anggotanya janganlah untuk berbuat kelaliman melainkan kita serahkan sepenuhnya kepada ALLAH. Dengan demikian hidup beriman kepada ALLAH bukanlah satu hal yang sekali diucapkan dan sekali jadi, ataupun juga bukan seperti  membalikkan tangan, melainkan harus tekun, sabar, ikhlas, jujur dan terus-menerus menjaga dan mengembangkan diri pribadi dan integritas kita menuju kepada kesempurnaan. Sebagai orang beriman kita harus tetap rendah hati dalam menghambakan diri kepada ALLAH, menjalankan segala ajaran-NYA yang disampaikan Gereja serta hidup sehari-hari di tengah masyarakat yang majemuk dan sedang berperang melawan Covid-19 dengan mengutamakan ketaatan, kerukunan, kedamaian, kebaikan dan kesejahteraan bersama serta menjauhi segala bentuk konflik, pertikaian dan permusuhan di antara sesama warga. Sebagai pengikut KRISTUS kita harus dapat menjadi garam, ragi dan terang dalam masyarakat, jangan sampai sebaliknya justru menjadi batu sandungan dengan segala perbuatan yang korup dan tercela. Inilah antara lain bentuk kesiapsiagaan kita dalam menantikan kedatangan TUHAN. Cobalah kembangkan kemampuan Anda sendiri secara kreatif dan carilah bentuk-bentuk tindakan konkrit yang memperkuat kehidupan rohani dan kehidupan bersama dalam keluarga atau komunitas serta masyarakat.

Ya YESUS, ajarilah aku untuk tetap rendah hati serta menjaga kesetiaan, ketaatan dan kemurnian hati dan ragaku. Mampukanlah aku untuk menggunakan talentaku yang bermanfaat untuk kehidupan bersama sesuai dengan Rencana dan Kehendak-MU. Amin.

Bdk
• Rm. 6: 12-18; 
• Mzm. 124: 1-3. 4-6. 7-8;
• Luk. 12: 39-48.
PK/hr.

HIDUP ADALAH PILIHAN.

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Kamis, 21 Oktober 2021.
Hari Biasa Pekan Biasa XXIX : 
• Rm. 6: 19-23; 
• Mzm. 1: 1-2. 3. 4. 6;
• Luk. 12; 49-53.

HIDUP ADALAH PILIHAN.

Kadang kita tidak tahu kemana kita harus melanjutkan perjalanan. Apa pun yang terjadi, kita harus memilih. Kita tidak bisa berhenti di tengah perjalanan hidup ini begitu saja dan tidak memilih. Hidup itu memang suatu pilihan. "The show must go on".

Sabda TUHAN YESUS hari ini begitu keras dan sangat kontroversial. Bila selama ini kita mendengar Sabda-NYA yang lembut dan menyegarkan. Tapi kali ini sangat keras: "Kamu menyangka bahwa AKU datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-KU kepadamu, bukan damai melainkan pertentangan." (Luk.12; 51).
Iman memang menuntut suatu pilihan yang tegas: mengikuti YESUS secara penuh atau tidak samasekali. Tidak jarang iman tidak bisa tumbuh karena langkah kita diberatkan oleh pelbagai urusan duniawi. Secara tegas YESUS menyatakan bahwa seandainya pun keluarga menentang atau memberatkan, maka orang beriman harus tegas dan mantap memilih untuk mengikuti YESUS.

Mengikuti YESUS tidak berarti menyingkirkan keluarga. Justru mengikuti KRISTUS merupakan jalan untuk menyempurnakan keluarga, karena semakin kita mengikuti KRISTUS, semakin kita dipenuhi oleh Kasih-NYA. Namun tidak jarang pula kadang terjadi konflik normatif, antara Kasih dan tradisi atau kebiasaan yang berlaku di dalam suatu keluarga atau suku. Kita dituntut untuk berani memperjuangkan nilai-nilai iman Kristiani dalam situasi tersebut.

Demikian pula gambaran hidup mengikuti TUHAN YESUS. Apa pun pilihan kita, tentu akan ada reaksi, yang bisa berupa penerimaan, penolakan, atau bahkan tidak dianggap sama sekali. "AKU datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah AKU harapkan, api itu telah menyala!" (ayat 49). 

Api itu membakar semua yang lapuk dan memurnikan, serta memberikan kehangatan di musim dingin dan memberi kehidupan. Api peradilan ALLAH menghancurkan semua yang tidak menyerahkan diri pada daya pembaharuan-NYA. Namun, api juga dapat dipandang sebagai penyebab: api pertengkaran dan pertentangan dalam keluarga, komunitas, masyarakat atau bangsa. Pertentangan itu bukan sekedar "rebutan hak waris" atau harta karun dan kedudukan, tetapi pertentangan karena iman kepercayaan kepada YESUS KRISTUS. Bahkan di lingkungan yang sangat dekat pun bisa timbul konflik: antara ayah dan ibu, anak lawan orangtua, kakak lawan adik, anak menantu dan orangtua menantu, orangtua kita lawan besan dan seterusnya (bdk.ayat 52, 53).

Beriman kepada YESUS adalah suatu pilihan yang sangat serius, pilihan yang radikal, tidak bisa dikompromikan dengan pilihan-pilihan lain. Saat YESUS datang pun sudah ada pertentangan dalam masyarakat Yahudi: Ada yang tertarik dan mengikuti YESUS, tetapi tidak sedikit pula yang kecewa, yang masih suka akan kemapanan dan menolak pembaharuan yang diperkenalkan oleh-NYA. Ternyata, sejak awal kedatangan-NYA sampai hari ini tidak semua orang bisa menerima YESUS KRISTUS, sekalipun ajaran cinta kasih-NYA sangat luar biasa! Karena itu, tidak perlu merasa heran, mengapa sampai sekarang masih saja ada orang atau kelompok yang memusuhi apa saja yang berbau "Kristen."
Hal itu masih juga terjadi di Tanah Air bahkan di seputar tempat tinggal kita, misalnya, berdoa di rumah-rumah warga lingkungan atau wilayah ditentang bahkan dilarang oleh masyarakat sekitarnya, izin untuk mendirikan tempat ibadah jauh lebih sulit daripada mendirikan salon atau panti pijat! Itulah konsekuensi salib yang harus kita pikul demi YESUS!
Masalahnya sekarang: seberapa kuat iman kita untuk tetap bertahan? Apakah kita dapat tetap kuat sikap kita serta selalu konsisten dan konsekuen iman kita dalam menghadapi tantangan zaman itu? Ataukah kita tergiur oleh jabatan dan iming-iming duniawi lainnya hingga tega meninggalkan KRISTUS, meski nama permandian tetap melekat di kartu identas kita? 

Menghadapi tantangan akan pilihan itu, kita tidak bisa setengah-setengah. Hal ini tercermin dalam sikap kita terhadap diri sendiri. Rasul Paulus dalam Bacaan Pertama mengajak kita untuk bersikap tegas terhadap diri sendiri dalam melawan segala macam kecemaran dan kedurhakaan. Hal ini tampak dalam sikap anggota-anggota tubuh yang semula masih menjadi hamba kejahatan, setelah menjadi pengikut KRISTUS dibebaskan menjadi hamba kebenaran yang membawa kita pada pengudusan. Paulus mendorong kita agar kita tetap konsekuen menjadi hamba kebenaran dan jangan sampai menjadi hamba dosa. "Sebab, upah dosa ialah maut, tetapi Karunia ALLAH ialah hidup yang kekal dalam KRISTUS YESUS, TUHAN kita". (Rm. 6: 23). Sanggupkah kita? 

Ya YESUS, kuatkanlah aku dengan ROH KUDUS-MU dalam menghadapi berbagai tantangan, hambatan dan kesulitan yang disebabkan akibat mengikuti ENGKAU. Bapa Yusuf dan Bunda Maria, doakanlah aku dan seluruh pengikut KRISTUS di Indonesia ini. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

Mewujudkan Nilai Kristiani pada Masa Sekarang

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Jumat, 22 Oktober 2021.
Hari Biasa – 
Pekan Biasa XXIX
Peringatan St. Yohanes Paulus II
• Rm. 7: 18-25a; 
• Mzm.119: 66. 68. 76. 77. 93. 94; 
• Luk.12:54-59

Mewujudkan Nilai Kristiani pada Masa Sekarang

Orang Palestina pada zaman dulu memprakirakan cuaca dengan melihat arah angin: angin dari barat (dari laut) berarti hari akan hujan; angin dari selatan (dari gurun) berarti hari akan panas. Selanjutnya, mereka menyesuaikan aktivitas mereka dengan cuaca yang segera akan datang. 
   Dengan gambaran “membaca cuaca” itu, dalam Injil hari ini Tuhan Yesus menegur para pendengar-Nya: “Rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?” (Luk. 12:56). Mereka tidak melihat tanda-tanda kedatangan Mesias sebagaimana telah dinubuatkan dan ditulis dalam kitab-kitab para nabi, sementara tanda-tanda itu kini sedang digenapi dan diwartakan oleh Yesus.
    Hampir tiap hari Tuhan Yesus membuat tanda di depan mereka. Yesus memperlihatkan kuasa-Nya sewaktu mengajar, Ia menyatakan kekuatan ilahi-Nya sewaktu Ia membuat mukjizat, yaitu mengusir roh jahat dan menyembuhkan banyak orang sakit, memberi makan orang yang lapar, meredakan badai…. Yesus mengatakan mereka itu “orang-orang munafik”, pura-pura tidak melihatnya.
    Pertanyaan Yesus itu sebenarnya merupakan ajakan supaya orang banyak itu membuka mata dan hati untuk melihat bahwa Kerajaan Allah sudah datang, lalu segera menanggapinya dengan bertobat dan menyesuaikan hidupnya dengan Kerajaan itu.
    Lebih lanjut, Yesus menjelaskan bahwa keadaan mereka itu ibarat orang yang sedang berperkara dengan pihak lain. Yesus menasihatkan, selesaikanlah “perkaramu” itu secepatnya sekarang juga, “di tengah jalan” (ay. 58) – selama perjalanan di dunia ini. Jangan menunda-nundanya sampai “engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau … melemparkan engkau ke dalam penjara. (Ay. 58).
    Mereka sebaiknya selekas mungkin menyelesaikan perkara mereka dengan bertobat, percaya pada Injil, dan mengubah cara hidup. Jangan menunda-nunda “perkara” itu sampai akhir hidup dan membawanya ke hadapan “Sang Hakim”. Dapat dipastikan, mereka akan kalah perkara, divonis, dan dijebloskan ke penjara.
   Kita orang Kristiani pun diajak untuk menanggapi kedatangan Kristus dengan bertobat dan mewujudkan nilai-nilai Injil sesuai dengan zaman yang kini kita alami. Kita dipanggil untuk melaksanakan ajaran kasih: antara lain dengan peduli pada orang yang miskin agar hidup layak, berperilaku baik kepada semua orang, menghargai martabat manusia dengan hak asasi dan kebebasannya, membela orang (tenaga kerja) yang tertindas, menjaga integritas (jujur), mendukung gerakan dan kekuatan yang benar-benar memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi semua orang.

Namun, mewujudkan nilai dan keutamaan Kristiani pada masa sekarang sangatlah besar tantangannya. Kita mungkin tertarik untuk menjalankan ajaran Injil, tetapi keinginan itu dihambat dan dilunturkan oleh hasrat mengejar kesenangan duniawi serta kemudahan hidup yang diberikan oleh barang-barang materi dan hasil teknologi.
    Dalam diri kita ada pertentangan seperti yang digambarkan oleh Rasul Paulus dalam Bacaan Pertama. “Di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa.” (Rom 7:22-23). Paulus merasa dikuasai oleh dosa, dan berkeluh kesah: “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Dalam keadaan tertawan, Paulus melihat satu-satunya kekuatan yang sanggup melepaskan dia, yaitu Tuhan Yesus Kristus.
   Kekuatan Tuhan Yesus Kristus itu pun tampak pada diri seorang santo yang hidup pada zaman modern. Hari ini kita memperingati St. Yohanes Paulus II (1920-2005), yang hidupnya memperlihatkan bagaimana ia telah mencurahkan seluruh daya kemampuannya untuk mewujudkan nilai-nilai Kristiani di tengah berbagai kesulitan zaman. Paus dari Polandia ini mengalami tekanan terhadap Gereja oleh penguasa Nazi, rezim komunis, dan lunturnya hidup keagamaan (sekularisme) pada zaman modern. Paus non-Italia ini menjadi Paus terlama (1978-2005). Banyak yang mengusulkan namanya menjadi Yohanes Paulus Agung, tetapi ia agung justru karena kerendahan hati, kesederhanaan dan kesuciannya. Karena semangat merasulnya, terutama untuk keluarga, orang muda, dan penderita sakit, ia melakukan banyak kunjungan ke seluruh dunia, untuk menyerukan perdamaian dunia dan keberpihakannya pada negara-negara terbelakang. Ia menjalin hubungan baik dengan pemimpin agama Yahudi, Muslim dan Gereja Ortodoks Timur. Ia meninggalkan pesan untuk orang Kristiani zaman ini: “Saudara dan saudari, janganlah takut untuk menyambut Kristus dan menerima kekuatan-Nya…. Jangan takut. Bukalah pintu lebar-lebar bagi Kristus.”
    Sesuai pesan Paus Yohanes Paulus II dan teladan St. Paulus, mari kita terus membuka hati lewat doa dan renungan. Kita mohon agar kekuatan Kristus bekerja dalam diri kita. Untuk dapat mengatasi nafsu mengejar harta dan kesenangan duniawi, kita mohon rahmat Tuhan agar sanggup melakukan hal yang sebaliknya, yaitu sering menyisihkan pendapatan atau milik kita dengan senang hati untuk membantu orang lain. Dengan “melawan rasa lekat” seperti itu hati kita akan semakin bebas dan siap untuk melakukan kehendak Tuhan, sekarang dan tidak ditunda-tunda lagi.

Ya Yesus Tuhan, semoga Roh Kudus-Mu membimbing aku untuk menemukan kehadiran-Mu dan mendengar ajakan-Mu. Semoga aku pun semakin mengenal dan mengasihi Engkau, dan menyelaraskan hidupku dengan panggilan-Mu. St. Yohanes Paulus II, doakanlah aku. Amin. 

Selamat pagi. Selamat beraktivitas mengikuti protokol kesehatan. AMDG. Berkat TUHAN.
RS/PK/hr.

MAWAS DIRI DAN BERTOBATLAH!

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Sabtu, 23 Oktober 2021.
Hari Biasa Pekan Biasa  XXIX :
• Rm. 8: 1-11; 
• Mzm. 24: 1-2. 3-4ab. 5-6;
• Luk. 13: 1-9.

MAWAS DIRI DAN BERTOBATLAH!

Begitu sering kita menghubungkan timbulnya bencana alam sebagai hukuman dari ALLAH. Namun penilaian subyektif yang bernada sombong ini cenderung menghakimi dan suka menyudutkan mereka yang menjadi korban bencana. Ketika bencana hebat tsunami menimpa Aceh, tidak sedikit orang yang menganggap bahwa kebanyakan orang Aceh lebih besar dosanya dari pada orang yang tidak terlanda musibah. Maka orang mudah memvonis: mereka "pantas" menerima hukuman itu dari ALLAH. Ini suatu tindakan keji dan arogan!

Perikop Injil hari ini mengisahkan tentang pembunuhan orang-orang Galilea oleh Pilatus di Bait ALLAH yang bermotifkan politik dan diceritakan orang kepada TUHAN YESUS untuk dimintakan penilaian dari YESUS. DIA justru tidak senang pada sikap orang-orang yang merasa "sok suci" itu. YESUS malah memberikan teguran dan peringatan kepada mereka bahwa orang-orang Galilea itu tidak lebih besar dosanya daripada orang-orang Galilea yang lain. YESUS malahan mengangkat peristiwa yang dialami oleh delapan belas orang yang tertimpa menara di Siloam. Kedelapan belas orang yang terkena musibah itu tidak berarti mereka lebih besar dosanya daripada orang-orang Israel yang tinggal di Yerusalem.

Semua bencana alam, berbagai musibah termasuk pandemi Covid-19 yang sudah berjalan dua tahun dan melumpuhkan kegiatan seluruh dunia serta merenggut jutaan jiwa, hendaknya membuat kita bermenung diri dan mawas diri serta berani mengambil hikmah atau sisi positif dari semua bencana itu. Janganlah musibah itu dijadlkan ajang pembenaran diri dan penghakiman kepada orang lain. Bukankah tsunami Aceh, gempa bumi di Yogya, Nias, Padang, Papua dan tempat-tempat lain serta berbagai musibah itu merupakan momentum yang selayaknya membuat kita lebih akrab dan "guyub" sebagai bangsa dalam sikap belarasa dan tindak solidaritas kita yang menembus dan melintas batas agama, suku, daerah, budaya dan ras?

Bagi TUHAN YESUS soalnya bukan menderita atau tidak menderita. Yang pokok adalah  justru keharusan untuk bertobat. Dengan tegas YESUS sampai dua kali mengulangi kalimat ini: "Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian" (Luk.13: 3.5).
Seruan pertobatan ini sangat jelas, orang akan binasa kalau tidak mau bertobat. Maka kalau mau selamat, tak ada cara lain selain bertobat.
Pertobatan adalah upaya untuk meluruskan hidup kita. Pertobatan mampu memulihkan hubungan yang baik dengan ALLAH dan sesama kita, karena lewat pertobatan kita menerima pengampunan dosa. ALLAH memberi belas kasih-NYA kepada kita lewat pengampunan dosa, dan belas kasih-NYA inilah yang mampu menyembuhkan luka-luka akibat dosa hingga kita akan menemukan kembali kebahagiaan dalam hidup. Persoalannya, apakah kita mau benar-benar bertobat?

BAPA di Surga selalu menunggu setiap orang yang mau datang untuk bertobat. Seperti pemilik kebun anggur, yang mau memberikan kesempatan satu tahun lagi pada penjaga kebun hingga pohon ara yang ada di kebun anggur itu bisa berbuah, maka TUHAN selalu memberikan kesempatan kedua (bdk.ayat 8. 9). Apakah kita mau menggunakan kesempatan kedua itu dengan pertobatan?

Cara hidup kita akan menentukan cara berpikir kita. Demikian pula cara berpikir kita akan menentukan cara hidup kita juga. Mungkin kita tidak sadari, bahwa ROH yang sama, yang telah membangkitkan YESUS, sungguh tinggal di dalam diri kita. Ini sebuah kenyataan luar biasa. Sebenarnya kita sudah memiliki modal cukup untuk hidup menurut ROH, bukan hidup dalam daging
 "Dan jika ROH DIA yang telah membangkitkan YESUS dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka IA yang telah membangkitkan KRISTUS YESUS dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh ROH-NYA yang diam di dalam kamu." (Rm. 8: 11). Meskipun awalnya terasa pahit, bila kita mengikuti keinginan ROH, kita akan memperoleh hidup. Sebaliknya, meskipun tampaknya sungguh menggiurkan, keinginan daging pada akhirnya membawa kita pada kematian. Dan penyesalan sering datang terlambat.

Cobalah kita mawas diri: berapa kali kita hidup menurut petunjuk ROH dan berapa kali menuruti daging? Sadarkah kita bahwa ROH akan membawa kedamaian dan kebahagiaan sejati dan abadi?

Ya YESUS, aku mencari wajah-MU. Tebuslah kesombongan hatiku dengan cinta-MU agar hidupku sungguh menghasilkan buah. Tolonglah aku, aku ingin bertobat dan hidup secara baru. Bunda Maria dan Bapa Yusuf, bantulah aku. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas pada akhir pekan sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

"RABUNI" (supaya aku dapat melihat).

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Minggu, 24 Oktober 2021.
Hari Minggu Biasa XXX : 
• Yer. 31: 7-9;
• Mzm. 126: 1-2ab.2cd-3. 4-5. 6; 
• Ibr. 5: 1-6; 
• Mrk. 10: 46-52.
Hari Minggu Misi

"RABUNI" (supaya aku dapat melihat).

Bartimeus seorang buta sejak kecil, diam di kota Yeriko. Mata fisiknya memang buta. Tetapi mata rohaninya tetap melek, bahkan sangat peka. Ketika ia mendengar TUHAN YESUS mau lewat kota Yeriko, ia sudah siap-siap untuk menyambut-NYA. Benar saja, ketika rombongan YESUS melewatinya, ia berteriak sejadi-jadinya: "YESUS, ANAK Daud, kasihanilah aku!" Semakin ia dilarang untuk tidak berisik, ia makin keras teriaknya: "ANAK Daud, kasihanilah aku!" (Lihat Mrk. 10: 47. 48). Permohonannya sangat singkat "ANAK Daud, kasihanilah aku!" tetapi disampaikan dengan penuh keyakinan iman.
Maka beruntunglah ia, karena YESUS mau mendengarkan seruannya. Ia dipanggil-NYA. Ketika ditanya, dia minta apa dari YESUS, ia menjawab: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!" (ayat 51). TUHAN mengabulkan permintaannya:
"Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau". (ayat 52). Dan pada detik itu juga terbukalah matanya yang buta dan segera bisa menikmati keindahan ciptaan TUHAN. Sebagai tanda syukur, ia bertekad mengikuti YESUS ke mana IA pergi.
TUHAN akan mendengarkan dan mengabulkan doa yang disampaikan dengan penuh kepercayaan dan iman, meskipun hanya disampaikan secara singkat dan pendek. Doa yang panjang dan bertele- tele bukanlah jaminan akan didengar dan dikabulkan. Bartimeus yang buta fisik telah mengajari kita bagaimana berdoa pribadi kepada TUHAN Yang Maharahim.

Mata fisik Bartimeus buta, tetapi mata rohaninya sangat terang. Ini nampak pada sikap imannya yang kuat. Ia yakin bahwa YESUS, ANAK keturunan Daud, adalah orang yang tepat untuk mampu membuka kebutaan mata fisiknya. Mata rohaninya ditandai dengan tebalnya iman kepada YESUS. Orang yang buta secara lahiriah (fisik) maupun orang yang buta secara rohani membutuhkan "cahaya," agar dengan demikian ia bisa memusatkan perhatian pada apa yang lebih penting. Apa yang kita pusatkan itulah yang akan menjadi "gambar" yang kita rekam. YESUS adalah "CAHAYA" yang akan membantu kita untuk bisa melihat secara tajam baik jasmani maupun rohani.
Selain "Sang CAHAYA," menurut Rasul Paulus dalam Bacaan Kedua, YESUS juga adalah "Imam untuk selama-lamanya menurut peraturan Melikisedek." DIA-lah Imam Besar yang tidak mencari kehormatan bagi Diri-NYA sendiri. Namun DIA telah dipermuliakan BAPA di Surga: "ANAK-KU ENGKAU! ENGKAU telah KU-peranakkan pada hari ini." (Lihat Ibr. 5: 5. 6. juga Mzm. 2: 7).

Dengan penuh rasa rendah hati dan merasa sebagai orang berdosa yang buta rohani, marilah kita bersama Bartimeus berteriak meminta agar kebutaan rohani kita disembuhkan oleh YESUS. Dan dengan penuh keyakinan, kita percaya bahwa YESUS yang mencintai umat manusia tetap berkenan untuk menyembuhkan buta rohani kita itu dan juga orang-orang yang tertular Covid-19 dengan segala variannya.

Sebagaimana dinubuatkan oleh Nabi Yeremia seperti diungkapkan dalam Bacaan Pertama, bahwa janji ALLAH akan menyelamatkan umat-NYA tetap berlaku sampai sekarang. Berarti kita juga percaya penuh bahwa Covid-19 ini hanya TUHAN yang berkuasa untuk mengusirnya dari bumi kita ini.
Kita juga percaya bahwa ALLAH telah menuntun umat-NYA yang semula dibuang ke Babilonia, akan dibawa masuk kembali ke Yerusalem. Mereka yang kembali dari tanah pembuangan itu termasuk juga orang-orang buta dan lumpuh serta perempuan yang mengandung. Mereka itu dipimpin, dibimbing dan ditunjukkan tujuannya oleh ALLAH sendiri. Sebab, janji ALLAH itu tidak pernah meleset, maka bersama umat Israel dari pembuangan marilah kita bersukacita masuk kembali ke Kota Suci Yerusalem dengan penuh iman, penuh syukur dan suka cita. Hal ini sekaligus sebagai simbol bagi umat beriman saat ini yang akan berbondong-bondong ke Runah BAPA di Surga.

Hari ini Gereja memperingati Hari Minggu Misi. Secara khusus kita diajak untuk berdoa bagi karya misi dan para misionarisnya. Hari Minggu Misi ditetapkan oleh Paus Pius XI (1922-1939). Tujuan Hari Minggu Misi adalah membantu komitmen Gereja akan tugas perutusan yang dipercayakannya. Gereja pada hakekatnya bersifat misioner: Gereja ada untuk diutus. Panggilan misioner adalah tanggapan atas Kasih ALLAH yang menjadi nyata dalam Diri YESUS KRISTUS yang telah menyelamatkan umat-NYA. Gereja melanjutkan tugas misi YESUS KRISTUS di dunia agar keselamatan-NYA jadi nyata. Kita umat beriman adalah Gereja. Maka kita pun masing-masing mempunyai tugas dan tanggung jawab misioner untuk menghadirkan keselamatan-NYA di dunia sekitar kita.

Ya YESUS, aku mohon agar buta rohaniku dapat KAU-sembuhkan, supaya imanku makin kuat dan mampu percaya diri serta optimis mengusahakan apa yang terbaik untuk hidupku, masyarakatku dan Gerejaku. Berkatilah dan kuatkanlah para misionaris dalam menjalankan tugas misionernya. Amin.

Selamat pagi. Selamat Merayakan Ekaristi Kudus.secara offlline maupun online. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

PERTIMBANGAN BELAS KASIH DAN KEMANUSIAAN DI ATAS HUKUM.

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Senin, 25 Oktober 2021.
Hari Biasa Pekan Biasa XXX : 
• Rm. 8: 12-17; 
• Mzm. 68: 2. 4. 6-7ab. 20-21;
• Luk. 13: 10-17.

PERTIMBANGAN BELAS KASIH DAN KEMANUSIAAN DI ATAS HUKUM.

Penyembuhan atas perempuan yang sudah delapan belas tahun kerasukan roh jahat hingga sakit sampai punggungnya bungkuk tepat pada hari Sabat, seperti dikisahkan dalam perikop Injil hari ini, menjadi isu besar dalam pertikaian pandangan antara TUHAN YESUS dan orang Farisi. Bagi orang Farisi, hari Sabat telah ditetapkan sebagai hari untuk beristirahat. Orang tidak boleh melakukan pekerjaan apa pun juga. Sikap legalistis itu sangat dikecam oleh YESUS. Manusia hidup bukan untuk peraturan, tetapi peraturan disusun untuk kepentingan dan melayani manusia! Bukan hanya orang Farisi, kita pun sampai sekarang masih suka terjebak dalam sikap yang sama. Kita sibuk dengan menyusun peraturan yang tidak substantif dan memaksakan aturan itu pada orang lain.

Dengan sikap legalistis ini, kita justru menghambat dan menghalangi karya kasih dan belas kasih ALLAH serta bisa mematikan rasa kemanusiaan kita. Dengan sikap legalistis ini juga menunjukkan bahwa dalam kehidupan beragama, kita belum menampakkan kehidupan iman yang dewasa dan sejati. Jujur kita akui bahwa kita masih "kekanak-kanakan," masih suka berkutat pada aturan demi aturan, bukan aturan untuk keselamatan dan kesejahteraan manusia serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Dalam silang pandangan itu, TUHAN YESUS menunjukkan kepada mereka bahwa karya belas kasih ALLAH tidak bisa dibatasi oleh peraturan-peraturan ketat agama. ALLAH tidak pernah beristirahat melakukan kebaikan atau pekerjaan belas kasih, seperti penyembuhan atas orang sakit. Hal ini membuktikan juga bahwa belas kasih dan perhatian ALLAH kepada umat manusia, tidak pernah berhenti dan tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu, karena cinta kasih ALLAH kepada manusia itu tanpa batas dari dahulu, sekarang dan pada masa mendatang. Siapakah manusia yang mampu menghalangi kasih ALLAH diberikan kepada seseorang? Karena itu, dalam penyusunan hukum dan segala peraturan dasar pokok yang melandasinya adalah iman dan belas kasih ALLAH serta nilai kemanusiaan. Maka jangan sampai hukum atau peraturan itu menghalangi kita untuk mengungkapkan iman yang sejati dan belas kasih ALLAH yang tidak terhingga itu.

Sesuai dengan ajaran YESUS itu, Rasul Paulus dalam Bacaan Pertama menekankan bahwa semua orang yang dipimpin ROH ALLAH adalah anak ALLAH. Sebab kita tidak menerima roh perbudakan yang membuat takut dan menjadikan kita tawanan, melainkan sebagai anak ALLAH yang bebas di dalam ROH. Identitas kita adalah sebagai ahli waris, meskipun penerusan warisan istimewa dari TUHAN itu hanya bisa dilakukan dengan satu jalan, yaitu jalan salib, jalan penderitaan. YESUS mengundang kita untuk menderita bersama DIA, agar warisan kemuliaan-NYA bisa kita alami juga secara nyata. Kesetiaan kita yang membuat kita menderita adalah jalan menuju kemuliaan. Melalui jalan itulah, sesuai dengan janji ALLAH, kita akan turut dipermuliakan bersama KRISTUS dan kita akan bisa berseru "ya ABBA, ya BAPA".
Sadarkah kita akan jalan salib itu?

Ya YESUS, ajarilah aku untuk menjadi pribadi yang tidak munafik dalam kehidupanku, sehingga aku lebih mementingkan imanku kepada-MU dan belas kasih-MU yang tidak terhingga serta memperhatikan rasa kenanusiaan. Kuatkanlah aku dalam menjalani penderitaan sebagai jalan salibku menuju kemuliaan. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas pada awal minggu sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

KECIL TAPI BERNILAI BESAR.

πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Selasa, 26 Oktober 2021.
Hari Biasa Pekan Biasa XXX :
• Rm. 8: 18-25 ; 
• Mzm. 126: 1-2ab 2cd-3. 4-5. 6;
• Luk. 13: 18-21.

KECIL TAPI BERNILAI BESAR.

Perikop Injil hari ini sangat singkat, namun mengandung permenungan yang cukup mendalam. TUHAN YESUS memberikan perumpamaan tentang Kerajaan ALLAH seperti biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya". Demikian pula Kerajaan ALLAH seumpama "ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya". (lihat Luk. 13: 19. 21).

Keduanya - biji sesawi dan ragi - adalah hal yang kecil, sepele dan tampak tak berarti. Tetapi keduanya bisa memberikan hasil besar dan memengaruhi banyak hal. Biji sesawi memang sangat kecil dibanding dengan biji tanaman lainnya. Namun ketika biji ditanam, ia akan berkembang jadi pohon yang besar. Demikian pula ragi tidak mempunyai arti kalau tetap sebagai ragi. Namun kalau dicampur dalam suatu adonan akan menghasilkan roti yang lezat untuk dimakan. Sesuatu yang kecill, remeh dan tidak diperhatikan tetapi dalam daya dan kekuatannya, mampu mentransformasikan diri dalam kehidupan ini menjadi suatu yang besar.

Demikianlah halnya dengan Kerajaan ALLAH, selalu berawal dari sesuatu yang sangat kecil dalam hati setiap manusia yang mendengarkan Sabda-NYA. Secara misterius ia berkembang dan bertumbuh tanpa kita sadari. Bukan sesuatu yang besar dan spektakuler serta dilakukan sekali saja yang mampu mengubah hidup seseorang, melainkan sesuatu yang kecil, tetapi dilakukan secara kontinu, konsisten, ikhlas dan setia. Kebanyakan dari kita ingin melibatkan diri dalam kegiatan Gereja atau masyarakat, kalau itu merupakan sesuatu proyek yang besar dan cepat menghasilkan. Sebaliknya pekerjaan kecil dan tampak remeh selalu dibebankan kepada orang lain. Ingat, bahwa di depan TUHAN, bukan "apa yang dilakukan" yang penting, melainkan "bagaimana" kita melakukan itu dengan penuh keikhlasan dan bertanggung jawab: itulah yang terpenting di Mata TUHAN.

Karena itu, Rasul Paulus dalam Bacaan Pertama mengajarkan bahwa proses pembebasan menjadi anak-anak ALLAH senantiasa perlu disertai dengan pengharapan. Selama proses itu, tidak berarti bahwa segalanya akan mulus, lancar dan indah. Akan tetapi Paulus yakin "bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita" (Rm. 8: 18). Banyak orang pergi dan enggan kembali bertobat lagi karena merasa bahwa proses itu terlalu lama dan mengecewakan. Kita semua gampang mengeluh dan khususnya ibu-ibu merasakan sakit waktu bersalin. Namun, kiranya perlu disadari bahwa di satu pihak memang ada kepastian akan Rakhmat TUHAN, tetapi di lain pihak juga ada ketidakpastian karena semua tergantung dari kesediaan kita untuk membiarkan Rakhmat TUHAN bekerja seturut Kehendak-NYA dan menurut irama kerja TUHAN sendiri.
Maukah kita tunduk pada "irama kerja" TUHAN? Itulah sebabnya kita jangan hanya melihat hasil akhir saja melainkan harus juga memperhatikan dan mementingkan proses mencapai hasil itu.

Ya YESUS, aku bersyukur kepada-MU, ENGKAU telah melakukan hal-hal besar bagiku. Bantulah aku agar dapat menjalani proses pertumbuhan dalam hidupku dengan tekun dan sabar, sesuai dengan Kehendak-MU. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai dengan Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

HIDUP ADALAH PERJUANGAN.

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Rabu, 27 Oktober 2021.
Hari Biasa Pekan Biasa XXX :
• Rm. 8: 26-30;
• Mzm. 13: 4-5. 6;
• Luk. 13: 22-30.

HIDUP ADALAH PERJUANGAN.

Dari perbendaharaan bahasa, kita mengenal peribahasa lama: Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Atau sebuah petuah bahasa Jawa berbunyi: Jer basuki, mawa beya. Artinya, untuk hidup mulia/bahagia, dituntut suatu usaha/biaya/ perjuangan. Kedua peribahasa dan petuah itu, sangat sesuai semangatnya dengan Sabda TUHAN YESUS dalam perikop Injil hari ini.  
Ada seorang yang bertanya kepada TUHAN: "TUHAN, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?" YESUS tidak langsung menjawab "ya banyak" atau "sedikit saja." IA justru bersabda: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab, AKU berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat". (lihat Luk. 13: 23. 24).

Dari Sabda YESUS itu dapat kita lihat bahwa tidak secara otomatis orang atau bangsa pilihan TUHAN itu, seperti orang Farisi dan ahli Taurat, ataupun kita yang sudah dibaptis ini, bisa langsung diterima BAPA di Surga. Untuk itulah mutlak adanya usaha maksimal dan optimal, suatu pengorbanan dan perjuangan yang serius dan usaha yang pantang menyerah serta gigih secara terus menerus.

Dengan kata lain, untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan ALLAH, pertama, orang harus berjuang keras bisa masuk melalui pintu yang sempit; kedua, dituntut sikap siaga, waspada, tekun dan setia menanti kedatangan KRISTUS, Sang Mesias; ketiga, tidak melakukan kejahatan, melainkan berbuat kasih dan berbela rasa kepada mereka yang lemah dan membutuhkan perhatian dan bantuan.

"Pintu yang sesak atau sempit" yang dimaksud oleh YESUS adalah Diri-NYA Sendiri (bdk. Yoh. 10: 9). Orang hanya bisa selamat sampai kepada BAPA bila ia masuk melalui YESUS, bukan orang lain! Sementara itu sebagian besar bangsa Israel tidak percaya kepada YESUS, sebagai Mesias, Utusan ALLAH dan Penyelamat dunia. Sabda TUHAN itu juga cukup mengejutkan mereka dengan mengatakan bahwa keselamatan itu bukan eksklusif milik umat pilihan ALLAH, tetapi anugerah ALLAH bagi semua makhluk, semua orang dari segala bangsa. (bdk. Ayat 26, 27, 28, 29).

Dalam mempersiapkan diri dengan melakukan perbuatan baik dan tindakan kasih, marilah kita simak nasehat Rasul Paulus dalam Bacaan Pertama:  Bahwa ROH membantu kita dalam kelemahan kita, misalnya dalam hal berdoa. Selain itu, ALLAH juga turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi DIA. (bdk. Rm. 8: 26. 28).
Karena itu marilah kita dengan rendah hati sambil membuka diri akan pertolongan ROH KUDUS, hingga kita tidak akan salah jalan atau tersesat hidup kita.

Ya TUHAN, ajarilah aku akan jalan-MU dan berilah aku penerangan serta kekuatan ROH KUDUS-MU agar aku mampu berjuang dengan gigih selama hidupku, hingga kelak dapat menikmati Kemuliaan yang KAU-janjikan. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

SEMANGAT SUMPAH PEMUDA DAN KERASULAN.

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Kamis, 28 Oktober 2021. 
Pesta St. Simon dan St. Yudas Tadeus, Rasul :
• Ef. 2: 19-22; 
• Mzm. 19: 2-3. 4-5;
• Luk. 6: 12-19.

SEMANGAT SUMPAH PEMUDA DAN KERASULAN.

Sembilan puluh tiga (93) tahun yang lalu sejumlah pemuda dan pemudi berasal dari berbagai tempat di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Ambon, Borneo (Kalimantan) dibakar oleh semangat menyatu sebagai satu bangsa yang mendambakan kemerdekaan, telah mengikrarkan diri bahwa mereka berbeda-beda asal tapi tetap satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Sumpah suci para pemuda dan pemudi inilah yang menggerakkan semangat perjuangan kemerdekaan pada tahun-tahun berikutnya untuk menjadi bangsa merdeka yang lebih bermartabat, lepas dari penjajahan bangsa lain. Hari ini kita peringati peristiwa salah satu tonggak sejarah kita itu. Kita bersyukur, berkat tekad dan semangat bersatu para pemuda itulah yang selalu memotivasi generasi-generasi berikutnya.

Dalam perikop Injil hari ini, TUHAN YESUS setelah mengadakan dialog dengan BAPA-NYA semalaman dalam doa, memanggil sejumlah orang muda yang menjadi pengikut-NYA selama ini. IA memilih dua belas (12) orang muda yang kelak dikenal sebagai Rasul untuk turut menyebarluaskan Injil atau warta gembira. Di antara dua belas orang muda itu terdapat Simon berasal dari Kanaan yang dijuluki "si Zelot" yang berarti "yang rajin" atau "yang meluap-luap semangatnya" dalam mempelajari dan mentaati hukum Taurat. Memang ia termasuk anak muda fanatik pengikut "gerombolan gerilyawan yang anti penjajahan" Romawi. Selain Simon, terdapat juga Yudas yang disebut Tadeus yang berarti "pemberani" dan "berhati teguh". Ia masih ada hubungan darah dengan YESUS dan juga masih saudara dengan Yakobus (Muda), rasul juga. Sebagai seorang petani ia mencintai tanah-airnya dan enggan pergi  meninggalkan desanya. Namun sebagai pengikut setia YESUS KRISTUS dan karena sudah dibakar semangatnya oleh ROH KUDUS ia rela dan berani keluar dari kungkungan desanya untuk menyebarkan warta gembira. Penulis surat Yudas ini mendorong semangat dan peneguhan iman jemaat pada masa Gereja perdana.

Sedangkan Simon menyebarkan Injil sampai Mesir dan Persia, sampai mati sebagai martir di sana. Simon termasuk seorang Rasul pendiam tapi bersemangat tinggi, ia bisa dibilang sebagai "pahlawan tak dikenal". Santo Simon pelindung tukang kayu dan penebang hutan, dengan lambang gergaji, karena ia dibunuh dengan alat itu. Sedangkan Yudas Tadeus pergi ke Mesopotamia, sebelum bergabung dengan Simon di Persia dan juga mati sebagai martir. Santo Yudas Tadeus dihormati Gereja sebagai orang kudus pelindung dan penolong orang-orang yang berbeban berat serta nyaris putus harapan. Nama kedua Rasul muda itu sangat jarang disebut dalam Injil, tetapi semua itu tidak berarti bahwa mereka "kurang berprestasi" . Justru sebaliknya, dengan sifat khas masing-masing, YESUS telah memanggil kedua belas orang muda itu menjadi Rasul dan berkat kobaran api semangat ROH KUDUS, mereka telah memberikan segalanya dan yang terbaik kepada TUHAN.

Sesudah pembaptisan, kita "bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota Keluarga ALLAH, yang dibangun di atas dasar para Rasul dan para Nabi, dengan KRISTUS YESUS sebagai Batu Penjuru." (Ef. 2: 19-20). Itulah martabat luhur yang kita miliki sebagai pengikut KRISTUS: Apakah kita benar-benar menyadari martabat kita itu? Dan apa realisasi dari tanggung jawab atas martabat itu yang telah kita jalankan untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan Gereja kita?

Sebagai anak bangsa Indonesia, yang lahir setelah Sumpah Pemuda yang berhasil menggerakkan seluruh perjuangan anak bangsa dari segala pelosok Tanah Air, sadarkah kita bahwa saat ini kita bukan hanya meneruskan slogan Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa saja, akan tetapi harus turut aktif merajut kembali Merah Putih yang telah dikoyak-koyak oleh semangat kesempitan agama, kedaerahan, kesukuan yang berlebihan dan juga berbagai fanatisme kelompok, golongan, partai. Buktikanlah secara nyata bahwa kita adalah 100% Katolik dan 100% Indonesia dalam tutur kata, tindakan maupun pergerakan kita!

Ya YESUS, aku bersyukur telah KAU percaya menjadi pengikut-MU dan telah boleh lahir sebagai anak bangsa Indonesia. Utuslah aku kemana pun ENGKAU mau, dan pakailah aku sebagai alat-MU apa pun peran dan posisiku di Gereja, masyarakat dan bangsaku. Santo Simon dan Santo Yudas Tadeus, doakanlah aku. Amin.

Selamat pagi. Selamat menjalankan misi kerasulan dan pelayanan di mana pun tempatnya. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

Mengikut Kristus Menempuh Jalan Kasih-Nya

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Jumat, 29 Oktober 2021.
Hari Biasa Pekan Biasa XXX
• Rm. 9:1-5; 
• Mzm.147: 12-15. 19-20; 
• Luk. 14:1-6.

Mengikut Kristus 
Menempuh Jalan Kasih-Nya

Rasul Paulus itu biasanya tampil sebagai pribadi yang tegar, optimis dan penuh semangat. Tetapi ternyata ada masalah yang membuat dia sungguh sangat bersedih dan kecewa, yaitu karena kebanyakan saudara sebangsanya menolak Yesus sebagai Mesias. Dalam Bacaan Pertama hari ini ia menulis, “Aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.” (Rom 9:2-3). 
    Paulus bersedia dikutuk dan dikucilkan dari komunitas Kristiani sekiranya itu membawa pertobatan pada saudara-saudara sebangsanya.
    Orang-orang Yahudi itu bangsa yang dipilih Allah: kemuliaan Allah dari waktu ke waktu dinyatakan pada umat ini; Allah mengikat perjanjian dengan para bapa bangsa mereka; mereka menyembah satu Allah yang benar; mereka menerima Hukum sebagai ungkapan kehendak Allah; mereka menerima janji akan datangnya Sang Mesias; dan akhirnya mereka memiliki pertalian jasmani dengan Yesus Kristus, anak Daud. (Lihat ay. 4-5). Mereka mempunyai tempat yang sangat istimewa dalam rencana keselamatan Allah, tetapi mereka justru menolak Yesus sebagai pemenuhan janji itu. Itulah sebabnya mengapa Paulus begitu sedih dan kecewa.
    Kita pun perlu berefleksi, apakah kita, yang sudah menerima keistimewaan sebagai anak-anak Allah dalam Kristus, ternyata mengecewakan seperti bangsa terpilih itu? Kita masing-masing tentu mempunyai riwayat istimewa dalam rencana keselamatan Allah, sehingga kita terpilih untuk dibaptis menjadi murid Kristus. Ada yang dipilih karena lahir dari keluarga Kristiani atau berelasi dengan orang Kristiani, atau lewat cara istimewa yang lain. Jangan sampai terjadi, sesudah menerima segala anugerah istimewa sebagai orang Kristiani, hidup kita mengecewakan karena kita tidak setia dalam mengikuti jalan Kristus dan mengabaikan ajaran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Penolakan terhadap Kristus oleh orang-orang Yahudi itu sudah terjadi sejak Tuhan Yesus berkarya di Palestina. Sebagaimana diceritakan dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus diundang makan di rumah seorang Farisi. Di situ Ia dijebak untuk menyembuhkan orang sakit busung air pada hari Sabat. “Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.” (Luk 14:1). Bila Yesus menyembuhkan orang itu, akan terbukti Ia melanggar hukum Sabat, maka mereka mempunyai alasan untuk menindak-Nya.
    Tetapi Yesus mengajak para pemuka agama itu mengevaluasi tafsiran Hukum mereka dengan bertanya: "Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?" (Ay. 3) Ternyata tidak ada jawaban. Mereka takut, jawaban mereka akan diserang balik oleh Yesus.
    Maka Tuhan “memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi.” Para pemuka Yahudi tidak dapat mempersalahkan Yesus bahwa Ia melanggar hukum Sabat, sebab saat ditanya tadi mereka diam saja.
    Tuhan Yesus bertanya lagi, "Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?" (Ay. 5). Isi pertanyaan Tuhan ini sangat jelas: menyelamatkan nyawa tidak bisa ditunda-tunda dengan alasan Hukum. Lagi-lagi tidak ada jawaban, sebab kata-kata Yesus itu benar adanya; semua orang tentu menyetujuinya. Tetapi, jika menyatakan setuju, itu berarti mereka menerima prinsip Yesus, bahwa kasih harus lebih diutamakan daripada peraturan Hukum. Karena tidak mau menerima ajaran Yesus, mereka lebih memilih bungkam.
    Mata dan hati para pemuka Yahudi itu sudah tertutup sehingga apapun yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus harus ditolak. Mukjizat Tuhan Yesus yang terjadi di depan mereka tidak membuat mereka percaya bahwa kekuatan Allah bekerja di dalam diri Anak Tukang Kayu dari Nasaret itu. Mereka takut, aturan Hukum yang mereka rekayasa itu dibuyarkan oleh Yesus.
    Pikiran dan hati Yesus jauh berbeda dengan orang-orang Farisi. Ketika menghadapi orang yang sakit tadi, Tuhan tergerak oleh belas kasihan. Hati-Nya pedih melihat orang malang yang “diperalat” itu, dan ingin segera memulihkan keadaannya. Ia menggambarkan si sakit seperti “terperosok dalam sumur” dan segera harus ditolong.
    Kasih Yesus sungguh tidak dapat dihambat oleh tantangan apapun. Kasih seperti inilah yang sedang diajarkan oleh Tuhan Yesus dengan memberi contoh pelaksanaannya, dalam peristiwa dramatis yang penuh tantangan itu.
    Kita orang-orang yang sudah menerima Kristus tidak cukup hanya berdoa memohon dan memuji Nama-Nya. Kita juga harus melaksanakan ajaran kasih-Nya. Jika hendak berbuat kasih dengan menolong sesama, misalnya, kita pun tidak perlu takut menghadapi tuduhan, penilaian negatif atau kritik orang atas tindakan kita itu. Hukum kasih berada di atas semua Hukum lain. Kasih yang murni tidak akan salah arah.

Ya Bapa, betapa agung karya keselamatan yang Engkau laksanakan dalam Putra-Mu dan diwartakan oleh para rasul. Berilah aku hati seperti hati Tuhan Yesus, agar aku dapat mengasihi sesama seperti Ia mengasihi aku. Amin.

Selamat menyambut hari baru. Selamat beraktivitas mengikuti protokol kesehatan. AMDG. Berkat TUHAN.
RS/PK/hr.

KERENDAHAN HATI.

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Sabtu, 30 Oktober 2021.
Hari Biasa Pekan Biasa XXX :
• Rm. 11: 1-2a. 11-12. 25-29;
• Mzm. 94: 12-13a. 14-15;
• Luk. 14: 1. 7-11. 

KERENDAHAN HATI.

Kesimpulan dari perikop Injil hari ini terdapat dalam ayat terakhir Firman-NYA: "Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan" (Luk. 14: 11). Sebenarnya apa yang kita cari dalam hidup ini? Kesuksesan dan nama baik? Harta yang melimpah sampai tujuh turunan? Kedudukan dan status sosial yang tinggi? Ataukah kita cari popularitas? Jangan sampai sebagai murid YESUS KRISTUS kita hanya ikut arus dunia yang hanya mengejar kesuksesan pribadi, popularitas dan kehormatan yang semu.

Ketika St Bernardus dari Clairvaux (1090-1153) ditanya dan diminta untuk menyebutkan empat keutamaan Kristiani, ia menjawab: "Kerendahan hati, kerendahan hati, kerendahan hati dan kerendahan hati". Memang kerendahan hati adalah dasar dari banyak keutamaan Kristiani (bdk. Ef. 4:2). Dengan melihat bagaimana orang tiap hari berpacu mencari posisi yang paling dihormati -  kalau perlu dengan cara suap - maka TUHAN YESUS mengajarkan orang banyak tentang kerendahan hati.

Apa itu kerendahan hati? Kerendahan hati adalah (meminjam istilah asing) "self knowledge" dan "self acceptance" (=pengetahuan dan penerimaan diri). Kerendahan hati pertama-tama soal pengetahuan diri. Kita mengenal diri kita sendiri, siapa kita, apa kelebihan dan kekurangan kita. Tentu saja tidak cukup hanya mengenal diri sendiri, tetapi juga harus menerima diri apa adanya. Kita menerima kelebihan kita dan bersyukur kepada TUHAN atas karunia-NYA itu. Namun juga sebaliknya menerima kekurangan-kekurangan kita dan berusaha memperbaikinya. Adalah kerendahan hati yang semu, kalau kita mengingkari prestasi dan karunia TUHAN yang ada dalam diri kita. Dan adalah kesombongan, kalau kita selalu membela diri walau terang-terangan kita itu bersalah atau memiliki kekurangan. Sudahkah kita berusaha untuk senantiasa rendah hati? Atau sebaliknya?

"Semakin berisi, semakin merunduk:" itulah filsafat padi yang menjadi inspirasi sikap kerendahan hati. Hal sebaliknya justru kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang semakin berilmu, berpangkat dan semakin kaya serta berkedudukan tinggi, cenderung semakin memperlihatkan gelagat dan sikap yang sombong, ingin dihormati, didahulukan dan disanjung.

Orang yang kokoh dari dalam, tidak perlu lagi memoles diri dari luar. Bila keyakinanan akan harga diri berakar kuat, tidak perlu lagi kita memburu hormat dari orang lain. Orang yang gila hormat, akan berpusat pada diri sendiri dan memakai orang lain sebagai sumber pengakuan bagi diri sendiri. Ia sering terlihat dalam sikap tidak tahu diri. YESUS mengecam sikap itu. Hanya orang yang sudah penuh dari dalam bisa sungguh merendahkan diri. Orang yang semacam itu ada hormat atau tidak, keluhuran diri tidak akan terusik. Merendahkan diri dihadapan TUHAN adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan!

Dalam Bacaan Pertama, Rasul Paulus melihat bahwa ketegaran hati dan kesombongan bangsa Israel sebagai umat pilihan ALLAH telah membuat Rakhmat ALLAH lebih banyak dialami dan dirasakan oleh bangsa-bangsa lain. Walaupun ALLAH tidak menolak umat-NYA, namun kesombongan dan keangkuhan telah membuat bangsa Israel melakukan banyak pelanggaran di Mata TUHAN. Meskipun demikian, ALLAH tetap setia: "Dari Sion akan datang Penebus, IA akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. Dan inilah perjanjian-KU dengan mereka, apabila AKU menghapuskan dosa mereka." (Rm. 11: 26-27).

Semoga kita belajar menjadi orang yang rendah hati, mendahulukan orang lain serta mengusahakan kebaikan bagi sesama. Semoga kita memberi yang terbaik bagi sesama, tanpa pamrih dan mencari pujian. Jangan sampai kita cari kedudukan, bahkan dalam kehidupan kita di tengah-tengah murid KRISTUS yang lain. Jangan sampai kita menjadikan Gereja atau agama sebagai tempat mencari status dan kedudukan. Maka jangan sampai kita lupa menjadi orang yang rendah hati!

Ya YESUS, terima kasih atas segala Rahmat dan kebaikan-MU berupa talenta yang ada pada diriku. Ajarilah aku untuk tetap rendah hati dan singkirkanlah segala akar kesombongan yang masih hidup dalam hatiku. Bunda Maria dan bapa Yusuf, latihlah diriku untuk selalu bersikap rendah hati seperti dirimu. Amin.

Selamat pagi. Selamat menjalankan aktivitas pada akhir pekan sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.

HUKUM KASIH : HUKUM YANG TERUTAMA.

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Minggu, 31 Oktober 2021.
Hari Minggu Biasa XXXI :
• Ul. 6: 2-6;
• Mzm. 18: 2-3a. 3bc-4. 47. 51ab;
• Ibr. 7: 23-28;
• Mrk. 12: 28b-34.

HUKUM KASIH : HUKUM YANG TERUTAMA.

Tahun 2003 ada seorang penyanyi dengan corak reggae dan pop. Ia seorang yang kocak dan dengan judul lagu yang sederhana. Lagunya yang ngetop antara lain Tak gendong, Bangun Tidur dan I love you fulll. Penyanyi yang gayanya eksentrik, unik dan lucu itu bernama Urip Achmad Riyanto (1957-2009) atau terkenal sebagai Mbah Surip. Mengapa ia cepat melejit dan terkenal? Karena lagunya sederhana dengan ungkapan yang jujur, apa adanya dan lucu. Lagu I love you fulll juga booming dan digemari banyak orang dari segala lapisan. Mengapa? Karena lagu itu bicara tentang tema yang universal yaitu cinta yang didambakan dan dibutuhkan oleh siapa saja. Ia berkisah tentang kasih yang membawa kesejukan dan damai bagi semua orang.

Inilah juga yang diminta TUHAN YESUS dalam perikop Injil hari ini: Kasihilah TUHAN, ALLAH-mu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Mrk. 12: 30. 31).
Dan dalam Injil Matheus dinyatakan bahwa pada kedua hukum itulah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para Nabi (lihat Mat. 22: 40).

Dengan demikian TUHAN ingin melihat cinta itu mempersatukan umat manusia, maka DIA memerintahkan saling mengasihi antar setiap manusia ciptaan-NYA. Tiada perbedaan. Tiada pengelompokan, tiada kelas, tiada warna.
Marthin Luther King menyatakan I have a dream: bahwa yang putih dan yang hitam, yang merah dan yang kuning duduk bersama.
Kalau diterjemahkan di Tanah Air kita: semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu benar-benar terwujud tanpa perbedaan dan tanpa pandang asal usul. Semua orang setara dan sama derajat. Benarkah cita-cita luhur itu saat ini sudah tercapai? Ataukah saat ini justru cenderung orang membangun "tembok pemisah" di dalam masyarakat?
Di manakah peran dan tanggung jawab kita?

Cinta tanpa pengorbanan hanyalah sekedar rasa enak dan rasa senang belaka. Besarnya korban binatang hanya akan menjadi sebuah pertunjukan saleh belaka bila hati manusia tidak terlihat dengan kesungguhan untuk mencintai TUHAN dan siap berkorban untuk sesama. 
TUHAN YESUS telah membuktikan Diri-NYA dikorbankan sehabis-habisnya di kayu Salib. Itu semua karena ketaatan-NYA dan Kasih-NYA kepada ALLAH dan manusia. DIA mati di Salib agar manusia ditebus. (lihat Bacaan kedua). Maka Hukum Cinta Kasih menjadi landasan dari segala hukum, agar dunia dan negara damai, segala sesuatu yang dilakukan demi kepentingan orang banyak dan mesti dijiwai oleh semangat cinta kasih. Sudahkah hal ini terlaksana dengan baik di negeri kita?

Ya TUHAN, ENGKAU-lah TUHAN-ku, ENGKAU-lah kekuatanku. Bantulah aku untuk lebih setia mengasihi-MU dan siap sedia untuk mengorbankan diriku demi kepentingan sesamaku. Mampukanlah aku menjadi pelaku Firman-MU. Amin.

Selamat pagi. Selamat merayakan Ekaristi Kudus secara offline atau online. Selamat berhari Minggu. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.