Latest News

Showing posts with label Forgive. Show all posts
Showing posts with label Forgive. Show all posts

Tuesday, August 24, 2021

Forgive And Forget

πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Kamis, 12 Agstus 2021. 
Hari Biasa Pekan Biasa XIX : 
• Yos. 3: 7-10a. 11. 13-17;
• Mzm. 114: 1-2. 3-4. 5-6;
• Mat. 18: 21 - 19:1.

"FORGIVE AND FORGET!"

Dunia ini memang kejam: kadang tidak ada pengampunan, tiada maaf dalam kehidupan bersama. Orang saling caci-maki, menghakimi dan membenci satu sama lain. Apalagi kalau kebencian itu dipicu oleh warna politis atau peninggalan sejarah masa lalu yang menyisakan luka-luka lama. Orang bisa jadi bertindak brutal atau bersikap seperti "tuhan-tuhan" kecil, yang menghakimi dan mencap "hitam pekat" bagi lawan-lawan politiknya. Prinsip kebenaran didasari oleh "pokoke" atau "pokoknya" sehingga menggusur nilai-nilai kebenaran yang hakiki. Nah, apakah kita para pengikut KRISTUS juga akan ikut-ikutan hanyut dalam arus "dunia tanpa pengampunan"?
Dalam perikop Injil pagi ini Petrus mendapatkan jawaban dari TUHAN YESUS atas pertanyaan: "TUHAN, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku, jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" YESUS berkata kepadanya: "Bukan! AKU berkata kepadamu: "Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali". (Mat.18:21,22).

Bagi Petrus, menghitung secara spontan tujuh puluh kali tujuh kali, mungkin membuat dia bingung. Maka jawaban YESUS itu mengandung makna bahwa mengampuni atau memaafkan saudara atau orang lain tidak dibatasi dengan jumlah dan hitungan secara kuantitatif, melainkan harus terus-menerus  dilakukan. Prinsipnya adalah sebagaimana ALLAH murah hati dan selalu mau mengampuni atas kesalahan dan dosa kita, begitu juga hendaknya kita bermurah hati untuk selalu rela memaafkan atau mengampuni sesama. 
Tuntutan YESUS untuk memberikan pengampunan tanpa batas sebetulnya mengalir dari suatu realita bahwa pengampunan itu pertama-tama memang merupakan suatu anugerah yang kita terima secara cuma-cuma. Lewat pengampunan, TUHAN YESUS mengingatkan kita bahwa utang dosa yang kita miliki tidak sebanding dengan utang dosa sesama kepada kita. Karena itu, seyogyanya kita juga rela mengampuni sesama kita dan melupakan semua kesalahan yang pernah mereka lakukan terhadap kita. 

Kalau kita pernah merasakan begitu dalam cinta dan belas kasih ALLAH yang menebus utang dosa kita dengan Darah PUTERA-NYA, maka kita pun hendaknya meneruskan kasih dan daya pengampunan itu kepada orang yang bersalah kepada kita. Kalau kita tidak mengampuni sesama, maka kita jangan mengharapkan pengampunan dari TUHAN! St. Yakobus dalam suratnya pernah mengatakan: "Penghakiman yang tak berbelaskasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelaskasihan." (Yak. 2:13). 

Pengampunan itu sungguh akan membebaskan orang yang kita ampuni dari beban batinnya yang memberatkan hatinya. Demikian pula orang yang mengampuni akan merasa "plong hatinya" dan bebas dari rasa jengkel, benci dan dendam. Maka timbullah rasa sukacita sejati dalam dirinya.

Ingat, TUHAN YESUS tidak hanya mengajar dan menganjurkan, tetapi IA sendiri memberi teladan nyata: Ketika tergantung di atas Salib menjelang wafat-NYA, IA mohon pengampunan bagi para algojo yang menyalibkan DIA dan orang-orang yang mengolok-olok dan menghujat-NYA: "Ya BAPA, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Luk. 23:34). Demikian pula seorang penyamun di sebelah kanan-NYA yang bertobat, DIA ampuni dan dijanjikan masuk ke dalam Firdaus bersama-NYA. 

Dalam Bacaan Pertama dikisahkan bahwa setelah Musa meninggal, maka pemimpin umat Israel menuju Tanah Terjanji telah ditunjuk ALLAH  sendiri, yaitu Yosua. ALLAH memerintahkan lewat Yosua agar orang-orang Yahudi setelah tiba di sungai Yordan supaya tetap berdiri di tepi sungai Yordan. Penyeberangan sungai Yordan adalah pintu masuk ke Palestina sama seperti penyeberangan Laut Merah yang merupakan rute keluar bangsa Israel dari Mesir. Kejadian-kejadian pada kedua tempat tersebut menakjubkan dan mempunyai arti yang sama. Bangsa Israel menyeberangi air laut dan sungai Yordan untuk dilahirkan kembali sebagai bangsa. Saat ini kita melihat penyeberangan Laut Merah dan sungai Yordan adalah sebuah simbol permandian kita.

Maka Yosua sebagai pemimpin yang baru menyampaikan perintah ALLAH: "Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu". Dan kepada para imam Yosua berkata: "Angkatlah Tabut Perjanjian dan menyeberanglah di depan bangsa itu." (Yos.3:5,6). ALLAH yang hadir dalam Tabut Perjanjian senantiasa akan tetap memimpin bangsa Israel, sekalipun sekarang pemimpinnya adalah Yosua.

Kuasa ALLAH mengatasi alam semesta. ALLAH bisa mengerjakan segala sesuatu di luar nalar dan kemampuan natural biasa. Kekuasaan yang demikian agung inilah yang dialami oleh bangsa Israel sepanjang perjalanan penyelamatan mereka. Itulah juga salah satu yang menandai Kemahakuasaan ALLAH.    
Dalam kehidupan pribadi, keluarga dan komunitas kita masing-masing, bahkan dalam kehidupan masyarakat dan bangsa kita, pastilah kita pernah atau bahkan sering mengalami Kemahakuasaan ALLAH itu. Apakah kita menyadarinya? Juga pada masa pandemi ini, percayakah kita akan Kemahakuasaan-NYA itu? Dan apa sikap kita terhadap sifat ALLAH serta Penyelenggaraan Ilahi-NYA itu? 

Ya BAPA, ENGKAU sungguh baik dan berbelas kasih terhadapku pribadi, keluargaku, komunitasku, masyarakatku dan bangsaku. Semoga aku juga bisa berbelas kasih kepada sesamaku seperti ENGKAU Sendiri telah memberikan teladan-MU. Bebaskanlah aku dari rasa dendam dan benci sehingga dari hati yang ikhlas, aku mampu memaafkan mereka yang pernah menyakiti hatiku. Bebaskanlah bangsa kami dari rasa saling benci dan dendam akan kesalahan sejarah masa lalu hingga timbullah suatu sikap  rekonsiliasi. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai Prokes dan aturan lain. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.