Latest News

Showing posts with label Mengasihi. Show all posts
Showing posts with label Mengasihi. Show all posts

Tuesday, August 24, 2021

Jati Diri Orang Kristiani: Mengasihi

 πŸ†πŸ…°πŸ…ΆπŸ…Έ Jumat, 20 Agustus 2021.
Hari Biasa Pekan Biasa XX
Peringatan St. Bernardus Abas dan Pujangga Gereja
• Rut.1:1.3-6.14b-16.22; 
• Mzm.146:5-10; 
• Mat. 22:34-40

Jati Diri Orang Kristiani: Mengasihi

Umat Yahudi didorong agar tindak-tanduk mereka sehari-hari selalu mengikuti hukum Taurat. Seluruhnya ada 613 perintah. Para ahli Taurat sibuk mendiskusikan, perintah mana lebih diutamakan bila dibandingkan satu dengan yang lain. Tetapi mereka tidak tahu apa patokan untuk mengukur peringkat suatu perintah. Dalam Injil hari ini, seorang ahli Taurat menanyakan masalah itu kepada Tuhan Yesus: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" (Mat 22:36)
    Yesus langsung menjawab pertanyaan itu dengan mengutip dua perintah dari kitab Ulangan dan Imamat. Yang pertama, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Yang kedua, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (lihat Ul. 6:5 dan Im. 19:18)
   Keduanya hukum lama. Hal yang baru dari Yesus adalah bahwa keduanya menjadi “satu hukum yang sama”. Keduanya saling melengkapi, yang satu tidak bisa dipisahkan dari yang lain. Tidak mungkin mengasihi Tuhan tanpa mengisihi sesama manusia, dan sebaliknya. 
    “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (ay. 40). Inilah patokan untuk mengukur peringkat berbagai perintah yang lain. Bagi kita, inilah perintah utama yang kita wujudkan lewat berbagai cara semampu “akal budi” kita.
Umat Kristiani didorong untuk mengasihi Allah sebab Ia telah lebih dulu mengasihi kita dengan menganugerahi kita pengampunan dosa, keselamatan, hidup baru dan kebahagiaan sejati. Dialah yang memelihara kita hingga sekarang ini. Kita bersyukur dan membalas kasih-Nya dengan meneruskan kasih itu kepada sesama.
    Kasih pada Tuhan bukanlah perasaan yang berkobar-kobar semata. Kasih terutama adalah relasi pribadi. Mengasihi Tuhan berarti kita menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan Dia, berusaha untuk semakin mengenal Dia, mendalami apa pesan dan kehendak-Nya untuk kita. 
    Mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati berarti kita setia memegang komitmen kita. Kita tetap mengasihi Dia meskipun doa kita tidak dijawab; kita tetap percaya pada Tuhan meski Ia mengatakan: “Tidak” atau “Tunggu”. Kita tetap percaya pada-Nya walau kita mengalami penderitaan, walau situasi sulit kita kelihatannya tak kunjung berubah, seperti pada masa pendemi ini.
    Bukti bahwa kita mengasihi Tuhan adalah bila kita mengasihi sesama. Kita ingat akan sabda Yesus: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu melakukannya juga untuk Aku.” (Mat 25). Mengasihi sesama yang paling hina itu identik dengan mengasihi Tuhan. 
    Kasih (agape) bukanlah perasaan romantis semata. Kasih adalah melakukan usaha serius demi kebaikan orang yang kita kasihi, tanpa memandang siapa orang itu, bahkan termasuk mereka yang memusuhi kita. 
    Apakah kasih seperti itu dapat kita lakukan dalam kehidupan nyata? Mari kita lihat contohnya dalam Bacaan Pertama, kasih Rut pada Naomi.

Ketika di Israel terjadi bencana kelaparan, Naomi bersama keluarganya mengungsi ke daerah Moab. Di negeri asing itu suami Naomi meninggal. Kedua anak laki-lakinya kawin dengan wanita Moab, tetapi kedua anaknya itu pun meninggal. Setelah keadaan di Israel membaik, Naomi memutuskan untuk kembali ke Yudea. Kedua menantunya, Orpah dan Rut, ingin ikut untuk menemani sang ibu. 
    Naomi mendesak mereka untuk pergi mencari suami lagi. Maka dengan isak tangis Orpah pun pergi. Naomi mendesak Rut untuk pergi juga, tetapi komitmen kasih Ruth pada mertuanya begitu kuat, katanya: 
"Ke mana engkau pergi,
ke situ jugalah aku pergi,
dan di mana engkau tinggal, 
di situ jugalah aku tinggal: 
bangsamulah bangsaku 
dan Allahmulah Allahku. 
(Rut 1:16).
    Kasih antara ibu mertua dan menantu jarang terjadi, apalagi jika keduanya berbeda bangsa, dan beda agama pula. Tetapi kasih Rut melintasi segala batas. Kesetiaan Rut pada Naomi merupakan wujud kasih yg mengatasi sekat-sekat SARA. Hal itu terjadi karena Rut adalah orang yg tidak dikuasai premordialisme tetapi selalu terbuka pada kebenaran dan kemanusiaan yg universal. Jauh di kemudian hari, Rut yang berhati mulia itu masuk dalam silsilah leluhur Raja Daud, juga leluhur Yesus Sang Raja Mesias. 

Hari ini peringatan wajib St. Bernardus (1090-1153), pejuang kasih lintas batas. Ia menjadi rahib di Citeaux, Prancis. Kemudian ia mendirikan biara sendiri di Clairvaux, dan biara ini melahirkan 68 biara lain. Bernardus hidup dalam masa suram: Gereja terpecah-pecah karena pertentangan berbagai kepentingan duniawi dan karena campur tangan para penguasa negara. Bernardus menjadi pejuang perdamaian antar-bangsa dengan berkeliling Eropa; ia pun menjadi penasihat para paus untuk memajukan persatuan Gereja. Selain itu, ia juga penulis ulung di bidang teologi, mengenai Kristus, Bunda Maria, dan mistik. Maka ia diberi gelar Pujangga Gereja.

Ya Tuhan, syukur atas tuntunan kasih-Mu. Kuatkan aku agar tetap setia mengasihi Engkau dan mewujudkan kasih itu dengan mengasihi saudaraku, terlebih yang menderita selama pandemi ini. Santo Bernardus, doakanlah kami. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas dengan mengikuti protokol kesehatan. AMDG. Berkat TUHAN.