Latest News

Showing posts with label Kesatria Kristus. Show all posts
Showing posts with label Kesatria Kristus. Show all posts

Wednesday, August 25, 2021

KSATRIA KRISTUS.

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Selasa, 10 Agustus 2021.
Pesta St. Laurensius, Diakon - Martir : 
• 2Kor. 9: 6-10; 
• Mzm. 112: 1-2. 5-6. 7-8. 9;
• Yoh. 12:24-26.

KSATRIA KRISTUS.

Hari ini Gereja merayakan Pesta St Laurensius (+258), diakon dan pelayan setia Paus Sixtus II (257-258). Ketika Paus Sixtus II sedang merayakan Ekaristi di katakomben, tiba-tiba serdadu dari Kaisar menangkap semua orang di sana termasuk Paus, dan Paus dijatuhi hukuman mati. Laurensius yang dipercaya merawat harta milik Gereja, dipaksa oleh penguasa kota Roma untuk menyerahkan harta Gereja. Ia sanggupi tiga hari lagi, karena ia mau mengumpulkan semua  harta itu. Ternyata dalam tiga hari itu ia mengumpulkan semua pengemis, pemulung dan gembel-gembel kota Roma, dan mereka pergi beramai-ramai ke Perfectus Roma untuk menyerahkan diri sebagai "semua harta Gereja" itu. Dipicu oleh kemarahan yang membara maka Laurensius ditangkap dan dijatuhi hukum mati dengan cara dipanggang hidup-hidup. Dalam menjalani hukuman itu ia tetap tersenyum dan sempat bercanda kepada algojonya: "Balikkan badanku, supaya matang semua". Sebelum meninggal ia sempat berdoa untuk pertobatan kota Roma. Dan benar saja, ketika itu banyak orang yang minta dibaptis. Kesaksian iman Laurensius membanggakan semua saudara-saudaranya seiman dan memotivasi mereka untuk tetap percaya dan berpegang kepada KRISTUS. 

Laurensius dan para martir serta para Kudus adalah ibarat "biji gandum" yang harus mati untuk dapat berbuah. TUHAN YESUS dalam perikop Injil hari ini memberitakan kepada para murid mengenai kematian-NYA. Kata-NYA: "Telah tiba saatnya ANAK MANUSIA dimuliakan." (Yoh. 20:23). Namun, kata "dimuliakan" itu tidak dimaksudkan bahwa DIA di Yerusalem itu akan secara terus menerus disambut sebagai "Seorang Raja dengan segala kebesaran-NYA!" Benar bahwa akan dimuliakan, tetapi hal itu terjadi setelah IA mengalami kesengsaraan dan penderitaan hebat di luar batas kemanusiaan dan akhirnya IA rela mati secara hina disalibkan. Maka hari itu TUHAN sengaja menegaskan: "Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan banyak menghasilkan buah". (ayat 24).
YESUS adalah "Sang Biji Gandum itu!" DIA telah memberi teladan nyata: IA sendiri rela menderita, mengalami penyiksaan di luar batas kemanusiaan dan akhirnya mati secara lemas lunglai tergantung pada paku-paku salib. Semua itu DIA jalani demi keselamatan dan penebusan dosa semua orang dan seluruh umat manusia tanpa kecuali. 

Buah iman yang berlimpah tumbuh subur di daerah dan kawasan tempat tetesan-tetesan darah dan pengorbanan para martir dipenggal kepalanya, dibakar hidup-hidup, dicabik-cabik oleh singa buas dan dianiaya secara sadis. Darah dan seluruh hidup mereka itu dikorbankan demi kebenaran iman akan KRISTUS. Mereka itu adalah para Ksatria KRISTUS!

Dengan Pembaptisan itu berarti bahwa kita telah meninggalkan "manusia lama" dan lahir "manusia baru" dalam KRISTUS. Hal ini perlu kita sadari bahwa dengan jadi "manusia baru" kita dituntut untuk rela mati terhadap diri sendiri dan ego kita agar membuahkan kehidupan yang berlimpah bagi banyak orang. Sanggupkah dan bersediakah kita untuk "kehilangan nyawanya demi KRISTUS"? seperti Sabda-NYA: "Barang siapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal." (ayat 25).

Menjadi "martir modern" mungkin tidak perlu mengucurkan darah, dibunuh, dipenggal kepalanya atau dibakar hidup-hidup seperti St Laurensius. Menjadi "martir modern" harus dibuktikan secara nyata bahwa dirinya tidak mencari keuntungan pribadi, melainkan untuk kesejahteraan seluruh masyarakat; bahwa kepribadiannya adalah secara utuh membuktikan dirinya itu "orang bersih" dan "berintegritas": kata dan tindakannya benar-benar bisa dipercaya, perilakunya jujur, tidak doyan disuap/menyuap, tidak korupsi, berani bertanggungjawab dan berani mengambil resiko atas segala tindakannya, tidak merugikan banyak orang tetapi sebaliknya selalu mengusahakan kebahagiaan, kesejahteraan dan kedamaian bagi semua orang tanpa memandang suku, asal-usul, agama, pendidikan atau status sosial seseorang. Dengan kata lain "martir modern" adalah pribadi yang rela menekan "ego-nya" semaksimal dan seoptimal mungkin!
Apakah diri kita termasuk di barisan para "martir modern" ini? Dan tidakkah kita mau mencoba masuk di kalangan itu?

Rasul Paulus dalam Bacaan Pertama memberikan peneguhan agar pemberian diri, pengabdian dan pelayanan kita didasarkan atas kasih, dilakukan dengan sukacita, bukan karena terpaksa. Paulus mengingatkan: "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga. Dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan sebab ALLAH mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2Kor. 9:6,7).
Melayani dan mengasihi orang lain terutama mereka yang miskin dan berkekurangan merupakan panggilan dari TUHAN dan sekaligus kesempatan yang indah untuk membalas Kebaikan TUHAN, yang lebih dahulu melayani dan mengasihi kita. Melayani dan mengasihi orang yang membutuhkan berarti melayani dan mengasihi TUHAN sendiri. 
Cobalah kita buktikan pada masa pandemi ini untuk memperlihatkan kepedulian dan belarasa kita kepada mereka yang tengah sakit atau menderita akibat kerugian fatal dalam berusaha atau mengalami PHK serta banyak kepincangan sosial selama masa pandemi ini. Cobalah buktikan bahwa di mana ada seorang pengikut  KRISTUS, di situ ada kasih dan pelayanan sejati!

Ya YESUS, ENGKAU ingin agar aku menjadi "biji gandum" yang mati dan menghasilkan banyak buah di tengah masyarakatku. Bantulah aku dalam melaksanakan Sabda-MU yang tidak ringan itu. St Laurensius, tolonglah dan doakanlah aku. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai dengan Prokes dan aturan lain. AMDG. Berkat TUHAN.
PK/hr.